02 October 2015

Eksotisme Hutan Bengo-bengo

HUTAN PENDIDIKAN - Hutan Bengo-bengo ditetapkan Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai hutan tempat praktik mata kuliah, penelitian, rekreasi, dan hal terkait edukasi lainnya sejak 31 Maret 1980. Sebagai hutan pendidikan, hutan ini adalah laboratorium alam yang sering digunakan sebagai tempat praktik serta penelitian mahasiswa dan dosen, Fakultas Kehutanan Unhas. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Menikmati keindahan pepohonan disertai kicauan burung, menjadi terapi bagi sebagian orang yang jenuh terhadap kebisingan kota. Hutan Bengo-bengo menawarkan konsep wisata panorama eksotis di Sulsel.
Di tengah hiruk-pikuk keramaian dan kebisingan kota, sesekali jika ada waktu, sempatkanlah mengunjungi Hutan Bengo-bengo. Hutan pendidikan yang terletak di Kabupaten Maros ini, berbatasan Taman Nasional Bantimurung. Terletak sekitar 60 kilometer dari Makassar, dapat ditempuh melalui perjalanan darat kurang lebih dua jam. Selama perjalanan, pelancong bakal disuguhi pemandangan indah kawasan karst Maros-Pangkep, yang merupakan kawasan karst terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.
Kawasan Hutan Bengo-bengo berdiri pada lahan seluar 1.300 hektare sesuai SK.86/MENHUT-II/2005, dan ditetapkan Universitas Hasanuddin (Unhas) sebagai hutan tempat praktik mata kuliah, penelitian, rekreasi, dan hal terkait edukasi lainnya sejak 31 Maret 1980. Sebagai hutan pendidikan, hutan ini adalah laboratorium alam yang sering digunakan sebagai tempat praktik serta penelitian mahasiswa dan dosen, Fakultas Kehutanan Unhas.
Pada Agustus lalu, Public Relation Coordinator Swiss-Belinn Panakkukang Makassar, Navisha Mardhatillah, melepas penat dengan mengunjungi Hutan Bengo-bengo. Berkonsep hutan pendidikan, hutan itu memiliki potensi fisik, biologi, dan sosial yang strategis untuk dikelola sebagai pusat pendidikan, penelitian, pelatihan, dan pelayanan kehutanan di Sulsel dan kawasan timur Indonesia (KTI).
Navisha memaparkan, aktivitas pendidikan yang berlangsung di Hutan Pendidikan Bengo-bengo selama ini, masih didominasi kegiatan praktik dan penelitian terkait ilmu-ilmu kehutanan dasar. Sejak dua tahun terakhir, mahasiswa juga telah melaksanakan praktik umum dan kuliah kerja nyata (KKN) profesi kehutanan di Hutan Pendidikan dan desa-desa yang ada di sekitarnya. Secara administrative, Hutan Bengo-bengo berada di tiga kecamatan, Cenrana, Camba, dan Mallawa.
Menurut pengamatan Navisha, aktivitas masyarakat dalam dan sekitar hutan adalah bersawah, berkebun, beternak, dan sebagian memanfaatkan hasil hutan kayu, pembuatan gula aren, pengambilan benih tanaman, pemanfaatan tanaman obat-obatan, dan lain-lain. Aktivitas masyarakat tersebut, membentuk agroekosistem yang dimanfaatkan banyak stakeholder menjadi tempat belajar bersama.
“Potensi alam dan keberadaan satwa langka dalam hutan, merupakan daya tarik. Banyak peneliti dari dalam maupun luar negeri datang melakukan penelitian. Kawasan hutannya rimbun dengan berbagai jenis pepohonan, didominasi pohon pinus tinggi menjulang dengan hawa sejuk khas pegunungan,” ungkap Navisha.
Hutan Bengo-bengo menyimpan potensi wisata yang luar biasa. Wisatawan yang menyukai jenis wisata petualangan, akan menemukan berbagai sensasi yang menakjubkan. Pemandangan alamnya indah, menyenangkan, dan keasriannya masih tetap terjaga. Kontur alamnya berbukit-bukit, hampir seluruh permukaannya ditutupi rumput tebal.
“Menurut pengelola, satwa-satwa liar yang berkembang biak dengan baik di Hutan Bengo-bengo, di antaranya Macaca Maura dan Tarsius,” beber Navisha.
Dijelaskan, Macaca Maura adalah sejenis kera berekor sangat pendek. Ukuran tubuhnya lebih besar dan ekornya pendek, bahkan ada yang tidak berekor. Kera ini lebih pintar dibandingkan sejenisnya, memiliki warna bulu hitam dan mengkilap pada punggung dan anggota badan lainnya.
Yang paling istimewa adalah Tarsius, binatang unik dan langka. Primata kecil ini sering disebut sebagai monyet terkecil di dunia, meskipun sebenarnya satwa ini bukan monyet. Sedikitnya terdapat sembilan jenis Tarsius yang ada di dunia. Tujuh jenis terdapat di Sulawesi. Yang paling dikenal ada dua jenis, yaitu Tarsius Tarsier atau “kera hantu” dan Tarsius Pumilus (tarsius kerdil, krabuku kecil, atau Pygmy tarsier). Semua jenis tarsius termasuk binatang langka dan dilindungi di Indonesia.
Pembangunan sarana dan fasilitas pendukungnya dibangun secara bertahap, hasil kerja sama penduduk setempat dengan Unhas guna memenuhi kebutuhan pengunjung. Sejak 2007, kelengkapan sarana dan fasilitasnya semakin memadai dengan dibangunnya resort, kamar mandi umum, aula, serta sarana ibadah. Itu membuat wisatawan bisa lebih betah dan leluasa menikmati keindahan alam Hutan Bengo-bengo.
Merunut namanya, dalam bahasa Makassar Bengo artinya mabuk, tetapi bukan diakibatkan minuman alkohol. Misalnya, seseorang yang makan sesuatu terlalu banyak mengakibatkan muntah. Melihat hal tersebut, biasanya orang Makassar menyebutnya dibengoi atau mabuk. Sebagaimana namanya, orang yang berkunjung ke Hutan Bengo-bengo, rasanya akan selalu ingin datang kembali, walaupun mungkin perjalanan ke sana membuat hampir mabuk darat dan pusing. Akan tetapi, begitu menginjakkan kaki, kepenatan otomatis lenyap disaput indahnya pemandangan.

