15 November 2015

Menakar Untung Bisnis Layar Lebar

BIOSKOP - Model tengah memperagakan aktivitas menonton film di bioskop. Saat ini bisnis bioskop di Makassar masih didominasi jaringan 21 Cineplex Group. Ratusan juta pun berhasil diraup setiap harinya dari pecinta film, dengan tayangan berkualitas dan fasilitas eksklusif.  BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Saat ini bisnis bioskop di Makassar masih didominasi jaringan 21 Cineplex Group. Ratusan juta pun berhasil diraup setiap harinya dari pecinta film, dengan tayangan berkualitas dan fasilitas eksklusif.
Jika ada yang bertanya apa hobi yang mayoritas paling banyak orang sukai, pasti akan banyak yang menjawab menonton film. Selain unsur hiburan, melalui film orang bisa mendapatkan beragam pengetahuan baru. Misalnya dari tokoh karakter yang bervariasi, hingga jalan cerita yang alurnya bermacam-macam, sehingga kegiatan menonton film tidak pernah membosankan. Makanya, banyak orang akan rela mengantre tiket, yang kadang cukup panjang hanya untuk masuk menonton di bioskop.
Di Indonesia, jaringan 21 Cineplex Group mencengkeram kuat bisnis bioskop di Tanah Air, tanpa pernah memiliki saingan yang berarti. Jika pecinta film berjalan-jalan di mal, dan melihat merek  21 atau XXI pada area bioskop, bisa dipastikan itu merupakan kerajaan bisnis 21 Cineplex Group.
Penamaan 21 dan XXI karena memiliki perbedaan pada segmen pasar yang dibidik. Brand XXI membidik pasar kalangan menengah, sementara brand 21 ditujukan untuk menengah ke bawah. Dengan perbedaan pasar yang dibidik inilah, jelas fasilitas yang ditawarkan juga tidak sama. Selain kedua brand di atas, ada pula yang dinamakan The Premiere, yang ditargetkan untuk pecinta film yang menginginkan fasilitas yang lebih mewah.
The Premiere merupakan suatu konsep bioskop yang lengkap dengan segala kemewahan, termasuk lobi khusus di dalamnya. Kursi yang ada dalam setiap studio memiliki kualitas layaknya kelas bisnis sebuah pesawat, dan juga selimut serta kemewahan-kemewahan lainnya. Untuk sekali nonton, The Premiere mematok Rp 50 ribu-Rp 150 ribu.
Usaha bisnis bioskop di Makassar masih bermain segmen pasar menengah dan bawah. Ini terbukti baru brand 21 dan XXI yang tersedia. Sedangkan jaringan bioskop milik 21 Cineplex Group dengan brand The Premiere sampai sekarang belum masuk di Makassar. The Premiere baru hadir di Jakarta, Bekasi, Bandung, Tangerang, Tangerang Selatan, Surabaya, Yogyakarta, Solo, Denpasar, Medan, Palembang, dan Samarinda.
Dulu masyarakat Makassar mengenal banyak pelaku bisnis dalam industri bioskop. Brand bioskop lokal pun dengan mudah didapati, bahkan masih mendominasi. Pemain yang paling terakhir gugur adalah Makassar Theatre, yang memutuskan untuk mundur pasca musibah kebakaran yang terjadi pada bangunannya. Beberapa brand bioskop lokal yang pernah ada di Makassar di antaranya Diamond Theatre, Dewi Theatre, Mutiara Theatre, Benteng Theatre, dan lain-lain.
Sebelum XXI masuk ke Makassar, pecinta film masih menganggap brand 21 bermain di level atas. Itu karena pesaingnya sebagian besar adalah pelaku bisnis lokal, dengan brand yang juga belum terlalu kuat. Banyak bioskop brand lokal yang terpaksa tutup seiring kondisi perfilman Indonesia yang “down” pada waktu itu, dan hampir tidak berproduksi sama sekali.
Setelah brand XXI masuk ke Makassar, segmen ini merebut pasar dari “saudara”-nya sendiri. Brand 21 berubah menjadi jaringan bioskop kelas dua. Sebagian besar film yang diputar merupakan karya negeri sendiri. Hanya sesekali memutar film-film luar negeri. Brand XXI masuk di Makassar sejak Juni 2011, dengan menjadikan Mal Panakkukang (MP) sebagai lokasi outlet pertama, dan memakai nama Panakkukang XXI. Selain di Mal Panakkukang, brand XXI juga memiliki dua outlet lainnya di Makassar, Studio XXI di Mal Ratu Indah (MaRI) dan TSM XXI di Trans Studio Mall (TSM) Makassar.
“Keunggulan XXI adalah dari sisi kualitas sound system yang telah mengusung dolby 7.1. Selain itu, juga telah mendukung pemutaran film 3 dimensi (3D),” jelas Manager Panakkukang XXI, Agus Triyadi, saat ditemui beberapa waktu lalu.
Panakukang XXI memiliki enam studio, dengan kapasitas penonton berbeda-beda. Studio 1 memiliki kapasitas 297 orang, studio 2 kapasitas 259 orang, studio 3 kapasitas 186 orang, studio 4 dan 5 kapasitas 171 orang, dan studio 6 kapasitas 130 orang. Untuk mendukung daya tarik penonton, Panakkukang XXI juga dilengkapi fasilitas kafe dengan menu yang lebih lengkap, serta wahana permainan bagi anak-anak.
Sesuai fasilitas yang disediakan, harga sekali nonton di Panakkukang XXI pun terbilang cukup tinggi. Untuk Senin sampai Kamis, penonton membayar Rp 40 ribu, dan Jumat menjadi Rp 50 ribu. Weekend atau hari libur yang biasanya digunakan keluarga untuk berjalan-jalan di mal, diambil sebagai momentum manajemen bioskop dengan menaikkan harga menjadi Rp 60 ribu.
Dari biaya yang dikeluarkan konsumen untuk menonton film di Panakkukang XXI, bisa dipastikan penghasilan yang diperoleh tentu juga sangat tinggi. Misalnya, apabila tiket masuk di Studio 1, yang memutar film-film box office laris terjual pada waktu weekend, maka sekali tayang dengan jumlah penonton 297 orang, maka manajemen Panakkukang XXI akan mendapatkan pemasukan Rp 17.820.000. Dalam sehari, Studio 1 menayangkan film sebanyak lima kali, maka total pemasukan sehari Rp 89.100.000. Sebuah nilai yang sangat fantastis.
Lain lagi Studio XXI MaRI, yang memberlakukan harga tiket masuk Senin sampai Kamis Rp 35 ribu, Jumat Rp 40 ribu, dan Sabtu/Minggu/Libur Rp 50 ribu. Bioskop yang berlokasi di Lt 4 MaRI ini memiliki lima studio, yang juga memutar film lima kali dalam sehari. Meskipun tidak sebesar yang diperoleh Panakkukang XXI, tetapi jumlahnya juga cukup besar. Sebut saja pada hari kerja hanya mendapatkan pengunjung 100 orang di Studio 1, maka manajemen Studio XXI akan mendapatkan pemasukan Rp 3.500.000.  
Menurut Staf Bagian Umum Studio XXI, Patahuddin, semua film yang diputar di Studi XXI merupakan kategori box office, baik berasal dari luar maupun dalam negeri. Setiap Rabu, Kamis, dan Jumat dilakukan updating film. “Porsi untuk film luar negeri lebih besar di studio kami, yaitu sekitar 75 persen,” ungkap pria yang akrab disapa Atha ini saat ditemui beberapa waktu lalu.
Tidak salah jika dikatakan bisnis bioskop merupakan salah satu yang sangat menggiurkan. Apalagi, pemainnya terbilang belum terlalu banyak di Indonesia. Khusus di Makassar, malah bisa dikatakan belum ada penantang, karena semua bioskop masih di bawah kendali 21 Cineplex Group.

