03 October 2015

Rupiah Melemah, Dunia Usaha Resah

MELEMAH - Enam bulan belakangan, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, biaya produksi terus naik, sementara daya beli masyarakat semakin menurun. Dunia usaha pun resah akan kondisi ini. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Enam bulan belakangan, nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, biaya produksi terus naik, sementara daya beli masyarakat semakin menurun. Dunia usaha pun resah akan kondisi ini.
Nilai tukar mata uang rupiah cenderung menurun belakangan ini. Bahkan, selama enam bulan pertama 2015 terdepresiasi sekitar lima persen hingga enam persen. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mencapai Rp 14.395 per 1 dolar AS (data 18 September 2015), melampaui asumsi dari anggara pendapatan dan belanja negara perubahan (APBNP) 2015 sebesar Rp 12.500 yang telah beberapa kali direvisi dari patokan sebelumnya Rp 11.900. Kurs itu oleh beberapa pengamat disebut tidak sehat.
Menurut salah seorang pengamat pasar uang, Farial Anwar, dua faktor, eksternal dan internal, berkontribusi terhadap turunnnya mata uang rupiah. Gebrakan ekonomi pemerintahan Presiden RI, Joko Widodo, yang semula ditunggu-tunggu, belum terealisasi dengan baik. Di dalam negeri, faktor neraca transaksi berjalan dari tahun ke tahun mengalami defisit. Kondisi tersebut diperburuk peningkatan permintaan dolar AS.
Merosotnya nilai tukar rupiah dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi ekonomi. Salah satu landasannya adalah penurunan pertumbuhan ekonomi dari target di atas lima persen menjadi 4,7 persen. Kinerja belanja negara selama enam bulan 2015 diperkirakan baru terserap 39 persen dari total alokasi anggaran Rp 1.984 triliun dalam APBNP.
Dari sektor domestik, pelemahan ini juga disebabkan isu-isu ekonomi yang relatif masih sama, yaitu bagaimana pemerintah mempercepat belanja agar infrastruktur mulai dibangun dan meyakinkan investor untuk melakukan investasi langsung. Sayangnya, upaya investasi langsung ini terhambat sentimen pasar yang masih negatif terhadap Indonesia.
Presiden RI, Joko Widodo, pada 9 September lalu telah meluncurkan tiga paket kebijakan ekonomi, untuk merespons kondisi ekonomi global yang berpengaruh pada ekonomi Indonesia. Tiga paket kebijakan tersebut adalah mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi, penegakan hokum, dan peningkatan kepastian usaha. Pemerintah juga menyiapkan sejumlah peraturan presiden, serta keputusan menteri untuk mempercepat birokrasi.
Poin kedua dalam paket kebijakan yaitu mempercepat implementasi proyek strategis nasional, dengan menghilangkan hambatan yang ada, menyederhanakan izin, mempercepat pengadaan barang, serta memperkuat peran kepala daerah untuk mendukung program strategis itu.
Ketiga, pemerintah akan meningkatkan investasi di sektor properti. Pemerintah, sebut Presiden RI, Joko Widodo, akan mengeluarkan kebijakan untuk pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dan membuka peluang investasi di sektor ini sebesar mungkin. Presiden menargetkan masalah regulasi sudah selesai paling lambat Oktober 2015. Ia mengatakan, nanti pemerintah juga akan mengeluarkan paket kedua dan mungkin paket kebijakan ketiga.
Menurut Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Sulsel, Ryan Latief, keterpurukan ekonomi ini lebih banyak dipengaruhi faktor internal. Itu karena tidak adanya harmonisasi di Kabinet Kerja yang dibentuk Presiden RI, Joko Widodo. Ia melihat, para menteri yang ada di kabinet, belum bekerja secara maksimal dan hanya mengejar kepentingan golongannya saja.
Kondisi ini diperparah para wakil rakyat yang duduk di kursi legislatif. Mereka terlalu banyak melakukan lobi-lobi politik dan saling menjegal. Anggota dewan itu, ungkap Ryan, lupa terhadap tugas pokoknya, sehingga menambah kericuhan yang telah terjadi. “Kebijakan pemerintah tidak jelas arahnya, membuat para pelaku dunia usaha mengalami keraguan untuk menambah nilai investasi dalam negeri,” ujarnya saat dihubungi via Blackberry Messenger.
Menurut Ryan, saat ini sudah banyak perusahaan yang gulung tikar, khususnya sektor usaha yang menggunakan bahan baku impor. Secara nasional, sudah ada 18 perusahaan tekstil kolaps. Sektor pertambangan dan industri juga mengalami hal sama. Jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) sudah melebihi 600 ribu orang. Kondisi ini berdampak semakin meningkatnya tindakan kriminal. Para pemangku kepentingan harus cepat merespons ini, sehingga semua bisa cepat diatasi. 
Salah satu sektor usaha yang cukup resah dengan melemahnya rupiah adalah agen travel, umrah, dan haji. Wakil Ketua Umum DPD Kesatuan Umrah dan Haji (Kesturi) Sulsel, HM Azhar Gazali, berpendapat jika kondisi ekonomi Indonesia belum membaik sampai akhir tahun, maka kemungkinan akan ada pelaku usaha agen travel, umrah, dan haji yang gulung tikar.
Selama 2015, peminat umrah di Sulsel cenderung terus menurun. Kondisi terakhir turun hingga 30 persen. Itu akibat pengaruh gejolak ekonomi dalam negeri yang berimbas pada tekanan terhadap rupiah. Nilai rupiah yang terus melemah, membuat biaya umrah yang menggunakan perhitungan dolar terus bertambah mahal. Sehingga, banyak calon jemaah umrah menunda keberangkatannya, dan cenderung menunggu waktu yang tepat.
Kondisi tersebut mulai terasa saat Ramadan, di mana pada kondisi normal permintaan umrah cenderung naik sekitar 50 persen hingga 100 persen. Biasanya, banyak kaum Muslimin yang berbondong-bondong mengambil paket umrah Ramadan. Meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan umrah reguler, tetapi harga tersebut dianggap masih dapat dijangkau mayoritas masyarakat Sulsel yang ingi melaksanakan ibadah di Tanah Suci Mekkah. “Ramadan tahun ini, jumlah jemaah kami turun sekitar 15 persen dibandingkan tahun lalu,” beber Azhar.
Kondisi rupiah yang melemah dan berakibat semakin tingginya biaya umrah, membuat banyak calon jemaah umrah mengurungkan niatnya melaksanakan ibadah. Dijelaskan, paket Bintang Lima yang harganya 2.450 dolar AS dengan kurs Rp 11 ribu, dulu nilai jualnya Rp 26.950.000. Dengan kurs sekarang yang mencapai Rp 14 ribu, maka nilai jualnya menjadi Rp 34.300.000. Ada selisih sangat besar antara keduanya, mencapai Rp 7.350.000.

