02 November 2015

Pantai Apparalang, Pesona Surga Tersembunyi di Bulukumba

PANTAI APPARALANG - Staf IT Hotel Ibis Makassar City Center, Syahril Pabettai (empat dari kanan), saat foto bersama di Pantai Apparalang. Menurutnya, masih banyak yang belum mengetahui jika Pantai Apparalang memiliki pemandangan yang sangat indah. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Masih banyak yang belum mengetahui jika Pantai Apparalang memiliki pemandangan yang sangat indah. Hamparan tebing dan batu karang di pantai ini mengingatkan wisatawan akan pesona destinasi wisata ternama di Papua, Raja Ampat.
Kabupaten Bulukumba selama ini telah dikenal memiliki tempat wisata pantai pasir putih yang sangat indah, yaitu Pantai Bira. Selain itu, di daerah ini dapat dijumpai perakit kapal Phinisi yang sudah sangat ternama hingga ke mancanegara. Ternyata, bukan hanya itu yang dimiliki daerah tersebut. Sebelum menuju Pantai Bira, ada lokasi yang dilewati, yakni Pantai Apparalang. Staf IT Hotel Ibis Makassar City Center, Syahril Pabettai, beberapa waktu lalu mengunjungi tempat tersebut.
Pantai Apparalang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Pantai yang begitu mempesona ini memang berada di lokasi yang cukup terpencil, sehingga tidak banyak yang mengetahui ada tempat wisata yang masih jarang terjamah tangan jahil manusia. “Apparalang benar-benar layak menyandang gelar surga tersembunyi. Tidak mudah sampai di tempat ini, karena masih minimnya fasilitas dan informasi petunjuk jalan,” ungkapnya.
Jalanan sempit dan berbatu sepanjang 40 kilometer menjadi tantangan yang harus dilalui Syahril bersama teman-temannya selama perjalanan. Beruntung, hutan-hutan dengan pohon-pohon besar menjulang tinggi di kanan-kiri jalan cukup menghibur, khususnya bagi mereka yang hobi fotografi. Kesempatan itu digunakan untuk mengambil beberapa gambar guna diabadikan dalam kamera.
Ukuran sebuah destinasi wisata, Pantai Apparalang masih terbilang baru dan belum mendapat jatah promosi besar di kalangan traveler. Tidak seperti “kakak sulungnya” Pantai Bira yang sudah sangat dikenal wisatawan domestik maupun mancanegara. Akan tetapi, jika diperhatikan saksama, tempat wisata ini akan mengeluarkan pesona Raja Ampat, tempat wisata ternama di Papua.
“Untuk bisa sampai ke Apparalang, wisatawan harus menempuh perjalanan dari Kota Makassar ke Kabupaten Bulukumba dengan jarak 160 kilometer, atau sekitar lima jam menggunakan roda empat. Setelah itu, traveler harus menempuh kembali perjalanan jalur darat ke Desa Ara yang memakan waktu kurang lebih satu jam. Bagi yang menggunakan transportasi umum, sebaiknya menyiapkan uang minimal Rp 200 ribu per orang untuk kebutuhan makan dan tarif transportasi,” pesan Syahril.  
Saat berkunjung ke Apparalang, ia dan rombongan menemukan indahnya hamparan tebing dan juga batu karang. Yang paling menyejukkan mata adalah air laut yang luar biasa jernihnya dan masih sangat alami. Laut biru jernih dengan gradasi kehijauan menampakkan pemandangan bagian dasarnya. Aroma laut menyeruak masuk ke rongga hidung, ditemani segarnya embusan angin yang bertiup. Tempat ini sangat cocok bagi mereka yang ingin sejenak menghilang dari hiruk pikuk kota.
Pantai ini pertama dirintis pada 2011 oleh warga setempat, Amiruddin Rasyid. Namun, baru dipopulerkan kepada masyarakat pada 2014, setelah berhasil membuka akses jalan dari Desa Ara ke Pantai Apparalang.
Pengelola Apparalang sebenarnya memiliki fasilitas snorkeling bagi pengunjung yang menyukai aktivitas selam. Namun, karena ombak yang “ganas” saat itu, tidak ada satu pun pengunjung yang berani turun.
Pengunjung yang kebanyakan warga lokal sebagian duduk beristrahat di beberapa gazebo, ada yang berdiri di tepi tebing untuk mengabadikan suguhan alam yang indah itu. Beberapa di antaranya bercengkerama di atas batuan karang berukuran besar, sambil menikmati sejuknya angin yang berembus, ataupun sekadar berfoto selfie dengan mengambil latar laut biru.
Agar dapat menikmati deburan ombak yang mengempas karang secara dekat, ataupun ingin terjun membelah laut dan merasakan sejuk dan beningnya air, maka pengunjung harus menuruni sebuh tangga kayu yang lumayan tinggi. Di sana, dapat dijumpai anjungan dari kayu yang berdiri dan dipasang rapi di atas batu-batu karang.
Bagi pengunjung tak hanya dapat menikmati pemandangan pantai yang indah, tetapi juga merasakan suasana hutan yang jauh dari kebisingan. Hutan di Apparalang belum pernah sama sekali dikelola warga, sehingga terlihat lebih alami. Selain itu, terdapat lahan pertanian sebelum masuk ke objek wisata tersebut. Lahan pertanian tersebut kerap ditanami jagung oleh warga setempat.
Bagi pecinta fotografi, Pantai Apparalang merupakan tempat yang tepat untuk membidik setiap momen dalam frame kenangan. Setiap sudutnya memiliki keindahan tersendiri, tergantung cara masing-masing traveler memandangnya. Selain itu, bagi yang ingin menguji adrenalin, melompat dari atas tebing adalah salah satu aktivitas yang menantang.
Sewaktu Syahril ke sana, belum ada retribusi resmi yang dikenakan kepada traveler. Pantai Apparalang sepertinya memang belum tersentuh Dinas Pariwisata setempat. Tangga kayu menuju dermaga dibangun Dinas Kelautan, karena tidak jauh dari pantai terdapat menara pandang untuk memantas aktivitas penangkapan ikan di laut. Beberapa masyarakat sekitar hanya memanfaatkan tarif parkir pengunjung yang biasanya datang berlibur di akhir pekan.

Menyantap Gogos dan Telur Asin

Di Apparalang, ada beberapa warga lokal yang mendirikan warung-warung. Mereka menyajikan makanan ringan bagi pengunjung yang ingin melepas lelah selama berkunjung ke Apparalang. Salah satunya adalah makanan tradisional khas Sulsel, gogos. Bahan dasar penganan ini adalah ketan hitam yang dibungkus daun pisang (mirip  lontong), kemudian dipanggang atau dibakar.
“Meskipun gogos kemasannya kurang menarik, tetapi kalau sudah masak dan disantap, rasanya luar biasa menggoda. Kalau di tempat lain, biasanya dibakar menggunakan bambu agar daun pisangnya tidak rusak. Tetapi di sini, langsung dibakar tanpa menggunakan bambu. Kebanyakan gogos dijual sepaket telur asin yang juga diracik secara tradisional,” terang Syahril.
Karena keterbatasan fasilitas, waktu itu ia bersama rombongan sengaja membawa makanan ke Apparalang. Belum ada larangan dari pihak pengelola untuk membawa makanan dari luar.
“Bagi yang merasa lelah selama perjalanan, di Apparalang sudah dapat dijumpai beberapa bungalo maupun resort. Biaya sewanya cukup murah, sekitar Rp 300 ribu per kamar untuk satu malam. Mengisi liburan akhir pekan, saat itu kami menginap selama dua malam,” imbuh Syahril.