06 November 2015

Aroma Wangi Omset Pushcart di Mal

UKM - Untuk mengakomodir pelaku usaha kecil menengah (UKM), manajemen Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar memberikan cukup ruang untuk mereka berjualan. Saat ini sudah ada sembilan pushcart di space area mal, di antaranya Baskin Robbins, Quickly, De Crepes, Waffelicous, Global Ikhwan, dan lain-lain. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Mal memiliki area usaha kaki lima. Nama kerennya pushcart. Lokasi ini diperuntukkan bagi pelaku usaha kecil menengah (UKM). Seiring bertumbuhnya mal di Makassar, bisnis ini pun berkembang pesat di kota ini.
Jika Anda berkunjung ke beberapa mal yang ada di Makassar, pasti pernah melihat outlet yang mirip dengan pedagang kaki lima. Outlet kaki lima yang biasanya berbentuk serupa gerobak dan gerai mini ini menempati lokasi di koridor sepanjang jalan yang ada di mal, dan tidak menempati outlet-outlet yang sifatnya permanen. Outlet kaki lima tersebut dalam dunia ekonomi dan bisnis disebut pushcart.
Salah satu ciri khas pasar tradisional dan pasar yang berupa pertokoan modern adalah kehadiran pedagang kaki lima. Kehadiran pedagang kaki lima tidak lain sebagai jawaban kebutuhan warga kelas menengah ke bawah, yang menganggap jika berbelanja di kios atau toko yang sifatnya permanen, harganya terlalu mahal. Sedangkan jika berbelanja di pedagang kaki lima, pembeli bisa berbelanja dengan harga yang relatif lebih murah.
Tak jauh berbeda dengan kegiatan jual beli di pasar tradisional dan pertokoan modern, kehadiran pedagang kaki lima di mal atau pushcart ini sebagai jawaban pihak mal, untuk juga menyediakan pilihan belanja dengan harga jual yang lebih rendah. Selain keberadaan pushcart yang ditujukan buat pengunjung kelas menengah ke bawah, para pelaku bisnis pushcart pun memang merupakan pedagang dengan kategori kelas menengah.
Untuk mengakomodir pelaku UKM, manajemen Mal Ratu Indah (MaRI) Makassar memberikan cukup ruang untuk mereka berjualan. Saat ini sudah ada sembilan pushcart di space area mal, di antaranya Baskin Robbins, Quickly, De Crepes, Waffelicous, Global Ikhwan, dan lain-lain. Di antara semua, menurut Leasing Staff MaRI, Andi Imam, didominasi pelaku bisnis food and beverage (F&B).
Terkait harga sewa tenant, Imam menyebutkan beragam, tanpa merinci nilai nominalnya secara pasti. Namun ia menakar kisaran harga di bawah Rp 10 juta. Dengan harga yang jauh lebih rendah dibandingkan sewa tenant permanen, diharapkan pelaku UKM juga bisa merasakan bagaimana berjualan di pusat perbelanjaan modern seperti mal.
Meskipun jumlahnya masih sedikit, akan tetapi kehadiran tenant pushcart, cukup memberikan kontribusi berarti bagi pemasukan MaRI. Kontribusi yang didapatkan mencapai lima persen hingga 10 persen. Tenant pushcart di MaRI menempati area paling kecil seluas empat meter persegi, dan paling luas adalah 15 meter persegi.
Perlu diketahui, bukan hanya orang yang masuk kategori kelas atas saja yang berkunjung dan ingin berbelanja di mal, namun masyarakat kalangan menengah ke bawah juga menjadi salah satu pasar potensial bagi mal. Meskipun ditujukan buat kalangan menengah, kehadiran pushcart sebagai salah satu alternatif sarana berbelanja di mal, juga banyak diminati orang yang masuk kategori kelas atas. Karena itu, beberapa di antara pushcart yang ada di mal di Makassar, merupakan usaha franchise yang sebelumnya memiliki nama di Jakarta, yang oleh pebisnis di Makassar, brand-nya dipakai sebagai merek dagang, seperti tenant Quickly di MaRI.
Kehadiran outlet kaki lima di mal, kebanyakan bersifat temporary tenant. Ini merupakan sebuah upaya pihak mal dalam hal pemberdayaan UKM di Makassar. Selain tenant yang sifatnya kontrak panjang, ada pula yang sifatnya dadakan, hadir hanya saat ada momen tertentu, seperti Idul Fitri, Valentine, Imlek, dan Natal. Hal tersebut layaknya pedagang dadakan di pasar tradisional, yang berdagang hanya pada saat ada momen-momen tertentu.
Usaha pushcart yang ada di MaRI cukup maju. Terbukti dengan perpanjangan kontrak yang secara berkesinambungan dilakukan para pelaku bisnis tersebut,” ungkap Imam.