22 October 2015

Cetak Konvensional Masih Eksis

TETAP EKSIS - Desain grafis tengah mengerjakan layout percetakan di UD Citra Satria. Meskipun saat ini sudah memasuki era cetak digital, tetapi beberapa pelaku usaha percetakan konvensional masih tetap eksis di Makassar. Salah satunya adalah percetakan UD Citra Satria yang berlokasi di Jalan Rajawali. BLOGKATAHATIKU/IST 
BLOGKATAHATIKU - Meskipun saat ini sudah memasuki era cetak digital, tetapi beberapa pelaku usaha percetakan konvensional masih tetap eksis di Makassar. Salah satunya adalah percetakan UD Citra Satria yang berlokasi di Jalan Rajawali. Diakui pemiliknya, Sugianto, setiap bulan bisa menerima 25-30 macam paket pesanan jika ada momen tertentu, seperti pemilihan kepada daerah (Pilkada) dan pemilihan calon legislatif. Proses pengerjaan satu paket cetakan maksimal memakan waktu tiga hingga empat hari.
Beberapa alat bantu sosialisasi yang paling banyak dipesan konsumennya antara lain baju kaus, spanduk, brosur, kalender, kartu nama, dan stiker. Mengenai harga, UD Citra Satria membanderol cetakan dengan harga variatif, tergantung hasil negosiasi yang dilakukan. Sebagai contoh, untuk kaus oblong dibanderol mulai Rp 16 ribu-Rp 55 ribu, spanduk Rp 20 ribu-Rp 50 ribu per meter, stiker Rp 1.000-Rp 5 ribu, dan kartu nama Rp 25 ribu-Rp 45 ribu per boks.
Terkait omset, rata-rata pemasukan UD Citra Satria pada saat momen Pilkada lalu Rp 200 juta sebulan. Bagi Sugianto, meskipun jumlah penjualan terlihat besar, tetapi belum sebanding dengan beban produksi yang ditanggung perusahaan. Biaya produksi tersebut di antaranya harga bahan baku yang semakin tinggi, dan kenaikan upah pekerja yang juga melambung tinggi.
Diakui, seiring bertumbuhnya usaha percetakan di Makassar, tidak dapat dihindari terjadinya penurunan pesanan yang sangat drastis. Keterbukaan pasar yang kemudian membuat calon konsumen lebih banyak yang memesan alat sosialiasi melalui media online. Percetakan pun banyak yang menawarkan waktu cetak yang lebih singkat.
Saat ini, banyak konsumen sudah memesan cetakan melalui website percetakan di internet. Stretagi tersebut banyak digunakan perusahaan percetakan besar yang berkedudukan di Jawa. Apalagi, perbedaan harga yang cukup jauh membuat konsumen lebih memilih menggunakan jasa perusahaan percetakan besar tersebut.
Usaha percetakan Citra Satria dirintis Sugianto sejak 1987. Modal yang digunakan hanya Rp 15 ribu, dengan menjadi perantara bagi konsumen yang ingin menggunakan jasa percetakan. Setelah dirasakan sudah cukup maju, ia mulai mengontrak rumah yang dijadikan kantor guna menjalankan usaha percetakan yang dilabeli merek UD Citra Satria. Setelah sekian lama mengontrak, bangunan tersebut pun dibeli Sugianto. Untuk melebarkan usahanya, dua bangunan yang berada di samping kantornya ikut dibeli.