10 October 2015

Inflasi September Dipengaruhi Harga Beras




INFLASI - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, saat memaparkan hasil survei terkait Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS Sulsel, Jalan Haji Bau, Makassar, belum lama ini. Menurutnya, berdasarkan hasil survei harga konsumen BPS Sulsel, inflasi terjadi sebesar 0,54 persen pada September, atau terjadi kenaikan IHK dari 120,41 pada Agustus menjadi 121,06 pada September 2015. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W

BLOGKATAHATIKU - Pada September 2015, Sulsel mengalami inflasi 0,54 persen dengan indeks harga konsumen (IHK) sebesar 121,06, atau terjadi kenaikan secara month to month (mtm) sebesar 120,41 pada Agustus 2015.
Hal yang paling mempengaruhi terjadinya inflasi di Sulsel pada September ini, karena dipengaruhi naiknya salah satu komoditi kebutuhan pokok, yaitu beras dengan kenaikan mencapai 0,1 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, Nursam Salam, mengemukakan, berdasarkan hasil survei harga konsumen BPS Sulsel, inflasi terjadi sebesar 0,54 persen pada September, atau terjadi kenaikan IHK dari 120,41 pada Agustus menjadi 121,06 pada September 2015.
Selain itu, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan kenaikan indeks enam kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan 1,40 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,55 persen, perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,06 persen, sandang 0,57 persen, kesehatan 0,07 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,82 persen.
“Ada beberapa hal yang memicu terjadinya inflasi, di antaranya karena beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada September tahun ini, antara lain beras, biaya akademi, emas perhiasan, tempe, tahu mentah, mi, ikan bandeng, daging ayam ras, nasi lauk, dan cabai rawit,” paparnya saat ditemui di Kantor BPS, Jalan Haji Bau, Makassar, belum lama ini.
Selain itu, sebut Nursam, permintaan beras sangat tinggi di berbagai provinsi Indonesia, sehingga harga beras Sulsel tidak dapat dikendalikan lantaran terjadinya kemarau dan gagal panen pada sejumlah daerah provinsi lain. “Sebenarnya, hal tersebut sangat baik untuk petani, namun kami berharap ini juga dapat dikendalikan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID),” terangnya.
Sementara itu, Kepala Bulog Divisi Regional Sulselbar, Abdul Muis, menambahkan, hingga September realisasi produksi 2015 telah mencapai 4,5 juta ton atau sekitar 77,5 persen dari target produksi yang terdiri dari subron satu penanaman Januari-April, subron dua penanaman Mei-Agustus dengan total luas tanam sekitar 850 hektare. Ditargetkan, akhir tahun dapat surplus sekitar 2,5 juta ton dari target produksi tahun ini sekitar 5,4 juta ton.
“Kami menargetkan akan menyerap beras Sulsel tahun ini sekitar 500 ribu ton, dan realisasi hingga semester pertama sekitar 264 ribu ton atau sekitar 53 persen dari target realisasi. Ditargetkan, musim panen kedua hingga akhir September lalu, akan menyerap sekitar 150 ribu ton. Penyerapan lebih besar kami lakukan untuk menjaga ketahanan dan stabilitas harga, juga mengantisipasi adanya kenaikan harga lagi,” imbuhnya.
Terkait nilai tukar petani (NTP) Agustus 2015, berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan, NTP di Sulsel secara umum mengalami penurunan sebesar -0,22 persen dibandingkan Juli 2015, yaitu dari 104,53 menjadi 104,30.
Hal tersebut disebabkan indeks harga hasil produksi pertanian mengalami kenaikan yang lebih kecil dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
Nursam menjelaskan, bila dibandingkan NTP Juli 2015, empat dari lima subsektor mengalami kenaikan, yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 1,25 persen, hortikultura 0,93 persen, peternakan 0,26 persen, dan perikanan 0,16 persen.
“NTP ini diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani. Ini merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. Ini juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi, maupun untuk biaya produksi,” ujarnya.
Selain itu, indeks harga yang diterima petani juga menunjukkan flukuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Begitu juga indeks harga yang dibayar petani dapat dilihat dari fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat pedesaan, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian. 
“NTP ini juga menunjukkan daya tukar atau term of trade dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi, maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani,” bebernya.