01 October 2015

Melihat Sisa Erupsi Gunung Merapi

GUNUNG MERAPI - Pasca letusan besar Gunung Merapi pada 2010, ada beberapa yang berubah pada tempat tersebut. Meski demikian, hal itu justru semakin menambah pesona keindahan Gunung Merapi. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Meskipun peristiwa meletusnya Gunung Merapi sudah terjadi 2010 lalu, masih banyak wisatawan yang berdatangan ingin melihat langsung sisa-sisa keganasan erupsi yang sangat dahsyat tersebut.
Pergi ke Yogyakarta, jangan lupa berwisata ke lereng Gunung Merapi. Masyarakat di sana menyebutnya Lava Tour Merapi. Beberapa waktu lalu, penulis berkesempatan mengunjungi tempat mengalirnya lava atau lahar yang berasal dari letusan Gunung Merapi pada 2010 lalu.
Pasca letusan besar pada 2010, ada beberapa yang berubah pada tempat ini. Hal tersebut semakin menambah pesona keindahan Gunung Merapi. Desa-desa yang berjarak empat hingga enam kilometer dari puncak gunung tidak bisa dihuni lagi. Sebagai gantinya, berdiri hunian sementara yang diperuntukkan bagi pengungsi yang kehilangan rumah.
Kawasan yang banyak diterjang awan panas di Desa Kinahrejo, masih terlihat sisa-sisa reruntuhan bekas pemukiman penduduk. Tunas-tunas dari sisa tanaman yang hangus, sudah mulai muncul membentuk tanaman baru. Wisatawan bisa menggunakan jasa ojek untuk menyusuri kawasan tersebut. Banyak penduduk setempat yang menyewakan jasa ojek dan berjualan suvenir.
Sungai Opak merupakan salah satu sungai yang berhulu di lereng Gunung Merapi sebelah selatan. Panjang Sungai Opak kurang lebih 12 kilometer, dengan kedalaman sekitar 30 meter. Sungai ini memisahkan dua desa di Kecamatan Cangkringan, yaitu Desa Kepuharjo dan Desa Umbulharjo. Sejak puluhan tahun lalu, banyak warga yang mencari nafkah di sungai ini dengan cara menambang pasir dan batu yang ada di dalamnya.
Saat Gunung Merapi meletus, Sungai Opak dilewati lahar panas yang berasa dari luapan di Sungai Gendol. Tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya mati, dan pemukiman warg hancur akibat terjangan awan panas. Material pasir dan batu semakin bertambah dari sebelumnya. Adanya penambagan batu dan pasir membuat jumlah lahar semakin berkurang.
Di Dusun Petung, Desan Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, terdapat Museum Sisa Hartaku. Museum ini merupakan satu dari sekian banyak rumah yang terbakar akibat letusan Gunung Merapi. Kondisi rumah yang rusak parah, membawa imajinasi betapa mengerikannya bencana erupsi yang terjadi pada 2010 lalu.
Benda yang cukup berkesan di dalam museum itu adalah jam erupsi. Ini merupakan satu-satunya jam yang menunjukkan waktu ketika rumah atau daerah di wilayah tersebut hancur. Jarum pendek menunjukkan angka 12, sementara jarum panjang menunjuk angka lima, atau dengan kata lain wilayah Dusun Petung hancur pada pukul 00.05 Wib.
Dalam museum, pengunjung juga dapat melihat kumpulan benda yang menjadi saksi bisu kedahsyatan erupsi Gunung Merapi. Benda tersebut antara lain sepeda motor, benda pusaka, gamelan, kerangka hewan, dan berbagai perlengkapan rumah tangga yang meleleh akibat keganasan awan panas atau dikenal dengan “wendhus gember”.
Yang cukup menjadi perhatian wisatawan di Gunung Merapi adalah batu besar yang keluar dari mulut Gunung Merapi ketika erupsi di 2010. Batu berdiameter kurang lebih lima meter ini dijuluki Batu Alien. Itu karena bentuknya yang menyerupai wajah manusia. Dari sisi kiri, terlihat jelas bentuk batu yang kelihatan seperti kepala manusia, dilengkapi anggota tubuh pada umumnya, mata, hidung, mulut, telinga, dagu, dan kening. Banyak warga sekitar berpendapat, wajah di batu itu menunjukkan ekspresi sedih atau sedang menangis.
Dari sisi utara Batu Alien, terdapat hamparan pasir yang cukup luas akibat luapan lava dari Sungai Gendol saat letusan Gunung Berapi sebelum erupsi. Daerah tersebut merupakan pemukiman waga Dusun Jambu. Sebelumnya, di daerah ini berdiri tiga bangunan rumah dan dua kandang sapi.
Pada 2005, dibangun sebuah bunker di lereng Gunung merapi, tepatnya di Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Tujuan sebagai tempat perlindungan ketika Gunung Merapi meletus. Dalam bunker dilengkapi ruang tabung oksigen, kamar mandi, dan lampu untuk penerangan. Di 2010 lalu, bunker ini kembali tertimbun material lava akibat letusan gunung. Meskipun sudah dua kali tertimbun, sampai saat ini bangunan bunker masih kokoh berdiri. 

Desa Kinahrejo dan Mbah Marijan

Ketika hendak mendaki Gunung Merapi, bisa jadi traveler akan melewati sebuah desa yang menjadi saksi bisu dahsyatnya bencana letusan pada 2010. Desa itu bernama Desa Kinahrejo. Desa ini banyak dikunjungi wisatawan, karena menjadi pintu gerbang untuk memulai pendakian ke Gunung Merapi.
Desa Kinahrejo tidak bisa dilepaskan dari sosok fenomenal juru kunci Gunung Merapi, Raden Ngabehi Surakso hargo atau lebih dikenal dengan sebutan “Mbah Marijan”. Sosoknya diketahui ikut menjadi salah satu korban erupsi Gunung Merapi dan dimakamkan di Srumen, Glagaharjo. Mbah Marijan semakin terkenal sejak menjadi bintang iklan sebuah produk minuman penambah stamina.
Berkat kegigihannya melaksanakan tugas sebagai juru kunci Gunung Merapi, banyak orang menganggapnya sebagai pahlawan. Tidak sedikit wisatawan yang berkunjung ke Gunung Merapi, menyempatkan diri untuk berziarah ke makam Mbah Marijan. Dalamnya Sungai Gendol yang menjadi jalur utama lava dari Gunung Merapi, tidak menjadi hambatan bagi wisatawan untuk datang ke makam Mbah Marijan.
Memasuki Dusun Kinahrejo, wisatawan bisa melihat foto-foto terjadinya erupsi pada 2010 silam. Sedikit jalan ke atas, akan terlihat lokasi bekas rumah kakek yang sampai sekarang wajahnya masih sering terlihat di layar televisi, saat pemutaran iklan produk minuman yang pernah dibintanginya. Tepat di depannya, ada warung yang menjual aneka suvenir dan makanan.
Dengan berwisata ke kampung Mbah Marijan, wisatawan dapat belajar banyak hal, khususnya masalah ketulusan dan kegigihan sang juru kunci. Meskipun kondisi sudah sangat berbahaya, Mbah Marijan masih tetap setia menjaga kampung halamannya, dan mendoakan keselamatan penghuni desa.