17 November 2015

Migas KTI

SDA - Di antara semua negara di Asia Tenggara, Indonesia dikaruniai sumber daya alam (SDA) melimpah. Sumber daya migas diperkirakan mencapai 87,22 milliar barel dan 594,43 Trillion Square Cubic Feet (TSCF) tersebar di Indonesia. Ini menjadikan Indonesia menjadi tujuan Investasi yang menarik di sektor migas. BLOGKATAHATIKU/IST
Migas KTI
Menilik Potensi yang Tersembunyi

BLOGKATAHATIKU - Berdasarkan penelitian pelaku industri, potensi minyak dan gas (migas) di kawasan timur Indonesia (KTI) lebih besar dibandingkan kawasan barat Indonesia. Hal tersebut tentunya tak terlepas dari berbagai permasalahan. Ini menjadi tugas pemerintah bersama Komunitas Migas Indonesia (KMI) untuk memajukan industri migas di Indonesia.
Di antara semua negara di Asia Tenggara, Indonesia dikaruniai sumber daya alam (SDA) melimpah. Sumber daya migas diperkirakan mencapai 87,22 milliar barel dan 594,43 Trillion Square Cubic Feet (TSCF) tersebar di Indonesia. Ini menjadikan Indonesia menjadi tujuan investasi yang menarik di sektor migas.
Peluang investasi pengembangan industri migas di Indonesia, dari hulu sampai hilir masih sangat menjanjikan. Secara geologi, Indonesia mempunyai potensi ketersediaan hidrokarbon yang cukup besar. Rencana pemerintah untuk mempertahankan produksi minyak bumi pada tingkat satu juta barel per hari, tentu akan memberikan peluang investasi yang besar di sektor hulu migas.
Potensi sumber daya migas nasional saat ini masih cukup besar, terakumulasi dalam 60 cekungan sedimen (basin) yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Dari 60 cekungan tersebut, 38 cekungan sudah dilakukan kegiatan eksplorasi dan sisanya sama sekali belum dilakukan eksplorasi. Dari cekungan yang telah dieksplorasi, 16 cekungan sudah memproduksi hidrokarbon, sembilan cekungan belum diproduksi walaupun telah diketemukan kandungan hidrokarbon, sedangkan 15 cekungan sisanya belum diketemukan kandungan hidrokarbon.
Kondisi itu menunjukkan peluang kegiatan eksplorasi di Indonesia masih terbuka lebar, terutama dari 22 cekungan yang belum pernah dilakukan eksplorasi. Sebagian besar potensi tersebut berlokasi di laut dalam (deep sea), khususnya yang ada di KTI.
Sebagian besar lokasi cekungan yang menarik untuk pengembangan terletak di KTI, dan berlokasi di offshore. Di antara lokasi cekungan sedimen tersebut berada di sekitar Pulau Sulawesi Offshore, Nusa Tenggara Offshore, Halmahera dan Maluku Offshore, serta Papua Offshore.
Hal tersebut diakui Direktur PT FD Timur Energi, Dedy Irfan B, saat ditemui belum lama ini di Mama Cafe, Jalan Bau Mangga, Makassar. Dijelaskan, potensi cadangan migas di Indonesia bagian barat relatif lebih kecil dibandingkan KTI. Akan tetapi, untuk melakukan eksplorasi di Indonesia bagian barat, jauh lebih mudah dibandingkan yang ada di KTI. Itu karena data awal sudah ada di pemerintah, sebagaimana diturunkan dari pemerintah Belanda dulu. Data tersebutlah yang dijadikan landasan para pelaku bisnis untuk melakukan eksplorasi.    
Sementara untuk KTI, data yang ada belum terlalu banyak. Sehingga kegiatan eksplorasi menjadi sangat penting guna menghasilkan data terkait potensi yang ada. Tantangannya, struktur geologi di KTI yang jauh lebih kompleks dibandingkan Indonesia bagian barat. “Di KTI, potensi migas yang terbukti adalah gas lebih besar dibandingkan minyak,” terang Dedy, yang juga dipercaya menjadi Ketua Panitia Simposium Nasional Migas Indonesia, yang dilaksanakan KMI cabang Makassar.
Potensi migas di Indonesia bagian barat, 80 persen berada di daerah darat. Itu mengakibatkan cost eksplorasi jauh lebih murah, dibandingkan KTI yang 80 persen berada di laut, dengan biaya yang dikeluarkan untuk melakukan eksplorasi lebih mahal. Itu yang menjadi tantangan sektor migas di Indonesia.
Meskipun harus mengeluarkan investasi lebih besar, tren investasi saat ini sudah bergeser dari Indonesia barat ke timur. Menurut Dedy, berbagai hambatan, baik di tingkat pusat maupun daerah dalam merealisasikan proyek migas ini dapat dicarikan solusi. Jika perlu, diberikan insentif agar investor tertarik untuk tetap berinvestasi. Dampaknya, tentu akan dirasakan masyarakat di KTI.
Gagasan inilah yang dibahas dalam Simposium Nasional Migas, dan diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi industri migas nasional yang cukup banyak dikeluhkan pelaku usaha di Indonesia. Simposium tersebut diharap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya di Sulsel namun secara keseluruhan di KTI.
KMI terbentuk 20 tahun lalu, saat ini dipimpin S Herry Putranto. Organisasi ini sudah beranggota 17 ribu member yang tersebar bukan hanya di Indonesia, tetapi juga pengusaha asal Indonesia yang ada di luar negeri. Di Sulsel, KMI dipimpin pengusaha Ilham Hasan. KMI cabang Sulsel berdiri sejak delapan tahun lalu hingga saat ini sudah masuk periode kedua.
Bukan hanya pelaku bisnis migas yang tergabung dalam KMI, tetapi juga ada akademisi, mahasiswa, dan semua pihak yang peduli terhadap perkembangan migas. Anggota KMI di luar negeri, banyak tersebar di Arab Saudi, Yaman, Oman, dan sebagainya. Rata-rata, mereka menjadi pakar tenaga migas di negara tempatnya bekerja.
KMI cabang Sulsel sudah banyak melaksanakan kegiatan, khususnya sosialisasi terkait potensi dan perkembangan migas di Indonesia timur, khususnya Sulsel. Kegiatan tersebut di antaranya forum kuliah tamu di beberapa universitas. Mereka menggandeng pakar-pakar migas maupun alumni di sebuah universitas, yang diajak untuk mengajar di kampus mereka dulu. Selain itu, KMI juga telah memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi, dalam sebuah kegiatan bertajuk “KMI Goes to Campus”.
Sinergi dengan pemerintah juga dilakukan KMI, dan juga mendapat respons yang baik. Isu yang diusung saat ini adalah rencana KMI untuk mendukung program pemerintah, yaitu city gas. City gas adalah program pemerintah untuk melakukan konversi dari minyak yang berbiaya cukup mahal, dan menggantinya menjadi gas. Kota Makassar diusulkan menjadi menjadi percontohan untuk menggunakan bahan bakar gas. Mulai transportasi publik, kendaraan umum, kendaraan pemerintah, maupun kendaraan nelayan, semua akan diganti menggunakan bahan bakar gas yang lebih ramah lingkungan.

