13 November 2015

Kiprah Pengusaha Tionghoa di Makassar

DAVID GOZAL - Salah seorang pengusaha Tionghoa yang mengaku eksistensinya dimulai setelah sebelumnya menjadi karyawan di perusahaan milik orang lain adalah David Gozal. Sejak 1982, pria yang juga menjadi pengurus di organisasi sosial Lions Club Makassar ini, sudah mulai bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik orang lain. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sejak abad ke-14, etnis Tionghoa masuk ke Makassar, dan hidup sebagai pedagang. Berkat kerja keras dan komitmen akan pelayanan, kini mereka sudah menjadi salah satu penunjang utama kemajuan industri di perkotaan.
Siapakah pengusaha yang paling banyak tersebar di dunia? Mereka adalah para pengusaha Tionghoa, yang tersebar di 168 negara di dunia. Menurut catatan 2010 lalu, jumlah pengusaha Tionghoa perantauan mencapai 56 juta orang. Di Indonesia sendiri, jumlah mereka diperkirakan sebanyak 10 juta orang.
Menurut majalah China Economic Weekly dalam sebuah pemberitaanya, di tangan para taipan ini tergenggam aset lebih 10 triliun dolar AS. Pengusaha Tionghoa perantauan adalah satu kekuatan yang tak bisa diabaikan dalam dunia perbisnisan global. Hal tersebut disampaikan Sekjen sekaligus asisten Ketua Asosiasi Akademisi Pemasaran Tiongkok, sekaligus Jawatan Urusan Pengusaha Tionghoa Perantauan, Zhang Ping, di majalah tersebut.
Di Makassar sendiri belum ada keterangan pasti, mengenai kapan orang Tionghoa mulai datang. Beberapa sumber menyatakan kalau orang Tionghoa sudah menjejakkan kaki di Makassar pada abad ke-15. Pada masa itu, Kerajaan Gowa sedang dalam masa kejayaannya, dan menjadi pusat maritim di Nusantara.
Ada tiga rumpun yang datang ke Makassar, yaitu Hokkian, Hakka, dan Kanton. Orang Hokkian dipercaya sebagai rumpun pertama yang datang ke Makassar secara besar-besaran. Sampai sekarang, sebagian besar orang Tionghoa bermukim di sekitar Benteng Somba Opu. Itu karena datang pertama kali melalui daerah di sekitar benteng tersebut, yang dulu menjadi pusat Kerajaan Gowa.
Sebagian besar mata pencaharian orang Tionghoa di Makassar, berasal dari bidang perdagangan. Kejayaan Kerajaan Gowa masa lalu, yang membuat mereka betah hidup sebagai perantau di Makassar. Perlahan-lahan pun melebur bersama penduduk asli. Tidak jarang, sebagian dari mereka menikah dengan penduduk asli Makassar.
Kini, perkembangan bisnis di Kota Makassar sangat ditunjang kehadiran masyarakat Tionghoa. Berbagai jenis usaha yang dijalankan, menjadikan eksistensi mereka layak diperhitungkan. Meskipun beberapa di antaranya juga bekerja sebagai karyawan perusahaan, tetapi hal tersebut dijadikan sebagai modal untuk membuka usaha sendiri di masa depan.
Salah satu pengusaha Tionghoa yang mengaku eksistensinya dimulai setelah sebelumnya menjadi karyawan di perusahaan milik orang lain adalah David Gozal. Sejak 1982, pria yang juga menjadi pengurus di organisasi sosial Lions Club Makassar ini, sudah mulai bekerja sebagai karyawan di perusahaan milik orang lain.
Beberapa perusahaan ternama Tanah Air pernah merasakan hasil kerjanya, seperti PT Tempo Indonesia, Johnson & Johnson, Eveready, dan Indovision. Terakhir David bekerja di perusahaan elektronik brand Jepang, Sony Indonesia. Posisinya yang terakhir sebagai sales manager, dengan wilayah kerja seluruh provinsi Indonesia. Jabatan tersebut mengharuskannya menetap di Jakarta.
Ternyata sang istri tercinta kurang begitu nyaman tinggal di ibu kota Republik Indonesia tersebut, dan memilih tetap di Makassar. Kondisi tersebut membuat David kurang begitu nyaman bekerja di Jakarta, karena harus berpisah dengan keluarga di Makassar. Akhirnya, ia kembali ke Makassar dan memilih menjadi seorang entrepreneur.
Dengan usia yang sudah 30 tahun lebih waktu itu, bagi David, sudah menjadi momen paling tepat untuk memiliki perusahaan sendiri. “Setinggi apapun level seseorang bekerja di sebuah perusahaan, status tetap saja sebagai karyawan. Sekecil apapun perusahaan yang saya buka, posisinya pasti sebagai pimpinan,” ujarnya, mengutarakan alasannya terjun dalam dunia bisnis.
Dengan modal sebesar Rp 52 juta, hasil penjualan mobil dinas hasil pemberian perusahaan tempatnya bekerja dulu, David membuka toko penjualan video game bernama Enji Game. Saat itu video game Sony Playstation sangat booming, sehingga menjadikan usahanya sebagai pemasok Playstation terbesar di Indonesia timur.
Berkat jaringan bisnis global yang dimiliki, sekarang David sudah memiliki tiga unit usaha, yaitu distributor produk Petronas, Ben’z Cafe, dan kantor mitra perwakilan Makassar untuk rumah sakit dan kecantikan Beverly Wilshire yang berkedudukan di Malaysia. Untuk Ben’z Cafe, beberapa produk unggulannya seperti Roti Pisang Ijo, Roti Coto Makassar, dan Roti Durian, kini menjadi incaran pecinta kuliner khas Kota Makassar.

