22 November 2015

Menjepret Laba Bisnis Fotografi

USAHA FOTOGRAFI - Sebagian pelaku usaha fotografi yang belum memiliki studio permanen untuk menjalankan usahanya, biasanya memilih menggunakan media sosial (medsos) internet untuk berpromosi. Seperti yang dilakukan The Nassami Creative, yang banyak menggunakan medsos untuk mempromosikan usahanya. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Musim hujan yang sudah di depan mata, bagi sebagian besar masyarakat Makassar dianggap sebagai momen untuk melangsungkan pesta pernikahan. Hal tersebut dijadikan sebagai ladang untuk mencari rezeki bagi pelaku usaha fotografi.
Bulan ini sudah mulai banyak undangan pernikahan. Apakah masuk musim bulan baik, atau karena bertepatan masuknya musim hujan? Dari dulu di Makassar, sudah menjadi budaya, banyak pernikahan dilaksanakan pada saat memasuk musim hujan, bahkan hingga hujan deras mengguyur tanah.
Meskipun kadang sampai ada peristiwa banjir, tidak mengurangi nilai kesakralan sebuah pesta yang menyatukan sepasang kekasih tersebut. Pernikahan sudah dijadikan sebagai momen istimewa yang tidak mungkin terlupakan sepanjang hidup bagi setiap pasangan. Peristiwa istimewa ini tentu tidak bisa diputar lagi di masa mendatang. Momen penting itu hanya bisa teringat kembali, dengan melihat fotonya yang bisa menjadi kenangan seumur hidup. Menyewa jasa foto profesional tentu menjadi pilihan para pasangan untuk mendokumentasikan pernikahan mereka.
Tidak heran, bisnis fotografi tumbuh sangat subur di Makassar. Para pemain bisnis ini kebanyakan pemilik foto studio yang juga menyediakan layanan lain, seperti pre-wedding outdoor dan indoor, foto ulang tahun, foto produk, dan foto event. Di tengah ketatnya persaingan, mereka berlomba menawarkan sesuatu yang baru, unik, kreatif, serta inovatif.
Salah satu penyedia jasa fotografi di Makassar adalah Belle Emilie Photography. Menurut pemiliknya, Muhammad Fadli Tadjuddin, studio fotonya mulai dibuka sejak awal 2015. Untuk melayani konsumen, setiap hari Fadli dibantu delapan orang tenaga lepas. Sebelum membuka studio foto, ia lebih banyak menjadi tenaga kerja lepas pada beberapa studio foto. Dari sanalah ia mulai belajar bagaimana cara mengelola bisnis fotografi.
Dengan modal sekitar Rp 200 juta, di luar kamera, Fadli mulai menjalankan usaha studio fotonya. Awalnya masih kongsi dengan teman, akhirnya dijalankan secara mandiri. “Modal membuka studio foto didapatkan dari hasil menjual kamera, ditambah bantuan dana dari keluarga,” ungkapnya.
Selain kamera, investasi paling besar untuk membuka sebuah studio foto adalah perlengkapan dekorasi. Dalam sebulan, Belle Emilie Photography menargetkan mendapatkan maksimal lima proyek. Apabila ada permintaan lebih dari itu, mereka dengan tegas menolaknya. Alasan Fadli adalah untuk menjaga kualitas produk yang akan diberikan kepada konsumen. Pasalnya, ia tidak akan menerima pesanan proyek melebihi kapasitas yang dimiliki tenaga kerjanya. 
Di bisnis foto, ia menawarkan banyak paket pilihan, baik pernikahan, foto booth, wisuda, ulang tahun, maupun event. Untuk pernikahan, Misbah menyediakan jasa, mulai foto pre-wedding, “mappacci”, ijab kabul, hingga resepsi pernikahan. Untuk jasa foto pre-wedding, konsumen bebas memilih mulai konsep indoor maupun outdoor atau keduanya.
Namanya saja usaha baru, maka harga yang ditawarkan juga masih terjangkau guna memperkenalkan studio fotonya kepada masyarakat. Fadli memaparkan, untuk foto wedding dibanderol sekitar Rp 3 juta-Rp 15 juta. Saat ini sedang ada promo paket foto wedding, sudah termasuk gratis video dan satu sesi foto pre-wedding di studio. Untuk harga normal, setiap layanan memiliki harga masing-masing. Kalau konsumen meminta foto pra wedding outdoor, tentu ada harga tersendiri.
Lain lagi dengan kebutuhan foto wisuda, sementara ini juga ada harga promo mulai Rp 200 ribu, konsumen sudah bisa foto dua frame, yaitu foto sendiri juga bersama keluarga. Itu sudah termasuk gratis biaya cetak dan bingkai dengan ukuran 8R. Jika mereka mau cetak dengan ukuran yang lebih besar, tentu akan ada biaya tambahan.
Fadli membeberkan, dari semua layanan fotografi yang dipasarkan, segmen yang paling berkontribusi adalah foto booth dan pernikahan. Harga foto booth tergantung permintaan klien dan event apa yang dilaksanakan. Jika konsumen meminta jumlah foto yang dicetakkan hanya 100 lembar, maka harganya Rp 1,2 juta.
“Sementara, untuk jumlah 300 lembar harganya Rp 2 juta. Jadi selisih harga tidak terlalu jauh. Itu sudah termasuk penyediaan backdrop untuk foto. Apabila konsumen mengambil paket jasa foto wedding dan pre-wedding, maka akan diberikan harga khusus Rp 2 juta untuk foto booth, dengan jumlah unlimited,” tandasnya.

