12 November 2015

Legenda Sang Buaya


BLOGKATAHATIKU/IST
Legenda Sang Buaya
Oleh Anita Anny

Masih sayup. Dedaunan menyisakan embun semalam. Di tenggeran ranting akasia, sekawanan burung gereja berkicau riuh seolah melantunkan litani menyambut pagi. Awan sudah pula berarak, membentuk gugusan serupa kapas di atas dusunnya.
Ia menguap lebar. Kantuk masih memaksa kedua kelopak matanya menguncup. Namun ia mesti bangun, suatu keharusan. Di sini lain. Ia tidak bisa bermalas-malasan seperti di rumahnya yang megah di Panakkukang Mas, Makassar. Dan baru terbangun apabila nyonya rumah, Wardhani Jamal Nganro, Maminya, sudah berteriak dengan urat leher menonjol dari lantai bawah.
Kebiasaan barunya sekarang. Bangun pagi. Lalu mulai menjalankan ritual hariannya sebagai guru bagi anak-anak dusun. Mulanya ia mengeluh, tidak senang dengan profesinya yang merupakan kewajiban eskul sekolah. Tapi akhirnya ia pun suka dan menikmati rutinitas itu. Anak-anak sebetulnya menyenangkan!
Selain itu, ia juga merasa tersanjung. Bangga dihormati dan dianggap sebagai orang penting di dusun ini. Anak-anak memanggilnya ‘Ibu Guru’. Dan setiap hari ia merasa menjadi seorang ratu dengan titah sakti berupa kalimat yang mesti diakuri. Anak-anak manut seperti pitik.
Kampung Talatala di Kecamatan Minasa Tene, Pangkep, masuk rayon program PMR-nya yang mulai dijalaninya empat hari lalu. Mulanya ia nyaris menangis ketika mengetahui dari Ketua Osis bahwa daerah rayonnya adalah sebuah dusun terpencil di pelosok Pangkajene Kepulauan, Pangkep. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan yang sudah mengakrabinya sekian belas tahun. Semalaman disesalinya keputusan dari sekolah. Ia menyesal telah memilih kegiatan eskul sebagai anggota Palang Merah Remaja. Kalau tahu begini akibatnya, ia bahkan rela tidak lulus sekolah sekalipun ketimbang harus berpayah-payah hidup melarat di dusun orang.
Hari pertama di salah satu dusun kecil pelosok Sulawesi Selatan itu, ia sudah menitikkan airmata. Perjalanan dari Makassar ke dusun sudah menghabiskan hampir seluruh tenaganya. Setelah naik bis berjamjam, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan perahu layar bermotor melintasi laut menuju ke daerah kepulauan tersebut. Lalu sesampainya di pulau tujuan, ia beserta teman-teman sekolahnya harus melewati serangkaian daerah dengan kondisi alam yang tidak menguntungkan. Berjalan kaki kurang lebih empat jam sebelum akhirnya tiba di dusun tujuan.
Mentalnya jatuh berkeping-keping ketika menyaksikan suasana dusun. Ia nyaris kelengar. Tidak ada listrik. Tidak ada air ledeng. Tidak ada toilet. Tidak ada jamban. Kegiatan kemanusiaan PMR yang harus dijalaninya seolah menyeretnya ke masa lampau, di saat masyarakat baru mengenal pacul sebagai alat pertanian yang paling mutakhir.
