23 September 2015

Panorama Kota Kosmopolitan Singapura

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Singapura merupakan negara tetangga yang paling sering dikunjungi warga negara Indonesia. Itu karena biayanya yang relatif lebih terjangkau. Walaupun ukuran wilayahnya kecil, memiliki cukup banyak tempat wisata dengan panorama gedung tinggi khas kota kosmopolitan.
Beberapa bulan lalu, penyiar Radio Bharata Makassar, Erick Alamsyah bersama teman-temannya mengunjungi negara yang perdana menterinya bernama Lee Hsien Loong. Penerbangan dilakukan selama kurang lebih dua jam dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin menuju Bandar Udara Internasional Cangi Singapura.
Selama empat hari Erick berlibur di Singapura. Waktu yang cukup singkat tersebut dimanfaat sebaik-baiknya untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang sudah dikenalnya lebih dulu melalui kerabat yang sudah pernah mengunjungi negara ini.
Tujuan utama yang dipilihnya adalah Merlion Park. Di tempat ini berdiri sebuah patung kepala singa dan berbadan ikan, yang sudah menjadi maskot Singapura. Nama Merlion merupakan gabungan dari “mermaid” dan “lion” atau dalam bahasa Indonesia adalah ikan duyung dan singa. Taman Merlion Park buka 24 jam setiap hari, dan tidak dipungut biaya bagi siapapun yang ingin berkunjung.
 Para pelancong dapat menghemat biaya perjalanan, dengan mengunjungi tempat ini. Selain berfoto-foto, juga dapat menikmati pemandangan sungai yang ada di lokasi ini, karena Merlion Park terletak di depan Singapore River. “Memiliki foto di depan Merlion Park sudah menjadi kewajiban. Dapat dijadikan sebagai kenang-kenangan sekaligus bukti sudah pernah ke Singapura,” ujarnya.
Berdekatan dengan patung Merlion, ada sebuah gedung yang bernama Esplanade. Gedung ini juga biasa disebut gedung mata lalat atau durian. Mereka yang pergi ke Singapura dan tidak megabadikan kenangan di tempat ini, akan terasa tidak sedang wisata ke Singapura. Berlokasi di seberang hotel Fullerton, di Taman Merlion, One Fullerton. Untuk menuju ke sana, dapat menaiki MRT yang kemudian turun di stasion Raffles Place atau City Hall, lalu dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Marina Bay Sands adalah ikon sekaligus tempat wisata di Singapura yang terbaru. Hampir semua wisatawan dari Indonesia yang datang ke Singapura berfoto-foto dengan latar belakang Marina Bay Sands. Tempat ini, selanjutnya menjadi tujuan Erick dan teman-temannya. Marina Bay Sands adalah sebuah pusat hiburan dan resort terpadu yang dibuka sejak 2010.
Penampilan visual bangunan Marina Bay Sands sangat unik, tiga gedung utama yang dihubungkan dengan bangunan berbentuk kapal di atasnya. Marina Bay Sands memiliki ribuan kamar hotel, kasino, teater, ruang kesenian, restoran, klub malam, taman, hingga mal mewah, yang semuanya berada dalam satu lokasi. Selain itu, di bangunan berbentuk perahu yang ada di atas gedung, terdapat kolam renang yang merupakan kolam renang terpanjang di dunia, dengan panjang sekitar 150 meter, dan berada di ketinggian 200 meter.
Di atas ketinggian Marina Bay, wisatawan dapat melihat Singapura, Indonesia, dan Malaysia. Apabila ingin naik ke atas Marina Bay Sands, harus membayar sekitar Rp 250 ribu. Pada malam hari, Marina Bay Sands mempertontonkan atraksi cahaya yang menarik dan dipantulkan Danau Marina Bay.
Tidak jauh dari gedung Marina Bay, Erick menyempatkan diri mengunjungi Gardens by The Bay, yang merupakan sebuah taman unik. Selayaknya taman, Gardens by The Bay mempunyai banyak pohon dan tumbuhan hijau. Uniknya, wisatawan dapat menemukan beberapa pohon buatan menjulang tinggi bak pohon  raksasa. Pohon-pohon buatan ini terbuat dari baja dan berfungsi untuk menampung air hujan dan energi matahari.
Pada malam hari, lampu yang dipasang di pohon buatan setinggi gedung bertingkat 16 ini akan menyala, sehingga menjadi sangat indah dipandang mata. Untuk berkeliling di area ini tidak dikenakan biaya. Namun, apabila ingin naik dan berjalan-jalan di jembatan yang menghubungkan pohon-pohon buatan tersebut, harus membeli tiket Rp 50 ribu. Di area ini terdapat juga Cloud Forest dan Flower Dome, yang merupakan tempat konservatori tanaman dan bunga dengan tiket Rp 350 ribu.
Singapura memiliki beragam kuliner perpaduan cita rasa warisan multikultur yang kaya. Keragaman budaya masyarakat tercermin dari rangkaian hidangan menu lokal yang bisa ditemukan, seperti makanan Melayu, India, Tionghoa, dan lainnya. Sebagai seorang Muslim, Erick mencari tempat kuliner yang halal, dan itu tidak terlalu sulit untuk didapatkan.
Untuk hidangan kuliner khas Melayu di Singapura, tidak terlalu berbeda jauh dengan kuliner yang ada di Indonesia. Wisatawan dapat menikmati berbagai macam rempah yang terdapat dalam setiap sajian menu masakan, seperti jahe, kunyit, serai, daun kari, dan cabai. Salah satu kuliner halal yang cukup popular adalah roti prata, martabak, dan nasi biryani.
Di Singapura juga dapat ditemui restoran yang berasal dari Indonesia. Salah satunya adalah Tambuah Mas Indonesian Restaurant. Ini merupakan restoran Indonesia tertua di Singapura, berdiri sejak 1981. Restoran ini menyediakan masakan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Padang, Sulawesi, dan Jawa. Beberapa menu favorit, antara lain tahu telur, gado-gado, soto ayam, ikan nila goreng, sate ayam, dan nasi kuning.
Kurang lengkap liburan ke Singapura tanpa mengunjungi taman hiburan yang sangat terkenal, Universal Studio. Tempat ini mirip Dunia Fantasi (Dufan) di Jakarta, dan merupakan salah satu tempat wisata di Singapura yang paling terkenal bagi warga Indonesia. Harga tiket Universal Studios pada akhir pekan, tanggal merah, dan musim liburan cukup mahal, bisa sampai Rp 1 juta untuk orang dewasa. Apabila ingin hemat, cukup berfoto di depan bola dunia Universal Studios.
Apabila ingin masuk dan bermain di Universal Studios, datanglah pada pagi hari. Antrean permainan di Universal Studios bisa sangat panjang, kecuali yang mempunyai tiket prioritas, sehingga tidak perlu mengante panjang. Harga tiketnya tentu lebih mahal dari tiket biasa.