Merambah Semua Lini Bisnis

Bukan hanya di bidang kuliner dan klinik kecantikan saja, bisnis perhotelan pun cukup banyak dipegang etnis Tionghoa. Itu karena komitmen mereka untuk menghadirkan pelayanan yang maksimal dapat diwujudkan. Salah satu pelaku bisnis perhotelan yang berasal dari etnis Tionghoa di Kota Makassar adalah Yuwono Ongko, pemilik PT Pelita Mahkota Hotelindo, yang mendirikan Hotel Fave Panakkukang, Jalan Pelita Raya, Makassar.
Sebelum memutuskan untuk menjadi pebisnis, pria yang lahir pada 1974 ini sempat menjadi karyawan beberapa perusahaan di Jakarta. Setelah itu, ia kemudian mulai menjalankan bisnis, juga masih di Jakarta. Ia melakukan ekspansi usaha di Kota Makassar pada 2005. “Sebagai orang yang berasal dari Jakarta, saya sudah melihat Makassar sebagai kota yang luar biasa sejak sepuluh tahun lalu. Makanya, saya putuskan untuk hijrah ke kota ini,” ungkap Yuwono.
Pertama kali menjajal ketatnya persaingan di Kota Makassar, Yuwono membuka usaha mebel dan fokus pada desain interior. Kemudian berkembang menjadi perusahaan developer bangunan. Selama menjalankan usahanya, ia banyak bekerja sama dengan Panin Bank dan kelompok usaha Ciputra.
Kini, di bawah bendera PT Pelita Mahkota Hotelindo, pada 11 Februari lalu, Yuwono melakukan soft opening proyek hotel pertamanya, Fave Panakkukang. Untuk operasional perusahaan, ia bekerja sama dengan operator hotel ternama Archipelago International, yang sebelumnya telah sukses mengelola Hotel Aston Makassar dan Fave Daeng Tompo.
 Mengapa bisnis hotel? Yuwono melihat saat ini hingga beberapa tahun ke depan, bisnis hotel masih memiliki potensi yang sangat besar di Kota Makassar. Makanya, ia berani berinvestasi dalam bidang tersebut. Hanya di bisnis hotellah, ia melihat semangat yang sangat besar para manajemennya. Bukan sekadar mencari untung, tetapi unsur pelayanan jauh lebih diutamakan.
Tahun ini Yuwono kembali berencana membuka satu hotel lagi, dan kemungkinan besar masih bekerja sama dengan manajemen Archipelago International. Target utama masih Kota Makassar. Akan tetapi, jika sudah tidak dimungkinkan lagi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar, maka ia akan mencoba keberuntungannya di kota lainnya di Indonesia.

Komitmen Memajukan Sulsel

Eksistensi yang selama ini telah ditunjukkan para pengusaha Tionghoa di Makassar, tidak lain juga sebagai wujud komitmen mereka terhadap kemajuan Sulsel. Hal tersebut disampaikan melalui sebuah wadah bernama Perkumpulan Masyarakat dan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit) Sulsel.
Para pengusaha yang tergabung dalam Permit akan berupaya menarik investasi dari Tiongkok, yang saat ini telah berperan besar dalam persaingan ekonomi global, untuk masuk ke Sulsel. Menurut Sekjen Permit Indonesia, Dato’ Ted Sioeng, etnis Tionghoa yang jumlahnya cukup besar di Sulsel, bisa diminta peranannya untuk menarik investor dari luar.
Perkumpulan ini telah memiliki perwakilan di Hongkong, Singapura, Beijing, dan Los Angeles. Mereka bertugas untuk menyatukan dan menjembatani para pengusaha Tionghoa yang ada di Indoesia. Melalui organisasi ini, dua bulan sekali akan membawa rombongan pengusaha maupun wisatawan dari Tiongkok ke Sulsel. Diharapkan, upaya yang dilakukan tersebut dapat menunjukkan hasil maksimal bagi kemajuan Sulsel.
Lembaga ini telah memiliki anggota di atas 50 ribu orang, dan 17 cabang perwakilan di Indonesia, termasuk Makassar. Mereka selalu mengupayakan adanya keterbukaan dari pengusaha Tionghoa kepada media.
“Dulu, ada sedikit kekhawatiran dari para penguaha Tionghoa akan diskriminasi dalam dunia usaha. Itulah sebabnya mereka selalu terkesan tertutup,” beber Dato’ Ted.