22 November 2015

Berebut Potensi Emas di Kawasan Bisnis Panakkukang

KAWASAN BISNIS - Salah satu kawasan industri dan bisnis yang ada di Makassar adalah Panakkukang. Di kawasan ini memiliki banyak pengelompokan kegiatan ekonomi, di antaranya bidang usaha produksi, jasa, perdagangan, perbankan, kuliner, shopping center, dan hunian. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Panakkukang sebelumnya dikenal sebagai kawasan pemukiman elite dengan segmen menengah ke atas. Seiring peningkatan ekonomi masyarakat Makassar, kawasan ini pun mengalami transformasi dari areal hunian menjadi daerah bisnis. Saat ini, Panakkukang menggeliat sebagai satu kawasan industri termodern di kawasan timur Indonesia (KTI).
Perkembangan pembangunan di perkotaan sangat berpengaruh terhadap kemampuan ekonomi masyarakat. Salah satu yang paling menonjol adalah bidang  industri. Makassar merupakan salah satu kota terbesar di KTI, memiliki beberapa kawasan bisnis yang sangat cepat berkembang, seiring kebutuhan masyarakat yang juga semakin meningkat.
Salah satu kawasan industri dan bisnis yang ada di Makassar adalah Panakkukang. Di kawasan ini memiliki banyak pengelompokan kegiatan ekonomi, di antaranya bidang usaha produksi, jasa, perdagangan, perbankan, kuliner, shopping center, dan hunian. Peralihan fungsi dari kawasan perumahan mewah yang dulunya dikembangkan PT Asindo, menjadi kawasan bisnis dan industri, merupakan sebuah fenomena tersendiri.
Meskipun sebelumnya sempat gagal, bisnis hunian vertikal atau lebih dikenal sebagai apartemen akhirnya booming pada 2013, dan semuanya dimulai dari kawasan Panakkukang. Salah satu perusahaan real estate nasional, Ciputra Group pun melirik Panakkukang untuk membangun apartemennya, Vida View. Untuk mencapai target yang diinginkan, digandenglah perusahaan lokal dengan segudang pengalaman, Galesong Group.
Vida View Apartments berlokasi di Jalan Topaz Panakkukang. Pada Februari lalu, salah satu bangunannya yang dinamakan Asthon Tower telah memasuki tahap topping off. Managing Director Ciputra Group, Cakra Ciputra yang ditemui di lokasi, mengungkapkan, ke depan hunian vertikal ini terdiri dari tiga tower, dan dilengkapi berbagai fasilitas bintang lima, di antaranya sky garden, pool, fitness room, smartcard, sport area, CCTV, serta parkir berkapasitas kurang lebih seribu lot.
Keberadaan Vida View di kawasan Panakukkang, selain mengangkat image, juga sekaligus menaikkan nilai jual beberapa bangunan yang ada. Ketika awal dipasarkan, harga unit apartemen dimulai Rp 12 juta meter persegi. Sekarang kenaikan harganya sudah mencapai Rp 16,5 juta meter persegi. Meskipun bangunannya belum dapat dihuni, kenaikan yang terjadi sudah mencapai Rp 4,5 juta meter persegi.
Deputy Project Manager Vida View, Satrio Sujatiko, menjelaskan, setelah sukses memasarkan Asthon Tower, saat ini pihaknya juga sudah memasarkan tower kedua, Brentsville Tower, di mana dari 662 unit sekitar 40 persen sudah terjual. Sementara itu, untuk Asthon Tower, hanya tersisa 10 persen yang belum terjual dari 760 unit yang ditawarkan.
Selain Ciputra Group, perusahaan raksasa nasional Lippo Group, juga sudah mulai melakukan pembangunan dan pemasaran apartemennya di Jalan Boulevard, Panakkukang, St Moritz. Melalui unit bisnisnya, Lippo Homes, PT Lippo Karawaci, menginvestasikan Rp 3,5 triliun untuk membangun superblock tersebut di tanah yang dulunya berdiri bangunan Panakkukang Mas Country Club (PMCC).
Tahap pertama, Lippo Group telah memasarkan tower pertama Bloomington dari tiga tower yang direncanakan. Di atas lahan seluas 2,7 hektare, jumlah unit ditawarkan sebanyak 286 unit dengan harga mulai Rp 700 juta per unit. Chief Executive Officer (CEO) Lippo Homes, Ivan Setiawan Budiono, mengungkapkan, profil pembeli apartemen St Moritz Makassar didominasi warga Makassar sebanyak 70 persen. Sisanya adalah pebisnis dari KTI seperti Manado, Ambon, dan Papua.
Menurut proyeksinya, harga jual St Moritz Makassar bisa terangkat 15 persen sampai 20 persen per tahun. Itu karena masih kurangnya apartemen yang terintegrasi fasilitas komersial di kota ini. Selain apartemen, St Moritz Makassar juga dilengkapi hotel sebanyak 210 kamar, mal seluas 227 ribu meter persegi, Siloam Hospital, Sekolah Pelita Harapan, bioskop sepuluh layar, pusat kuliner, hiburan, dan lain-lain.
Bukan hanya apartemen yang berkembang di kawasan Panakkukang. Bisnis hotel yang sangat booming tiga tahun terakhir ini juga tumbuh bak jamur di sepanjang segitiga emas Panakkukang, mulai Jalan Boulevard hingga Jalan Pengayoman. Aksi ekspansi pemain bisnis perhotelan tersebut termotivasi beberapa faktor, di antaranya potensi pertumbuhan ekonomi, perjalanan bisnis dan wisata yang meningkat, serta maraknya aktivitas meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE).
Puluhan hotel telah beroperasi, mulai kategori melati hingga bintang empat saling berebut pasar. Salah satu yang sudah cukup lama mencuri perhatian adalah Swiss Belinn-Panakkukang. Hotel milik Galesong Group ini memanjakan pengunjungnya dengan membuka koridor penghubung hotelnya dengan pusat perbelanjaan Panakkukang Square. Ini sekaligus mengukuhkannya menjadi pionir atau hotel pertama di Makassar, yang terkoneksi langsung mal.
Assistant Marketing Communication Manager Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Ari Harnani Restu Rahayu, langkah yang diambil manajemen hotel karena melihat tren potensi pasar yang terus berkembang ke arah tersebut. Itu didasarkan pada budaya masyarakat yang cenderung ingin lebih dimudahkan dalam berbagai hal. Dengan akses yang disediakan, tamu yang menginap di Swiss-Belinn Panakkukang, tidak perlu lagi repot mencari pusat perbelannjaan yang akan dikunjungi.
Selain Swiss-Belinn Panakkukang, saat ini manajemen Mal Panakkukang (MP) juga sementara membangun hotel yang dikoneksikan bangunan mal miliknya. Hotel tersebut dinamakan Miko. Mal Panakkukang didirikan pada 2003, dan mulai beroperasi sejak 2006. Menempati area seluas 70 ribu meter persegi, Mal Panakkukang menjadi salah satu shopping center yang paling luas di Makassar. Bangunannya terdiri dari tiga lantai, yang disewa ratusan tenant terkemuka.
Mal ini terasa semakin luas lantaran terintegrasi mal yang ada di sebelahnya, Panakkukang Square. Dengan mudah pengunjung mengakses jembatan multiguna yang melintas di atas Jalan Adyaksa Baru. Jembatan tersebut juga ditempati beberapa tenant.
Sepanjang jalan yang ada di Panakkukang, juga tertata cukup rapi oleh gerai milik pelaku industri kuliner. Beberapa di antaranya menjajakan kuliner khas Sulsel asimilatif Tionghoa. Sebut saja Mie Titi yang sudah sangat terkenal sejak 1970-an, yang menempatkan outletnya di Jalan Boulevard. Tenant lainnya, Sop Saudara Hj Lian dan Coto Daeng Bagadang yang semuanya berada di Jalan Boulevard.

