17 November 2015

Migas, Menggali Potensi yang Tersembunyi

MIGAS - Tantangan bangsa Indonesia adalah menjadikan potensi sumber daya yang terkubur di perut bumi menjadi cadangan energi yang dapat langsung dinikmati masyarakat luas. Meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) adalah hal yang mudah dan retorik, namun tak gampang direalisasikan. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Moratorium energi nasional adalah salah satu hal yang harus dipertimbangkan untuk membangun bangsa yang berdaulat. Tujuan kebijakan energi nasional tersebut adalah untuk mencapai keamanan energi (security of energy). Agar terwujud, perlu implementasi dari pemerintah dan masyarakat di Tanah Air.
Dengan kemajuan ekonomi mencapai sekitar enam persen di 2014, posisi Indonesia di dunia global kini lebih dihormati. Pertumbuhan ekonomi cukup tinggi tersebut ditambah pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia sebesar 1,5 persen, maka konsekuensinya adalah kebutuhan energi yang besar. Dengan demikian, diproyeksi laju pertumbuhan kebutuhan energi mencapai 7,1 persen. Sehingga kebutuhan akan energi ini harus disertai produksi yang semakin besar pula.
Tantangan bangsa Indonesia adalah menjadikan potensi sumber daya yang terkubur di perut bumi menjadi cadangan energi yang dapat langsung dinikmati masyarakat luas. Meningkatkan produksi minyak dan gas (migas) adalah hal yang mudah dan retorik, namun tak gampang direalisasikan. Hal ini lantaran kembali pada sifat dasar atau karakteristik bisnis migas yang memiliki kerumitan tinggi. Mulai modal, risiko, teknologi, hingga pengalaman mumpuni terkait migas, semuanya harus dipenuhi jika ingin terjun dan total dalam upaya meningkatkan produksi migas.
Padat modal, padat risiko, padat teknologi, dan padat pengalaman. Jika belum memiliki empat hal tersebut, beberapa ekonom mengimbau lebih baik jangan berpikir untuk terjun ke bidang ini. Kendati demikian, mereka juga mengapresiasi beberapa korporat yang berani bermain dengan risiko besar. Bahkan, tidak gentar kehilangan dana hingga triliunan rupiah.
Mendukung hal tersebut, kebijakan migas berfungsi sebagai alat untuk menjamin ketersediaan pasokan migas, menjaga kestabilan harga, serta merumuskan kebijakan distribusi agar siklus permintaan dan penawaran di bidang migas berlangsung lancar. Harapannya, di masa yang akan datang, Indonesia mampu menerapkan energy mix. Hal ini penting agar konsumsi bahan bakar minyak (BBM) tidak terlampau boros, dan bisa dialihkan ke sumber energi lainnya. Ini juga terkait kebijakan penghematan, yaitu kurangi konsumsi BBM serta lakukan diversifikasi ke gas dan batu bara.
Terkait diversifikasi energi atau energy mix, pemerintah menargetkan di masa yang akan datang konsumsi minyak yang tadinya mencapai 46,77 persen akan berkurang hingga 20 persen, sementara konsumsi gas yang tadinya 24,29 persen akan naik hingga 30 persen. Selain itu, untuk sumber energi batu bara dari sebesar 23 persen didorong hingga mencapai 33 persen. Sisanya, sebesar 17 persen ditargetkan berasal dari energi baru dan terbarukan.
Saat ini, Indonesia membutuhkan ahli-ahli baru untuk menangani persoalan energi baru dan terbarukan. Shale gas dan coal bed methane (CBM) adalah jenis energi baru yang berpotensi dikembangkan, di mana opsi terakhir barulah menggunakan energi nuklir. Selain itu, letak geografis Indonesia yang berada di antara dua samudra, arus laut dalam Indonesia menjadi sumber energi terbarukan yang potensial selain potensi geothermal sebesar 40 persen dari seluruh dunia.