Hari kedua ia sudah menangis sejadijadinya. Tidak ada spring bed empuk penyangga punggung kala malam menjelang. Sekarang berganti dengan sebuah dipan usang dengan tikar kumbuh yang kasar di atasnya, yang membuat badannya pegalpegal. Sehabis bangun, pipinya akan membilur bekas alur tikar pula. Juga, tidak ada kamar mandi seperti di rumahnya yang berpancuran air dari shower. Tidak ada bathtub porselen seperti di toilet kamarnya. Sekarang ia harus mandi di sungai. Bahkan buang air besar pun di sana!
Euurrghhh!
Petang hari pada hari kedua itu ia bahkan sudah memutuskan untuk kabur. Ia tidak tahan lagi menjalani harihari yang berat tanpa kenyamanan. Lebih baik tidak lulus sekolah! makinya pada waktu itu. 
Namun Tiar menggebah keinginannya yang tidak sehat itu. Gadis manja berambut mayang itu memang tidak pernah mencicipi yang namanya susah. Sejak kecil ia sudah dibuai kemewahan.
“Cuma seminggu, Ren.”
“Tapi rasanya satu abad!”
“Lama-lama kamu akan kerasan.”
“Satu hari saja badanku rasanya sudah remuk.”
“Tapi….”
Renita mengibaskan tangannya. Membungkan kalimat bujuk Tiar yang masih berusaha menggagalkan rencana kaburnya.
“Listen to me, Ren. Apa salahnya sih kita bersusah-susah melarat barang satu minggu?!”
“Sori, aku tidak tahan!”
“Kamu bisa belajar beradaptasi.”
“Setiap makhluk hidup punya habitat tersendiri, Tiar. Manusia tidak dapat hidup tanpa oksigen. Tapi sebaliknya ikan justru akan terbakar di oksigen.”
“Tentu saja. Yang bilang kamu ikan itu siapa?”
“Ada hal yang tidak bisa dipaksakan, Tiar.”
“Aku mengerti. Tapi, ini akan menggembleng kita jadi ‘orang’, Ren!”
“Hei, sejak kapan aku bukan ‘orang’?”
“Ren, kamu harus coba. Sayang kalau hanya lantaran hal ini kamu gagal di eskul sekolah.”
“Lebih baik ketimbang aku mati muda.”
“Kakamu….”
“Sudahlah. Kalau aku gagal, toh kamu tidak dirugikan.”
“Iya, sih. Tapi, aku tidak mau melihat kamu gagal. Kalau kita berhasil, ya kita harus berhasil bersama-sama. Aku ini temanmu sejak kecil.”
“Aku tidak kuat lagi.”
“Kamu bisa minta bantuanku kapan saja. Aku selalu menyertai kamu, kan?”
“Tapi, kampung ini….”
“Kampung ini lumayan baik, Ren. Suasananya tenang….”
“Justru karena itu aku tidak tahan!”
“Tentu saja kamu tidak tahan kalau di kota setiap malam kamu main ke diskotik yang berisik setengah mampus itu!”
“Ka-kamu….”
“Jangan cengeng begitu dong, Ren!”
“Ta-tapi….”
“Tidak selamanya kamu akan ikut Papi-Mami kamu….”
“Maksud kamu….”
Tiar kini yang mengibaskan tangannya. Diputarnya badan memunggungi sahabat karibnya itu. Gadis kaya itu kelewat manja sehingga harga selembar ijazah keberhasilan di depan mata pun ditepisnya.
Memang sangat disayangkan.
Namun entah dari mana asalnya keajaiban itu. Renita mengurungkan niatnya untuk kabur pada hari keempat keberadaannya di dusun itu. Ia mulai jatuh cinta dengan alam asri pedesaan. Juga keramahtamahan masyarakat desa yang lugu.
Dan pada akhirnya ia memutuskan untuk bertahan tinggal sampai kegiatan kemanusiaan PMR sekolahnya usai. Ia tidak tega meninggalkan anak-anak dusun yang manis-manis dan lucu-lucu itu. Murid-muridnya memang masih memerlukan seorang guru.