Berburu Oleh-oleh di Bugis Street

Mengunjungi suatu tempat wisata rasanya kurang lengkap jika tidak membawa oleh-oleh. Banyak lokasi berbelanja di Singapura yang bisa didatangi, mulai mal mewah hingga pasar pinggir jalan, yang menjual beragam suvenir.
Penasaran dengan namanya, Erick memilih berburu oleh-oleh di Bugis Street. Tampak tulisan “Bugis Street” besar menyala terang seolah menyambut pengunjung yang datang. Bugis Street adalah sebuah jalan di Singapura yang terkenal dengan wisata belanjanya. Bugis Street menawarkan pengalaman wisata belanja murah ala jalanan. Lokasi Bugis Street hanya sekitar 50 meter dari stasiun Bugis..
Saat memasuki kawasan Bugis Street, dengan mudah ditemukan suvenir lucu khas Singapura. Mulai dari gantungan kunci, magnet kulkas, kaus, tas, dompet, hingga makanan kecil seperti coklat, biskuit, hingga selai srikaya. Untuk kaus dibanderol pedagang 10 dolar Singapura per tiga pieces. Jika ingin membeli baju kaus dengan kualitas lebih baik, harga per helainya 10 dolar Singapura.
Sejarah Bugis Street jauh berawal pada saat Singapura masih bernama Temasek, yang terkenal sebagai kota pelabuhan, menarik banyak imigran dari berbagai etnis untuk datang dan berdagang. Pedagang dan pelaut ulung Bugis dari Indonesia juga berkumpul di sini. Pada 1829, dari Makassar mereka membawa rempah-rempah dan emas menggunakan perahu Phinisi menyeberangi lautan.
Kedatangan pelaut-pelaut Bugis sekaligus membentuk komunitas Bugis yang bermukim di kampung Bugis atau Bugis Village. Di kawasan Bugis berdiri pusat perbelanjaan terkenal seperti Bugis Village, Bugis Junction, Bugis Square, dan Arab Street. Di kawasan ini juga terdapat masjid terbesar di Singapura, Sultan Mosque yang merupakan masjid peninggalan pengusaha pengusaha Bugis.
Konon untuk membangun masjid itu, orang-orang Bugis mengumpulkan uang dan emas, bahkan menjual tanahnya.