Jaringan Bioskop Cinemaxx

Di tengah dominasi 21 Cineplex Group dalam bisnis bioskop di Makassar, tidak lama lagi akan mendapat kompetisi dari kehadiran Cinemaxx. Jaringan bioskop milik Lippo Group tersebut telah mampu menunjukkan eksistensinya di Ibu Kota Jakarta.
Setelah bangunan megaproyek properti Lippo Group, yang dinamakan St Moritz Makassar selesai, rencananya salah satu tenant besar yang bakal hadir di sana adalah bioskop Cinemaxx. Menurut President Direktur Lippo Group, Theo L Sambuaga, bioskop Cinemaxx akan hadir di semua mal milik Lippo Group.
Salah satu keberhasilan Cinemaxx adalah mendapatkan hak tayang bagi film animasi favorit Doraemon Stand by Me. Beberapa penggemar fanatik film tersebut di Makassar merasa kecewa karena tidak tayang di biskop jaringan 21 Group. “Belajar dari yang sudah ada, kami akan menawarkan konsep yang lebih menarik dan membuat nyaman penonton bioskop. Kami juga akan menghadirkan film bagus. Bukan hanya dari Hollywood, juga ada dari Korea dan Tiongkok,” ujar Theo.
St Moritz Makassar berdiri di lokasi bekas Gedung PMCC Makassar. Menurut Senior Manager Lippo Karawanci, William Wijaya Utama, mal tersebut nantinya akan terkoneksi dengan beberapa bangunan properti lain milik Lippo Group, yaitu hotel bintang lima dan rumah sakit Siloam Hospital.