06 November 2015

Bisnis Jasa Antar Semakin Menggiurkan

ROTI DAENG - Roti Daeng melaksanakan praktik usaha pesan antar untuk menunjang penjualan produknya. Pelayanan pesan antar guna memudahkan konsumen mendapatkan aneka produk yang dijual, baik roti, brownies dan lain-lain. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Persaingan bisnis jasa antar semakin ketat. Jumlah pemain yang bergerak di bidang ini bukan lagi hanya perusahaan lokal, tetapi juga sudah melibatkan brand nasional.
Persaingan jasa antar mulai memanas di Makassar. Jumlah pemain yang bergerak di bisnis ini pun semakin banyak. Baik yang berdiri sendiri sebagai usaha mandiri, maupun didirikan sebagai penunjang layanan dari sebuah usaha. Makin bertumbuhnya bisnis ini lantaran semakin naiknya kebutuhan pengiriman barang, baik dari konsumen langsung maupun korporasi.
Adanya garansi barang yang dipesan sampai ke tempat tujuan dengan aman, menjadi daya tarik masyarakat untuk menggunakan jasa pengantaran. Apalagi, bagi masyarakat yang tinggal di kota metropolitan, dengan kompleksitas kesibukan sehingga tidak ingin lagi repot keluar berbelanja. Tanpa buang tenaga dan waktu, hanya dengan memesan secara online maupun telepon, barang yang diinginkan sudah sampai di tangan.
Awalnya, pelaku di bidang bisnis ini masih didominasi pemain lokal. Tetapi belakangan,  Makassar sudah dilirik para pelaku bisnis yang mengusung brand nasional. Dengan berbagai kelebihan yang diusung, pemain dengan brand ternama di Tanah Air cukup menyita perhatian masyarakat sehingga menjadi loyal customer dari perusahaan “delivery” nasional tersebut. Di sisi lain, ini juga menjadi tantangan bagi pelaku industri lokal untuk terus berbenah agar bisa bersaing merebut pasar.
Salah satu pemain lokal yang bergerak di bidang jasa pengantaran adalah “Transporter City Courier”. Menurut owner Transporter City Courier, Putra P, usaha yang dirintis sejak 7 September 2015 ini, dibuka lantaran terinsipirasi sebuah layanan jasa pengantaran berlabel nasional yang telah sukses. Perusahaan itu, kini sudah eskpansi ke Makassar.
Mendengar masuknya sebuah perusahaan jasa antar nasional ke Makassar, Putra melihat usaha ini sebagai peluang. Semakin banyak pemain berebut pasar yang sama, maka ia yakin potensi bisnisnya pasti besar. Makanya, alumni Fakultas Hukum Universitas Atmajaya Makassar ini, merasa tertantang untuk terjun menekuni bisnis jasa pengantaran.
“Sebelum perusahaan dari luar masuk dan merebut pasar di Makassar, saya mendirikan usaha sejenis. Itu bertujuan agar pelaku bisnis lokal bisa menjadi tuan rumah di daerahnya sendiri,” alasannya.
Bermodal relasi yang cukup banyak, Transporter City Courier tanpa ragu melangkah menekuni bisnis jasa pengantaran dengan nilai investasi di bawah Rp 30 juta. Meskipun belum secanggih perusahaan berlabel nasional, Putra menjalankan usaha jasa pengantaran dengan menggunakan beberapa akun sosial media, baik BBM, Whatsa App, Line, email, dan telepon. Namanya saja usaha lokal dengan modal yang tidak terlalu besar, usaha yang dijalankan belum menggunakan sistem aplikasi yang dapat di-download pada smartphone.
Sewaktu awal membuka usaha, ia mengakui memulai dengan memakai jasa tiga karyawan. Akan tetapi, dua orang karyawannnya memilih keluar dan sekarang tinggallah satu orang karyawan yang membantunya menghidupkan usaha Transporter City Courier. “Keterbatasan jumlah karyawan, membuat saya juga harus turun tangan sendiri melakukan pengantaran ke tempat konsumen,”  imbuh Putra.
