22 November 2015

Ora Beach Surga Tersembunyi di Maluku

ORA BEACH - Corporate Communication Telkomsel, Kurniawan Iskandar, saat berfoto di Ora Beach. Ora Beach menawarkan fasilitas penginapan yang unik, yaitu penginapan yang berbentuk rumah panggung dan mengapung di atas laut. Di sini, traveler juga dimanjakan pemandangan bawah laut. Biota laut yang mempesona terlihat jelas karena air yang begitu jernih. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Jika ingin menikmati suasana pantai yang indah seperti yang ada di Maldives, tidak perlu jauh ke sana. Ora Beach di Maluku menawarkan pesona surga yang masih tersembunyi dan belum banyak dijamah orang.
Berawal dari obrolan basa-basi di grup WhatsApp, Corporate Communication Telkomsel, Kurniawan Iskandar bersama teman-temannya, nekat membuat agenda perjalanan mendadak dari Makassar ke Ora Beach, Maluku. Untuk mematangkan perjalanan ini, selama tiga hari dua malam ia sibuk mencari informasi mengenai tempat yang dituju.
Diputuskanlah berangkat flight pertama, Jumat, pukul 05.00 Wita dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin menuju Bandara Pattimura, Ambon menggunakan pesawat Lion Air. Alasan mengambil flight pertama, karena mengejar jadwal kapal feri di Pelabuhan Tulehu yang hanya sekali sehari pada pukul 09.00 Wita.
Sampai di bandara Pattimura Ambon, sehabis sarapan, Kurniawan bersama  teman-teman langsung melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Tulehu menggunakan mobil rental. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam dari bandara menuju ke sana. Dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari Pelabuhan Tulehu, akan tetapi lautnya masih sangat bersih sehingga ikan-ikan yang berkeliaran dapat terlihat jelas.
Setelah sampai di Pelabuhan Tulehu, ia menumpang Kapal Cepat Cantika Express menuju Pelabuhan Amahi, Kabupaten Masohi, Pulau Seram. Dengan alasan ingin beristirahat dengan tenang, waktu itu ia memilih kelas VIP Rp 110 ribu yang dilengkapi fasilitas AC, CCTV, dan TV. Kesempatan itu juga digunakan untuk berfoto di atas kapal, dengan latar belakang pemandangan eksotis pulau-pulau yang dilalui menuju Masohi. Perjalanan ditempuh sekitar dua hingga tiga jam.
Tiba di Pelabuhan Amahi, Masohi, mereka sudah ditunggu sopir dan mobil rental yang siap mengantar menuju Desa Sawai. Perlu diperhatikan, sebaiknya sebelum menuju Masohi, wisatawan yang ingin ke sana sudah harus menghubungi mobil rental dan menawar harga. Biasanya harga yang dipatok Rp 500 ribu-Rp 1 juta per hari sudah termasuk sopir.
Perjalanan dari Masohi menuju Desa Sawai ditempuh kurang lebih empat hingga lima jam, dengan melewati Taman nasional Manusela yang masuk dalam konservasi hutan lindung Indonesia. Jika beruntung, wisatawan dapat melihat secara langsung burung endemik Maluku, Cendrawasih. Sebelum jalan, sebaiknya minum obat antimabuk, karena perjalanannya cukup berkelok-kelok.
Setelah melalui perjalanan yang panjang, sampailah Kurniawan di Desa Sawai, Pulau Seram. Di sana, ia menginap di penginapan Lisar Bahari. Dari tempat tersebut, dapat jelas terlihat pemandangan sunset yang luar biasa. Lisar Bahari dapat menjadi alternatif pilihan bagi yang memiliki budget minim, tetapi ingin tetap mengeksplorasi keindahan Pulau Maluku, termasuk Pantai Ora. Sehari menginap Rp 250 ribu per orang (harga Oktober 2014), sudah termasuk makan tiga kali sehari.
Untuk menjelajahi pulau-pulau di sekitar Sawai, Lisar Bahari juga menyediakan fasilitas sewa boat kecil yang bisa digunakan sebagai alat transportasi untuk mengelilingi pulau sekitar Sawai, termasuk Pantai Ora. Biaya sewanya sekitar Rp 700 ribu per hari, sudah termasuk bensin dan guide-nya.
Perjalanan menjelajahi Maluku dimulai dari Sungai Salawai. Di sekitar tempat ini banyak ditumbuhi sagu. Di tempat itu, traveler juga bisa melihat langsung proses pembuatan sagu secara tradisional yang dibuat penduduk lokal.
Spot pertama yang ia nikmati adalah Puputi dive atau snorkeling spot, yang banyak ditumbuhi koral-koral cantik. Karena takut merusak karang, kapal yang dipakai diparkir di salah satu batu besar, sekaligus sebagai titik start menyelam.
Salah satu yang istimewa dari trip sederhana di Lisar Bahari adalah makan siang di Pulau Sapulea, yang terletak dekat dengan spot diving. Ini juga trik menghemat waktu untuk tidak kembali ke penginapan saat makan siang.
Ora Beach sebenarnya tidak jauh dari penginapan Kurniawan dan teman-temannya. Hanya butuh waktu 10 menit untuk sampai di sana. Akan tetapi, karena tujuannya bukan hanya itu, jadinya mereka menjelajahi dulu tempat yang agak jauh sebelum ke tujuan utama.
“Untuk bisa merasakan keindahan pantai kelas dunia seperti Maldives dan Bora-bora, tidak perlu jauh ke sana, cukup ke Ora Beach. Karena Pantai Ora juga bisa memberikan keindahan alam yang mempesona dan tidak kalah dari dua tempat tersebut,” pesannya.
Ora Beach menawarkan fasilitas penginapan yang unik, yaitu penginapan yang berbentuk rumah panggung dan mengapung di atas laut. Di sini, traveler juga dimanjakan pemandangan bawah laut. Biota laut yang mempesona terlihat jelas karena air yang begitu jernih. “Kami dapat langsung melihat keindahan terumbu karang dan koral pantai yang beragam, ditambah warna-warni ikan-ikan yang berenang di sekitarnya,” imbuh Kurniawan.
Hanya terdapat satu unit resort di Ora Beach, Ora Beach Resort. Ora Beach Resort memiliki enam buah cottage yang terbuat dari kayu dan beratapkan jerami. Lokasi Ora Beach Resort ini juga terpencil, jauh dari keramaian dan hiruk-pikuk perkotaan, sangat cocok untuk yang suka ketenangan.
Saat malam hari, wisatawan dapat mendengar deru ombak dan juga menikmati indahnya langit yang dihiasi bintang-bintang. Saat pagi tiba, langsung disambut suasana Pantai Ora yang menakjubkan, air laut yang jernih, serta udara pagi yang segar.
Biaya penginapan di Ora Beach Resort tidak dihitung berdasarkan biaya per kamar, namun dihitung dari biaya per orang. Harga pun berubah-ubah sesuai musim. Adapun kisaran sewa Rp 750 ribu-Rp 1.500.000 per hari. Harga tersebut sudah termasuk biaya makan tiga kali sehari, dan juga biaya transportasi dari Pelabuhan Tulehu. Bagi yang memiliki budget terbatas, tidak perlu menginap di Ora Beach.