Tetap Optimis di Tengah Krisis

Meskipun kondisi ekonomi Indonesia belum stabil, raksasa otomotif dunia Chevrolet, tetap optimis hal tersebut pasti akan berlalu. Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur General Motor (GM) Indonesia, Gaurav Gupta. Makanya, melalui General Motor selalu agen tunggal pemegang merek (ATPM) di Indonesia, bekerja sama PT Auto Kencana (AK) Putera Makassar, membuka showroom sekaligus dealer barunya di Makassar.
Dengan dibukanya outlet kedua Chevrolet di Makassar tersebut, menjadi pertanda perusahaan otomotif ini semakin berkembang di Indonesia. Adapun kondisi melemahnya nilai rupiah terhadap dolar, tidak serta merta menurunkan daya beli masyarakat di kota ini. Apalagi, dengan keluarnya paket kebijakan pemerintah RI, Gaurav yakin akan mampu mengatasi semua permasalahan yang terjadi.
Optimisme tersebut juga diungkapkan Presiden Direktur Chevrolet AK Putera Makassar, Andee Y Yoestong. Meskipun rupiah terus melemah terhadap dolar AS, setelah melihat pertumbuhan ekonomi Makassar yang sangat tinggi, mengalahkan pertumbuan ekonomi Sulsel dan nasional, maka ia yakin daya beli masyarakat tetap stabil, dan tidak terlalu terpengaruh gejolak ekonomi yang terjadi.
Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, di hadapan wali kota se-ASEAN saat pembukaan Asean Mayors Forum (AMF 2015), mengakui tingkat pertumbuhan ekonomi di Makassar saat ini masih menjadi yang terbaik terbaik dibandingkan kota dan kabupaten lain.
Menurutnya, Sulsel dengan pertumbuhan ekonomi di atas tujuh persen, menjadi provinsi yang mampu bertahan dan tidak mengalami penurunan ekonomi. Makassar menjadi kota terbaik di Tanah Air dengan tingkat pertumbuhan mencapai sembilan persen.
Pemilik Aliyah Perdana Travel, HM Azhar Gazali, mengatakan, kondisi krisis saat ini mendorong pengusaha untuk bisa lebih kreatif menciptakan produk inovatif yang dapat diterima baik oleh pasar. Selain itu, juga tentu melakukan maintenance agar pelanggan dapat terus loyal.