Dengan keterbatasan yang dimilikinya, ia memberi gaji karyawannya tersebut masih dibawah Upah Minimum Regional (UMR). Selain itu, apabila melampaui target yang diberikan, selanjutnya karyawan akan mendapatkan komisi bagi hasil, dengan pembagian 70 persen untuk karyawan dan 30 persen untuk perusahaan. Target setiap karyawan dalam sehari harus bisa melakukan pengantaran 10 pesanan.
Bagaimana pemasukan usaha tersebut? Putra menuturkan, dalam sehari baru bisa mencapai target rata-rata 10 pesanan. Dengan demikian, dalam seminggu bisa menerima pesanan sekitar 50-70 pesanan. Tarif menggunakan jasa antar itu Rp 20 ribu flat untuk satu kali layanan di satu tempat pengantaran. Itu untuk wilayah kota Makassar.
Senada usaha tersebut, sepasang suami-istri, Muliadi dan Nuraeni melihat potensi yang sangat besar untuk bisnis jasa pengantaran. Mereka mendirikan usaha jasa kurir dengan merek lokal “Tomalaqbi Kurir”. Nama tersebut cukup unik, karena menggunakan bahasa Bugis yang artinya orang baik. Usaha ini mulai dijalankan 16 Agustus 2014.
Pengalaman pernah bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan jasa pengantaran, kemudian membawa Muliadi untuk membuka usaha sejenis. Bermodalkan Rp 200 juta, yang dipakai untuk membeli pesanan konsumen, usaha itu ternyata bisa berjalan dengan cukup memuaskan. “Dari semua orderan yang masuk, rata-rata masih didominasi pengantaran makanan,” ungkap pria yang akrab disapa Adhi.
Namanya saja usaha yang dimulai dari nol, maka saat awal memulai, ia bukan hanya menjadi pemilik, tetapi sekaligus kurir yang mengantar pesanan konsumen. Berkat kerja keras, saat ini Tomalaqbi Kurir sudah bisa mempekerjakan delapan karyawan. Dari semua karyawan, lima yang sudah diberikan gaji tetap, sementara tiga lainnya masih tenaga lepas, yang diberikan gaji dengan sistem persentase berdasarkan jumlah pesanan yang dibawanya.
Bermodalkan beberapa sosial media yang digunakan untuk berpromosi, Tomalaqbi Kurir sudah bisa menerima 30 pesanan setiap harinya. Sehingga, dalam seminggu sudah menerima rata-rata 180 pesanan. Biaya layanan yang dibebankan kepada konsumen yang memakai jasa usaha ini adalah Rp 20 ribu sekali pengantaran untuk dalam kota Makassar. Apabila ditotalkan, maka dalam sebulan rata-rata ia menerima 900 pesanan. Pendapatan kotor setiap bulannya mencapai Rp 18 juta.
Meskipun sama-sama melakukan usaha jasa pengantaran, Roti Daeng  melaksanakan praktik usaha tersebut untuk menunjang penjualan produknya. Menurut Manager Roti Daeng, Suardi, perusahannya memberikan layanan pesan antar untuk memudahkan konsumen mendapatkan aneka produk yang dijual, baik roti, brownies dan lain-lain. Konsumen tidak perlu datang langsung ke outlet, cukup menelepon maka kurir akan mengantar produk yang dipesan ke tempat konsumen.
Dijelaskan, biaya jasa tersebut bervariasi, berkisar Rp 10 ribu-Rp 25 ribu per satu kali pengantaran. Saat ini, Roti Daeng sudah memiliki armada sebanyak lima sepeda motor dan dua mobil, yang siap melayani pesanan konsumen yang ada di kota Makassar. “Kami juga melayani pesanan kosumen yang mau mengirimkan produk Roti Daeng sebagai oleh-oleh,” tutupnya.