22 November 2015

Menjadi Fotografer Profesional

FOTOGRAFI - Sebagian orang beranggapan bisnis fotografi adalah bisnis padat modal, bisa dihitung dari jumlah aset yang harus dimiliki seorang fotografer, cukup besar untuk memiliki sebuah studio lengkap dengan peralatan foto yang profesional. Akan tetapi, saat ini paradigma itu telah bergeser lantaran dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sebagian orang beranggapan bisnis fotografi adalah bisnis padat modal, bisa dihitung dari jumlah aset yang harus dimiliki seorang fotografer, cukup besar untuk memiliki sebuah studio lengkap dengan peralatan foto yang profesional.
Akan tetapi, saat ini paradigma itu telah bergeser lantaran dunia digital membawa perubahan besar terhadap perkembangan fotografi itu sendiri. Seseorang tidak perlu memiliki kamera mahal dengan studio pencetakan film, atau memiliki toko untuk menjual jasa.
Secara umum fotografer adalah seseorang yang bekerja memberikan jasa fotografi, biasanya melalui tahapan proses seperti bertemu klien, mengambil gambar, mencetak, memberikan gambar tersebut kepada klien, dan mendapatkan bayaran atas jasa tersebut. Tetapi saat ini, ruang lingkup pekerjaan fotografer bukan hanya itu.
Pasalnya, ada yang lebih penting terkait “keberanian” untuk naik kelas ke dunia profesionalisme. Apakah seseorang akan puas setelah menjalani hobi fotografi bertahun-tahun? Foto-foto hasil “hunting”, sudah barang tentu hanya akan memenuhi media penyimpanan di harddisk, album jejaring sosial, atau dicetak konvensional dan dipajang pada dinding-dinding kamar.
Bagaimana jika seseorang naik level dari seorang pehobi fotografi menjadi fotografer profesional? Tidak sulit, bahkan bisa dilakukan dengan mudah. Seorang fotografer amatir sekalipun, tidak harus membangun sebuah studio dengan unit peralatan lengkap dan mahal.
Namun, profesionalisme bisa dilakukan dari pekerjaan kecil seperti menerima tawaran pemotretan pre-wedding, baik dari teman atau kolega yang yang butuh didokumentasikan acaranya. Tentu saja, pemotretan dimulai dari liputan acara kantor, kampus, atau sekolah. Dari sini, ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh setelah “berani” menjadi seorang fotografer profesional. Di antaranya, pengalaman baru, penghasilan, serta karya yang dapat dinikmati publik. Tentu ini kebanggaan tersendiri.
Bagi fotografer yang sudah kenyang sebagai fotografer freelance profesional, tentunya harus naik level lagi sebagai fotografer “full time”. Bersyukurlah bila memang sudah memiliki modal untuk membangun studio foto baru, karena akan sangat berguna untuk meningkatkan kemampuan seseorang.
Yang pasti, keberhasilan bisa dicapai jika benar-benar mengusung kualitas, kemampuan yang mumpuni, serta networking luas. Jadi, berawal dari hobi berakhir dengan kesuksesan. Menjadi fotografer profesional, siapa takut?