09 November 2015

Kesiapan Wirausaha Muda Menyambut MEA



OPTIMIS - Pengusaha muda, Nur Anshari saat diabadikan beberapa waktu lalu. Dijelaskan, ia tetap optimis dapat bersaing dengan para pedagang yang bakal masuk ke Makassar. saat persaingan pasar bebas di era MEA nanti. Menurutnya, hal yang harus diperhatikan adalah menjaga kualitas produk dan layanan. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Pertumbuhan wisausaha muda di Makassar menunjukkan hasil yang cukup baik. Akan tetapi, sudah mampukah mereka bersaing pada saat memasuki era perdagangan bebas? Langkah apa yang telah dan akan dilaksanakan? 
Founding father Indonesia, Soekarno, pernah mengatakan, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Usia muda merupakan masa produktif, dengan semangat dan kesungguhan, kemungkinan untuk sukses jauh lebih besar. Semangat Sumpah Pemuda yang didengungkan setiap 28 Oktober dapat menjadi motivasi para wirausaha muda untuk bangkit dan mempertahankan eksistensinya.
Sebentar lagi negara-negara di kawasan Asia Tenggara akan memasuki era perdagangan bebas atau lebih dikenal dengan istilah masyarakat ekonomi Asean (MEA) atau Asean Economic Community (AEC) 2015 adalah integrasi ekonomi negara-negara Asean dalam menghadapi perdagangan bebas. Seluruh negara anggota Asean telah menyepakati perjanjian ini, dan dirancang untuk mewujudkan “Wawasan Asean 2020”.
MEA akan membentuk Asean sebagai pasar dan basis produksi tunggal, yang membuat kehidupan masyarakat di negara-negara Asean lebih dinamis dan kompetitif. Dalam menghadapi persaingan yang sangat ketat selama MEA, masyarakat di semua negara ASEAN dituntut mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang terampil, cerdas, dan kompetitif.
Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dita Indah Sari, beberapa waktu lalu menjelaskan, dengan adanya MEA akan lebih membuka peluang tenaga kerja asing untuk mengisi berbagai jabatan serta profesi di Indonesia yang tertutup atau minim tenaga asing.
Siap maupun tidak, Indonesia harus segera membangun kesiapan dalam masyarakat untuk menghadapi persaingan menyongsong MEA. Anak muda yang selama ini identik hura-hura dan bersenang-senang, saatnya diubah pola berpikirnya menjadi seorang pengusaha. Sisi positif anak muda yang mengisi kesehariannya dengan bekerja keras dan berjuang, akan menjadikan mereka menjadi sosok mandiri dan mapan secara finansial.
Mendorong para pemuda untuk menjadi pengusaha, menjadi salah satu solusi mempersiapkan diri memasuki MEA. Pasalnya, masyarakat berbagai daerah di Tanah Air akan bersaing secara bebas dalam aspek ekonomi terhadap bangsa lain di Asia Tenggara. Dunia usaha harus siap bersaing dengan pengusaha asing.
Untuk itulah, pemuda yang mandiri adalah sosok yang telah dibentuk sejak dini. Hal itu dapat dilihat dari sepak terjang pengusaha Nur Anshari. Menurutnya, menjadi pengusaha sudah menjadi cita-citanya sejak masih sekolah. “Makanya, saat masih kuliah, saya sudah mencoba mengasah diri dengan membuka usaha rumah indekos,” bebernya.
Waktu memulai usaha itu, ia masih berumur 23 tahun. Saat ini, di usia yang masih 27 tahun, sudah mampu membuka banyak lapangan pekerjaan, di antaranya warung kopi, serta Warung Pisang Ijo Mini, dan Gerobak Durian.
Pria yang akrab disapa Ancha ini, menjelaskan, usaha rumah indekosnya memiliki 10 kamar. Setiap kamar dikhususnya untuk kaum Hawa dan bagi mereka yang sudah berkeluarga. Alasannya jelas, karena kedua segmen tersebut diagggap lebih dapat bertanggung jawab dalam hal pemeliharaan setiap ruangan yang disewa.
Meskipun lokasi indekosnya berada di tengah kota, Jalan Urip Sumoharjo, namun harga sewa yang ditawarkan relatif lebih murah dibanderol Rp 500 ribu per bulan. Naluri usaha yang dimiliki Anshari harus diakui cukup tinggi. Pasalnya, di teras rumah indekosnya di buka warung kopi (warkop). Dengan demikian, tentu akan membuka sebuah pasar baru yang menguntungkan. Pasar yang dibidik juga tidak jauh dari para penghuni kos yang ada di sekitar lokasi usaha. “Saat ini pengelolaan warkop saya serahkan ke kakak. Berbagi rezeki dengan saudara itu hal yang baik,” ujarnya.
Lima tahun terakhir ini, ia mencoba terjun dalam usaha kuliner dengan berkreasi membuat penganan khas Makassar, Pisang Ijo sebagai bahan jualan. Setelah dimodifikasi menjadi Pisang Ijo Mini dengan aneka rasa, warungnya pun semakin eksis bersaing dengan para pelaku bisnis kaki lima.  
 Alasannya memilih Pisang Ijo sebagai bahan jualan, karena ingin mengajak masyarakat mencintai makanan khas daerah sendiri. Apalagi saat ini, Pisang Ijo sudah sangat popular di Bandung. Padahal, makanan tersebut sebenarnya berasal dari Makassar. Jika diperhatikan, pisang ijo di Bandung dijual dengan aneka rasa. “Usaha ini sudah mampu menciptakan lapangan kerja bagi banyak orang,” tuturnya bangga.
Untuk menyambut persaingan pasar di era MEA nanti, Anshari tetap optimis dapat bersaing dengan para pedagang yang bakal masuk ke Makassar. Hal yang harus diperhatikan adalah menjaga kualitas produk dan layanan. Pelayanan yang baik adalah ramah kepada pembeli. Menurutnya, walaupun makanan yang diual enak, tetapi kalau pelayanannya tidak ramah, maka akan ditinggalkan pelanggan. Baginya, pembeli adalah raja. Kalau pembeli puas dan merasa nyaman, otomatis mereka akan kembali.
Kopi yang sejak dulu sudah cukup melegenda dan membudaya di tengah masyarakat Kota Makassar, menjadi inspirasi bagi Andi Faldy Ferdiansyah. Ia menghadirkan Kedai Kopi Papa Ong di Makassar. Dengan sistem kerja sama franchise, pengusaha muda yang lahir pada 24 Februari 1980 ini, membuka usahanya setelah menyelesaikan tugasnya sebagai legislator di DPRD Kota Makassar.
Menurutnya, mulai rakyat kecil sampai mereka yang tinggal dalam perumahan mewah, hampir bisa dipastikan suka menikmati secangkir kopi hangat setiap harinya. Dengan konsep yang lebih matang, ia optimis dapat merebut hati pecinta kopi di Makassar. 
Menghadapi persaingan industri kuliner jelang MEA, Faldy yakin pengusaha lokal tetap bisa survive, meskipun banyak pengusaha dari luar negeri yang berdatangan. Selain kreativitas, hal yang perlu diperhatikan dalam berbisnis kuliner adalah unsur kesehatan. Makanya, dari 200 seat yang tersedia di Papa Ong, sengaja dibuat beberapa ruangan khusus yang menjadi area bebas rokok. Selama ini, warung-warung kopi selalu identik dengan kepulan asap rokok. Akan tetapi, persepsi itu akan segera hilang saat berkunjung ke Papa Ong.