Dari Ritel hingga Karpet Impor

Melihat potensi pasar yang sangat besar, beberapa riteler besar melirik Makassar sebagai market potensial untuk memasarkan produknya. Salah satunya adalah distributor karpet impor nasional yang sudah ternama, Al-Barkat Carpets, yang membuka cabangnya di kawasan bisnis Panakkukang. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan yang telah berdiri di Jakarta sejak 1997 ini, langsung membuka dua cabang di kawasan sama, Jalan Pengayoman dan Boulevard.
Al-Barkat Carpets memiliki koleksi lengkap karpet untuk berbagai kebutuhan, dan semuanya merupakan produk impor yang berasal dari delapan negara produsen karpet ternama dunia, seperti Turki, Iran, Afghanistan, Arab Saudi (Madinah), Pakistan, Mesir, Kashmir, dan India. “Hingga saat ini, Al Barkat Carpets sudah membuka sembilan cabang di Indonesia,” ujar Kepala Al-Barkat Carpets cabang Pengayoman, Sakinah.
Jenis karpet yang dipasarkan Al-Barkat Carpets, menurut Sakinah, dibagi menjadi dua, berdasarkan metode pembuatannya, yaitu hand made dan machine made. Untuk hand made terbuat dari bahan rajutan tangan jenis sutra maupun wool, yang berasal dari beberapa negara, seperti Pakistan, Iran, Afghanistan, Kashmir, Turki, dan Rusia. Sedangkan machine made berasal dari Turki, Mesir, dan Iran.
Untuk karpet jenis machine made, dijual sekitar Rp 1 juta-Rp 25 juta. Sedangkan hand made dibanderol jauh lebih tinggi, mulai Rp 15 juta hingga Rp 200 juta. Al-Barkat Carpets juga memiliki produk yang diproduksi sendiri, Sajadah Roll.
Mengapa memilih kawasan Panakkukang? Sakinah menjelaskan, sejak dulu Panakkukang dikenal sebagai pemukiman masyarakat menengah ke atas, sesuai segmen pasar yang dibidik Al-Barkat Carpets. Meskipun kini telah berkembang menjadi kawasan bisnis, tetapi perumahan yang dulu dikelola PT Asindo, masih hidup sampai sekarang.