***

Sebenarnya cerita itu sudah lama didengarnya. Dari bibir ke bibir. Di pedalaman Sulawesi Selatan cerita itu bahkan sudah melegenda. Namun takaran penalaran untuk kisahkisah yang melegenda itu selalu kandas di logikanya. Tentu saja. Ia mafhum keterbatasan pola pikir orang-orang dusun.
“Buaya itu memeluk Puang* Mina,” ujar salah satu muridnya.
“Buaya itu tampak sedih. Lalu, menangis mengeluarkan airmata,” muridnya yang lain menambahi.
“Galak tidak?” Seorang murid perempuannya bertanya dengan mimik ringis.
“Tidak. Buaya itu merupakan anak dari Puang Mina.”
Renita mengelus dadanya. Sedari tadi ia mendengarkan murid-murid tentatifnya itu berkisah di selasela waktu istirahat. Di dusun itu, baik petani sawah maupun petani kebun selalu menyempatkan diri untuk bertukar cerita tentang halhal gaib yang terjadi di dusunnya masing-masing.
Seperti dua hari lalu. Di ujung sebelah timur dusun itu terdengar kabar tentang pemunculan seekor harimau siluman. Orang-orang kampung menyebutnya Parakang, manusia siluman yang bisa berubah wujud ke bentuk apa saja, konon sering menghisap darah manusia khususnya bayi yang baru lahir. Ternakternak kerbau maupun kambing pun selalu menjadi korban pemunculannya.
Selang dua hari berikutnya, penampakan harimau itu disertai dengan turunnya halimun berbentuk manusia yang beterbangan di atas pohon-pohon kelapa di dusun itu. Akibat cerita itu, setelah magrib, penduduk dusun tidak ada yang berani keluar dari rumahnya lagi. Bahkan kisah itu mengorbankan waktu orang-orang dusun untuk bepergian salat ke musala.
Tidak lama kemudian, setelah diselidiki oleh beberapa siswa laki-laki PMR dan pamong praja, ternyata semua itu merupakan ulah seekor musang liar yang turun dari bukit hutan lindung di dusun itu. Dan halimun berbentuk manusia itu hanyalah kabut biasa yang beterbangan terbawa angin sampai menelusup ke pelepah-pelepah pohon kelapa.
Sekarang, di dusunnya itu beredar kabar buaya. Konon sudah tiga hari buaya itu menampakkan diri di rumah Andi Salmah Daeng Mina. Bila malam menjelang, buaya yang memiliki ruas jari kaki berjumlah lima itu akan datang ke rumah sesepuh dusun berusia lanjut itu.
Konon kata orang-orang dusun pula, buaya itu sebenarnya kembaran dari anak Puang Mina yang sudah meninggal dua puluh dua tahun lalu karena wabah kolera, Andi Unding Daeng Rewa. Tiga puluh tahun yang lalu, ketika melahirkan anak kembarnya tersebut, puak terpandang sesepuh dusun itu kaget setengah mati. Satu dari bayi yang dilahirkannya berwujud buaya!
Namun Puang Mina menganggap semua itu sudah merupakan suratan takdir dirinya. Bagaimanapun, bayi berwujud buaya yang dilahirkannya merupakan anugerah yang mesti ia syukuri. Dan ia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan maupun penyesalan.
Bayi buaya itu pun harus direlakannya kembali ke habitat sebenarnya. Sungai. Maka setelah seminggu sejak kelahirannya, bayi buaya itu dihanyutkan ke sungai dusun. Pergi dan tidak pernah kembali sampai sekian puluh tahun. Dan sejak saat itu, setiap minggu wanita tua itu akan datang ke tepi sungai, melemparkan sebutir telur untuk sang Buaya.

