29 October 2015

Hotel Budget Masih Jadi Tren Bisnis Perhotelan

MASIH TREN - Konsep hotel yang terjangkau dan nyaman atau lebih dikenal dengan sebutan “hotel budget”, masih diproyeksi menjadi tren bisnis perhotelan pada 2016 mendatang. Sebelumnya, pada 2014 hotel ini sempat melaju sumringah hingga awal tahun ini. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Konsep hotel yang terjangkau dan nyaman atau lebih dikenal dengan sebutan “hotel budget”, masih diproyeksi menjadi tren bisnis perhotelan pada 2016 mendatang. Sebelumnya, pada 2014 hotel ini sempat melaju sumringah hingga awal tahun ini.
Sayang, depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi memasuki Tahun Kambing Kayu dalam mitologi Tiongkok, memukul laju perkembangan hotel budget. Hal tersebut juga diperparah beleid pelarangan pegawai negeri sipil (PNS) mengadakan kegiatan di hotel-hotel beberapa waktu lalu.
Kendati demikian, penurunan yang terbilang signifikan tidak terjadi pada hotel budget. Pasalnya, konsep hotel dengan tarif terjangkau itu semakin diminati wisatawan yang menginginkan kecepatan dan kemudahan akses menuju lokasi wisata.
Hal tersebut diungkapkan President of Indonesia Travel and Tourism Awards (ITTA), Panca R Sarungu, seusai konferensi pers penganugerahan ITTA kelima, beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurutnya, ada sekitar 30 brand hotel “murah” di Indonesia, baik yang berada di bawah manajemen hotel multinasional maupun lokal. Sebagai contoh, sebut Panca, Grup Aston meluncurkan Hotel Fave dan Accor dengan Ibis-nya.
“Maraknya kehadiran hotel budget, berawal dari Hotel Amaris di bawah manajemen Hotel Santika, sekitar tiga tahun lalu. Hotel berbintang tiga itu menawarkan harga terjangkau dengan kualitas layanan prima, nyaris setara kelas bintang lima. Sebelumnya, sebagian besar masyarakat meragukan konsep itu. Akan tetapi, melihat pertumbuhan pendapatannya makin lama meningkat, hotel budget semakin dilirik pelaku perhotelan di Tanah Air,” bebernya.
Dalam ITTA 2015, misalnya, Amaris termasuk calon peraih penghargaan Indonesian Leading Local Hotel Chain. Beberapa tahun lalu, hotel ini pernah meraih ITTA.
Sementara itu, Board of Advisor ITTA Singapura, Gunalan, mengungkapkan, di negaranya tren tersebut sudah terjadi sejak enam hingga delapan tahun lalu. Jumlah hotel murah sudah lebih 100 dengan 60-70 merek atau manajemen. “Mayoritas pemiliknya adalah pengusaha lokal. Ada pula yang berada di bawah naungan manajemen hotel multinasional seperti Accor,” ulasnya.
Dijelaskan, hotel-hotel tersebut tersebar di dekat bandara, stasiun, dan tempat wisata ternama seperti China Town dan Little India. Jika dihitung dengan dolar Singapura, harga yang ditawarkan kurang dari Rp 1 juta hingga maksimal Rp 1 juta. Ini tergolong murah di sana. “Jangan bandingkan pelayanan konsep hotel ini dengan hotel kelas melati dan bintang dua. Meski murah, layanan mereka sangat berkelas,” urai Gunalan.
Dipaparkan, sebagian besar pengunjung hotel budget adalah pelancong atau dikenal dengan “backpacker”. Akan tetapi, semakin hari kalangan pebisnis asing juga menyukai hotel murah. Menjamurnya hotel budget, membuat pemerintah Singapura membatasi pembangunan hotel bertarif murah agar tidak mematikan hotel-hotel berbintang lima dan empat yang sudah ada.
Selama ini, ceruk bisnis hotel budget sempat menjadi idola pengembang properti setahun silam. Namun, saat kondisi ekonomi makro melemah, banyak pengembang yang mengerem laju pembangunan.
“Pengembang besar mengerem pengembangan hotel budget, namun kami tetap menganggap bisnis ini prospektif, sebab lebih tahu bagaimana mengoperasikan hotel budget hotel,” terang Presiden Direktur PT Red Planet Indonesia, Suwito, saat melansir perkembangan terkini saat mengakuisisi Tune Hotels Indonesia belum lama ini.
Menurut Suwito, bisnis hotel budget memiliki pertumbuhan paling besar, karena masih baru di Tanah Air. “Secara keseluruhan, kontribusi hotel budget saat ini hanya sekitar lima persen,” jelasnya.
Dibanding hotel berbintang empat atau lima, imbuh Suwito, hotel budget memiliki beberapa keuntungan, pertama, investasi tidak terlalu besar, yakni sekitar Rp 100 miliar per hotel termasuk tanah. Lahan yang digunakan pun tak terlalu besar, sekitar 1.000-1.200 meter persegi.
Kedua, payback time berkisar lima tahun sejak mulai beroperasi, lebih cepat dibandingkan hotel berbintang empat atau lima. Ketiga, tingkat hunian atau okupansi rata-rata lebih tinggi, berkisar 80 persen hingga 90 persen. Hal ini dipengaruhi room rate yang hanya berkisar Rp 200 ribu-Rp 300 ribu per malam.
Kendati demikian, papar Suwito, lokasi strategis menjadi faktor utama dalam membangun hotel budget. “Lokasi harus mudah dijangkau dan dekat dengan kawasan komersial, karena hotel budget tidak menyediakan food and beverage. Selain itu, Jumlah kamar tidak boleh kurang dari 150 unit, karena di bawah 150 unit kurang efisien,” tutur Suwito.
Ditambahkan, kawasan paling prospektif untuk bisnis hotel budget adalah kota-kota yang sedang menggeliat dengan pembangunan infrastruktur. “Untuk wilayah kawasan timur Indonesia (KTI), Makassar dan Manado adalah kota-kota potensial mendirikan hotel budget,” tandasnya.
Hotel budget yang ramah anggaran masih saja menjadi daya tarik banyak pelaku bisnis perhotelan di Indonesia. Tak hanya pengembang properti raksasa yang melirik potensi bisnis hotel budget ini, tetapi juga perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) ikut terpikat menggeluti bisnis sektor wisata ini.
Uniknya, BUMN yang tertarik di bisnis hotel budget itu bukanlah BUMN yang sudah memiliki latar belakang bisnis hotel, seperti PT Hotel Indonesia Natour. Malah, yang melirik bisnis hotel budget ini adalah perusahaan operator bandara, PT Angkasa Pura I.
Perusahaan yang mengurus lalu lintas pesawat udara ini berani menggelontorkan investasi Rp 68 miliar guna membangun dua hotel berkonsep sederhana di Bandara Internasional Juanda, Surabaya dan Sultan Hasanuddin, Makassar.
Lantaran tak berpengalaman di bisnis hotel, Angkasa Pura I menggalang kerja sama dengan perusahaan operator hotel, yaitu Accor Asia Pacific Indonesia. Dalam berbisnis hotel ini, Angkasa Pura mengusung merek hotel, Ibis Budget Angkasa Pura Hotel.
Widodo Warmer, Direktur Utama PT Angkasa Pura Hotels selaku anak perusahaan bentukan Angkasa Pura I, bahkan berani mematok target miliki 2.022 unit kamar hotel budget hingga 2016 mendatang. “Setelah membangun di Surabaya dan Makassar, kami juga akan membangun hotel di bandara-bandara lain,” ujarnya.