07 November 2015

Dokterpreneur Lahirkan Jiwa Kewirausahaan Profesi Dokter

ANWAR - Owner “Farma + Plus”, Anwar, saat diabadikan beberapa waktu lalu. Profesi yang dijalani Anwar sebagai dokter gigi tak menyurutkan berbagai gagasannya yang terbilang brilian dalam dunia bisnis. Jiwa entrepreuner yang melekat dalam dirinya melahirkan konsep aktual yang kini telah diimplementasikannya dalam bentuk empat apotek dan klinik di Makassar dan Kabupaten Sengkang, Sulsel. BLOGKATAHATIKU/ANITA ANNY
Anwar
Owner Apotek dan Klinik Farma + Plus
“Konsep Dokterpreneur Lahirkan Jiwa Kewirausahaan Profesi Dokter”

Profesi yang dijalani Anwar sebagai dokter gigi tak menyurutkan berbagai gagasannya yang terbilang brilian dalam dunia bisnis. Jiwa entrepreuner yang melekat dalam dirinya melahirkan konsep aktual yang kini telah diimplementasikannya dalam bentuk empat apotek dan klinik bernama “Farma + Plus” di Makassar dan Kabupaten Sengkang, Sulsel.
“Sedari dulu, saya ingin membentuk tim yang terdiri dari dokter-dokter muda agar  dapat terlibat dalam kewirausahaan, ‘dokterpreneur’. Bagi saya, dokter juga dapat melakoni dunia bisnis, tidak hanya pengusaha yang punya basic formal ekonomi seperti sarjana ekonomi,” terang Anwar, saat ditemui beberapa waktu lalu di kliniknya, Jalan Bau Mangga, Makassar.
Bisnis yang dimaksud suami dr Ilmi Silmiaty tidak terbatas pada bidang kedokteran saja, akan tetapi juga merambah bisnis-bisnis lain seperti ritel dan sebagainya. “Dokterpreneur saya maksudkan agar dokter-dokter muda dapat merealisasikan jaringan usaha tak hanya dalam lingkup kedokteran, namun mereka juga dapat menjadi entrepreneur dalam bisnis riil lainnya sehingga menciptakan lapangan kerja baru,” jelas kelahiran Watampone, 9 Januari 1980.
Ayah Ilman Firjatullah dan Aini Rayhana mencontohkan, jika seorang pengusaha yang sama sekali tidak memiliki dedikasi ilmu kedokteran tetapi dapat mendirikan rumah sakit besar, tentu seorang dokter juga dapat membuka suatu usaha yang tidak terkait dedikasi ilmu yang didalami sebelumnya.
Bagi Anwar, kendala utama calon dokterpreneur adalah tidak berani mencoba.  “Dalam menjalankan suatu usaha, tidak selamanya pelaku bisnis bergantung pada modal. Sewaktu mendirikan Apotek dan  Klinik Farma + Plus, proporsinya justru lebih besar investasi berupa konsep yang saya usung. Nah, inilah yang saya ‘jual’ kepada mitra sehingga dari kolaborasi tersebut dapat berjalan sebuah bisnis potensial, apapun wujud usahanya. Sehingga, usaha itu tidak harus jual produk tetapi bisa juga dengan jual jasa dan konsep,” imbuh penyuka bakso dan joging ini.
Apotek dan Klinik Farma + Plus sendiri resmi didirikan pada 2010, di antaranya terletak di Jalan Bau Mangga, Abdullah Daeng Sirua, Paccerakkang Daya, dan dalam waktu yang tidak lama akan launching di Sudiang. Selain klinik-klinik di Makassar tadi, pria yang memiliki jiwa sosial tinggi ini juga sudah membuka satu apotek dan klinik di Kabupaten Sengkang. Pada akhir 2010 lalu, ia sudah mempatenkan merek kliniknya.
“Sistemnya kemitraan, sharing, dan bagi hasil. Beberapa klinik di luar Sulawesi seperti Nunukan, Kalimantan Utara, merupakan kemitraan dengan konsep awal dari saya yang juga menggunakan nama Farma + Plus,” beber alumni Fakultas Kedokteran Unhas ini.
Terkait modal usaha membuka sebuah klinik, Anwar memaparkan tergantung sederhana ataupun bonafidenya ruang maupun perlengkapan klinik tersebut. “Untuk klinik sederhana, modalnya sekitar Rp 50 juta-Rp 250 juta. Sementara klinik dengan peralatan kesehatan yang lengkap, modalnya sekitar Rp 1 miliar-Rp 2 miliar. Itu semua estimasi di luar bangunan, hanya dokter praktik dan peralatan,” urainya.
Selain konsep dan orisinalitas gagasan, ia mengungkapkan pentingnya memasukkan sisi-sisi moralistik saat mendirikan sebuah klinik. “Mendirikan klinik idealnya tak hanya melihat segi komersialnya, namun alangkah baiknya jika unsur humanitas dimasukkan sebagai landasan. Sedari dulu saya mendambakan sebuah rumah sakit dengan kamar seragam, tanpa membedakan strata dan tingkat sosial pasiennya. Misalnya, hanya ada kamar  VIP di mana semua pasien dapat menikmati fasilitas yang memadai tersebut,” urainya.
Meskipun sulit terwujud, Anwar mengaku tetap optimis apa yang menjadi angannya suatu saat dapat terwujud. “Makanya, perlahan hal tersebut saya realisasikan saat membuka klinik sendiri, di mana pasien dari berbagai kalangan dapat memeriksakan kesehatannya dengan biaya yang cukup ringan di Farma + Plus,” tandasnya.