Komunitas Kreatif Festival Musik Hutan

Kecintaan terhadap lingkungan hidup menjadi motivasi sejumlah komunitas musisi indie Makassar untuk menggelar event bertajuk “Musik Hutan”. Maksud kedatangan Navisha ke Hutan Bengo-bengo waktu itu adalah untuk menghadiri acara berkonsep festival musik ini pada 28-30 Agustus lalu. Ternyata, bukan hanya musik yang dapat dinikmati, pemandangan alamnya juga sangat menarik dinikmati.
Selama tiga hari, puluhan band indie Sulsel menunjukkan performansinya. Hebatnya lagi, event ini diselenggarakan tanpa bantuan sponsor dari perusahaan apapun. Hanya media massa yang menjadi pendukung untuk mempublikasikan. Idealisme yang diusung membuat Navisha penasaran, dan ikut masuk hutan melihat pagelaran akbar musisi lokal Sulsel tersebut.
Bagi yang belum sempat menyaksikan, event ini bakal bisa disaksikan setiap tahun di Hutan Bengo-bengo. “Karena sudah menjadi agenda rutin komunitas kreatiif Makassar. Semua genre musik mengalun indah mengisi kesunyian hutan. Pengunjung yang ingin merasakan secara total atmosfet event, dapat menginap karena ada penyewaan villa dan tenda di sana,” imbuhnya.
Navisha menambahkan, bagi musisi maupun hanya penikmat musik, rugi kalau belum pernah datang ke event Musik Hutan. Pasalnya, acara ini dapat dimasukkan sebagai agenda tahunan traveler yang ingin berkunjung ke Sulsel.