KMI Gelar Simposium Migas

Pembangunan ketahanan energi nasional, terutama di sektor minyak dan gas bumi, memiliki nilai strategis sangat tinggi. Sampai saat ini, hal tersebut masih menjadi tulang punggung untuk mendukung pembangunan sektor lain. Untuk mensukseskan hal tersebut, seluruh elemen masyarakat harus saling mendukung demi tercapainya peningkatan ketahanan energi nasional.
Berangkat dari itu, Komunitas Migas Indonesia (KMI) cabang Sulsel, bekerja sama Universitas Hasanuddin (Unhas), PT Pertamina (Persero), dan Perusahaan Listrik Negara (PLN), menggelar kegiatan Simposium Nasional Migas pada 25-26 Februari di Hotel Grand Clarion, Makassar. Tema yang diangkat adalah “Perkembangan, Potensi, dan Tantangan Sektor Migas Nasional Kawasan Timur Indonesia”.
Ketua KMI, S Herry Putranto, dalam rilis yang diterima, mengungkapkan, gagasan yang dibahas dalam simposium diharapkan dapat menjawab berbagai permasalahan yang dihadapi industri migas nasional. Selama ini, kendala teknis maupun nonteknis cukup banyak dikeluhkan pelaku usaha migas Indonesia.
Kegiatan ini melibatkan berbagai elemen, antara lain lembaga atau instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah yang memiliki kompetensi terhadap industri minyak dan gas bumi Indonesia. Selain itu, juga mengikutsertakan praktisi dan pelaku usaha industri minyak dan gas bumi, tenaga pendidik profesional, mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan praktisi media massa. “Jumlah peserta ditargetkan sekitar 400-700 orang,” ujar Sekretaris Panitia, Zulqadar Mursida.
Simposium nasional yang digelar selama dua hari, membawakan materi kebijakan pembangunan migas nasional di hari pertama. Pemateri yang terlibat pada sesi ini Komisi VII DPR RI, pengamat hukum migas Universitas Indonesia (UI), Dewan Energi Nasional, Ketua Reformasi Tatakelola Migas, Badan Pertahanan Nasional, Ikatan Ahli Fasilitas Produksi Minyak dan Gas Bumi, Polri, dan guru besar Unhas.
Kegiatan eksplorasi, produksi migas, dan tantangannya menjadi materi yang dibawakan pada hari kedua. Pemateri yang terlibat, staf ahli SKK Migas, Kepala Dinas Keteknikan G&G Divisi Eksplorasi SKK Migas, Country Manager Murphy Oil Indonesia, Badan Geologi Indonesia, PT Medco Energi Internasional, Energy Equity Epic (Sengkang), Perusahaan Gas Negara, Kementerian ESDM Indonesia, HESS Indonesia Ltd, Conoco Philips Indonesia, dan PT Chevron Indonesia Company.