***

Kini sang Buaya datang kembali ke dusun mereka. Pulang menjenguk wanita yang pernah melahirkannya. Menguakkan kembali legenda lama sehingga menggemparkan orang-orang dusun. Setiap malam pula, masyarakat dusun berbondong-bondong mendatangi rumah Puang Mina. Ingin menyaksikan sang Buaya. Tapi semua hal itu seperti jauh panggang dari api. Sang Buaya tidak pernah menampakkan dirinya.
“Kamu pernah melihatnya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Buaya itu tidak pernah menampakkan dirinya di depan orang banyak.”
“Kenapa?!”
“Mana aku tahu. Pokoknya, buaya itu tidak pernah mau keluar kalau banyak orang. Kecuali pada Puang Mina.”
“Kenapa hanya pada Puang Mina?!”
“Mungkin mereka takut pada orang-orang kampung!”
“Tentu saja bukan begitu….”
“Apa coba?!”
“Puang Mina kan, ibu kandung buaya tersebut.”
“Oh, iya. Pantas buaya itu hanya menampakkan dirinya pada Puang Mina.”
“Lalu, setelah bertemu dengan ibunya, buaya itu ke mana lagi?”
“Tentu saja ke habitanya di sungai.”
“Ih, aku takut mandi di sungai lagi!”
“Kenapa?”
“Nanti dimangsa sama buaya itu!”
“Tidak usah takut. Buaya itu kan jelmaan manusia juga.”
“Jelmaan?!”
“Jelmaan manusia karena mempunyai hubungan darah dengan Puang Mina!”
“Eh, kenapa bisa sih Puang Mina melahirkan anak berwujud buaya?!”
“Mana aku tahu!”
“Kata ibuibu di kampung, waktu masih gadis dulu, Puang Mina selalu mandi di sungai.”
“Heh, semua orang kampung di sini mandinya juga di sungai!”
“Oh, iya. Lupa!”
“Makanya, belajar. Ibu Guru Renita kan sudah mau berbaik hati mengajar kita. Kalau tidak, kita mau belajar di mana coba?!”
“Iya, yah. Untung ada Ibu Guru Renita.”
Renita masih menyimak percakapan muridmuridnya itu dengan takzim. Ini memang salah satu alasannya untuk tidak meninggalkan dusun sebelum kegiatan kemanusiaan PMRnya usai. Ia merasa bertanggung jawab mencerdaskan sebagian anak-anak dusun yang tidak pernah menyentuh bangku sekolah itu.
Mendadak ia merasa sangat beruntung memiliki kemudahan fasilitas dari kedua orangtuanya. Termasuk jenjang lembaga pendidikan yang selama ini telah dilaluinya mulai dari tingkat dasar TK sampai ke SMA.
Pendidikan memang sangat penting sebagai media pembelajaran. Faktor itu mendewasakannya. Dan ia tidak ingin menyia-nyiakannya lagi.