Memasarkan Lewat Medsos

Pada tahap awal bisnis fotografi, kebanyakan pelaku usaha memulai dari segmen pelanggan retail, seperti terima jasa foto wedding, pre-wedding, dan ulang tahun.  Para fotografer yang sudah mulai mapan, biasanya sudah naik kelas dengan melayani foto studio dan korporat.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana metode pemasaran, dan media apa yang digunakan untuk berjualan. Usaha jasa fotografi yang telah memiliki tempat permanen, dengan sistem manajerial yang sudah tertib, sudah menggunakan jasa marketing untuk memasarkan produk yang dijualnya.
Sebagian pelaku usaha fotografi yang belum memiliki studio permanen untuk menjalankan usahanya, biasanya memilih menggunakan media sosial (medsos) internet untuk berpromosi. Seperti yang dilakukan The Nassami Creative, yang banyak menggunakan medsos untuk mempromosikan usahanya. Beberapa hasil karya fotografer mereka dipamerkan di Facebook dan Instagram. Harapannya, dengan melihat foto-foto tersebut, konsumen akan tertarik menggunakan jasa usaha ini.
Menurut Owner The Nassami Creative, Ayat, bisnis jasa fotografi ini dijalankan bertiga bersama temannya. Sengaja dipasarkan melalui medsos karena sebenarnya para pemilik sudah memiliki pekerjaan lain. Akan tetapi, meskipun sebagai “second job”, usaha ini tetap dijalankan dengan serius lantaran dapat memberikan hasil yang juga tidak bisa dikatakan sedikit setiap bulan.
“Setiap bulan kami hanya melayani maksimal empat proyek saja. Itu untuk lebih memaksimalkan hasil yang apat berikan kepada konsumen, karena kami sebenarnya juga sudah punya pekerjaan,” bebernya.
Setiap mengerjakan proyek fotografi, harga yang ditawarkan kepada konsumen, cukup beragam. Tergantung tingkat kesulitan yang akan dikerjakan, serta lokasi pengambilan foto, juga ikut menentukan murah dan mahalnya tarif. Selama ini untuk jasa foto pernikahan, kisaran harga yang diberikan Rp 5 juta-Rp 20 juta. Karena ketiga orang pemilik sekaligus juga fotografer yang “mengeksekusi” di lapangan, maka pria yang sehari-hari bekerja sebagai lawyer ini, banyak menggunakan tenaga freelance.
Para tenaga lepas itu dibayar dengan sistem honor, yang dibayarkan lunas per event, setiap selesai melaksanakan tugasnya. Para freelancer tersebut, direkrut dari teman-temannya sendiri, yang sudah dipercaya bakal melaksanakan pekerjaan sesuai standar yang telah diberikan.