***

“Kamu percaya, Ren?”
Tiar mencecarnya. Masih penasaran dengan sikap cuek gadis itu. Telinganya seperti dibebat sehingga tidak terpengaruh oleh kisah yang melegenda itu. Yang lebih aktual dari berita Piala Dunia di media cetak dan elektronik ibukota.
“Kalau keyakinan itu sudah mendarah daging, ya apa mau dikata lagi?”
“Tapi, seluruh orang kampung….”
“Sudah melegenda. Penalaran dengan logic of intents pun pasti percuma saja, Tiar.”
“Anak-anak PMR Jurusan IPA mulai meneliti kebenaran tentang hubungan sedarah sang Buaya dengan manusia itu.”
“Maksudmu, melakukan visum et repertum seperti yang mereka lakukan pada katak?”
“Astaga! Tentu saja bukan begitu! Mau digorok golok sama orang-orang satu kampung, apa?!”
“Hm, jadi….”
“Maksudku, bukan pembedahan seperti yang dilakukan pada katak atau mayat. Mereka hanya mendiskusikan unsur genetika manusia dan reptil. Ada tidak persamaannya?”
“Kalau ada bagaimana?”
“Tentu kita ini keturunan monyet, tahu?!”
Tiar kembali mengibaskan tangannya. Renita terlalu apatis untuk dilibatkan dalam kisah yang melegenda itu.
“Eh, kok nyasarnya ke evolusi Darwin, sih?”
“Huh, dasar anak IPS!”
“Eit, jangan bilang aku hanya jago bikin puisi dan baca roman picisan seperti kalimat latenmu itu!”
“Habis….”
“Aku juga pemerhati biologi, meskipun hanya sebatas ingin tahu saja.”
“Oke, deh.”
“Nah, menurutmu bagaimana? Kamu kan anak IPA?”
“Masalahnya tidak sesimpel itu. Tentu masyarakat sudah kadung percaya dengan legenda sang Buaya itu. So, meskipun anak-anak IPA teriakteriak bahwa buaya hanyalah buaya, manusia tetap manusia, dan satu sama lainnya memiliki gen yang berbeda tiga ratus enam puluh derajat, mana mau mereka mendengarkan? Bisabisa nanti malah kita dianggap pemali. Warga ‘asing’ biang prahara pembawa malapetaka banjir seperti yang termaktub dalam legenda.”
 “Aku sudah paham, Nek. Berarti, legenda sang Buaya yang berasal dari indung manusia itu bisa dipersonifikasikan dengan menanam padi tumbuhnya jagung!”
“Hei, bukannya semangka berdaun sirih?”
“Aku serius, Nek!”
“Eh, kamu juga bisa serius ternyata!”
Tiar terbahak. Renita mencibir. Heran juga ia kadang-kadang! Siswi IPA yang punya cita-cita jadi dokter itu kok kelakuannya minus tujuh derajat di bawah nol. Sama sekali tak berwibawa dan bereksistensi seperti seorang calon dokter! umpatnya dalam hati.
“Anakanak bahkan sudah membongkar masalah itu sampai ke herpetologi.”
“Hasilnya?”
“Nol kemungkinan sel indung telur manusia, perempuan, dan sperma reptil, buaya, menyatu membentuk sebuah kehidupan seperti embrio.”
“Tapi, konon Puang Mina sendiri yang melahirkan bayi buaya itu.”
“Konon. Kamu percaya?”
“Tentu saja tidak. Makanya aku apatis soal itu.”
“Pantas kamu tidak seperti cacing kepanasan dengan legenda sang Buaya itu.”
“Tapi, orang-orang kampung….”
“Itulah letak permasalahannya. Tentu kita tidak menginginkan adanya pembodohan….”
“Mereka sudah mempercayainya bahkan sampai pada taraf yakin.”
“Itu yang berbahaya, Ren!”
“Maksudmu?!”
“Legenda itu irasional, Ren. Sementara disiplin ilmu yang aku tekuni sekian tahun merupakan metoda yang dilihat dari kacamata ilmu pengetahuan dan discovery. Memang bertolak belakang sama sekali. Bahkan bertentangan satu sama lainnya.”
“Lalu?”
“Pembenaran tidak dapat dilakukan sertamerta, karena legenda itu sudah diyakini sedemikian rupa sehingga mendarah daging. Salah satu contoh, kusta masih dianggap kutukan oleh mereka. Padahal kusta itu kan sejenis penyakit menahun yang menyerang kulit dan syaraf, yang secara perlahanlahan menyebabkan kerusakan pada anggota tubuh. Atau, mereka lebih percaya dukun dan cenayang ketimbang dokter misalnya. Hal-hal seperti itulah yang kerap menjadi kendala sehingga menghambat kemajuan berpikir. Nah, bahayanya di situ.”
“Tapi, kata orang-orang kampung, kalau kejadian itu merupakan fenomena dari Yang di Atas Sana.”
“Teologi dan ilmu pengetahuan alam mesti dibedakan. Kedua disiplin ilmu itu seperti air dan minyak. Selamanya tidak dapat bersatu. Kalau kita bicara ilmu pengetahuan, tentu kita mengasosiasikan topik ke dalam penalaran yang rasional. Mesti objektif dan tidak terkungkung oleh hal-hal gaib semacam legenda itu. Sebab kalau bicara soal religi, berarti kita sudah masuk ke dalam topik yang hanya dapat dicerna dengan hati dan keimanan.”
“Jadi legenda sang Buaya itu….”
“Legenda tetap legenda. Legenda banyak membawa pesan moral untuk kebajikan. Jadi, it’s okay selama masih dalam penafsiran yang wajar.”
“Tapi kasus legenda sang Buaya di kampung itu….”
“Jangan salahkan. Hanya ada satu Sekolah Dasar pada setiap radius tujuh puluh lima kilometer persegi. Tentu hal ini menjadi tanggung jawab kita semua. Khususnya bapak-bapak kita di parlemen.”
Renita mengangguk mafhum. Ia membulatkan tekadnya untuk akan terus memberantas kemiskinan pengetahuan melalui pendidikan yang layak bagi anak-anak dusun. Dan tentu saja semua itu diperlukan kerja keras dan niat yang sungguhsungguh.
“Hei, sepertinya kita juga sangat kekurangan tenaga pengajar. Kamu berminat menjadi guru, Ren?”