01 October 2015

Berdayakan Rumput Laut Sulsel, ARLI Proyeksi Ekspor 3 Juta Ton di 2016

RUMPUT LAUT - Sulsel merupakan pemasok terbesar rumput laut se-Indonesia karena menyuplai 40 persen produksi rumput laut nasional. Dari data menunjukkan, produksi rumput laut Sulsel terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Pada 2013, produksi rumput laut Sulsel mencapai 2,4 juta ton, dan menjadi 2,7 juta ton pada 2014. BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Rumput laut Sulsel semakin diburu pengusaha asing. Ini terlihat dari banyaknya perusahaan luar negeri, seperti Singapura dan Tiongkok yang menjalin kerja sama ekspor rumput laut.
Perlu diketahui, Sulsel merupakan pemasok terbesar rumput laut se-Indonesia karena menyuplai 40 persen produksi rumput laut nasional. Dari data menunjukkan, produksi rumput laut Sulsel terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Pada 2013, produksi rumput laut Sulsel mencapai 2,4 juta ton, dan menjadi 2,7 juta ton pada 2014.
Melalui momentum penandatanganan nota kesepahaman kerja sama ekspor dengan nilai 782,71 juta dolar AS, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel atas nama Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, dalam sambutannya mengungkapkan apresiasinya terhadap tingginya animo pengusaha asing yang meminati rumpul laut Sulsel tersebut. Untuk itu, pihaknya akan menanam rumput laut sebanyak tiga juta ton di sepanjang 600 kilometer pantai Sulsel.
“Dengan kerja sama ini, diharapkan bisa meningkatkan perekonomian Sulsel. Pemprov Sulsel sepenuhnya mendukung kerja sama berbasis bisnis ini,” ungkap Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo seusai penandatanganan kerja sama ARLI di Hotel Novotel, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar.
Terkait hal itu, Sekjen Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) Sulsel, Arman Arfah, saat ditemui terpisah di Kafe Seaweed, Jalan Anggrek Raya, Toddopuli, Makassar, mengatakan, pihaknya justru memperkirakan penyuplai produksi rumput laut akan mengalami penurunan lantaran depresiasi rupiah telah berlangsung awal tahun ini, yang bakal mempengaruhi ekspor rumput laut. Menurutnya, pengekspor cenderung menahan ekspor rumput laut jika harga pasar internasional turun.
“Komoditas rumput laut pada 2016, akan digenjot hingga bisa menghasilkan produksi hingga tiga juta ton. Pada 2018, ditargetkan meningkat hingga tiga kali lipat. Jadi, saat ini peningkatan volume aplikasi sekarang jadi pekerjaan rumah bagi ARLI Sulsel. Meski eksportir cenderung menahan ekspor, saya berharap dan meminta petani rumput laut terus meningkatkan produksi rumput lautnya,” harap Arman.
Sebelumnya, kerja sama tersebut menindaklanjuti hasil kunjungan Presiden RI, Joko Widodo ke Beijing, Tiongkok, beberapa waktu lalu. Bersamaan, ARLI juga menjajaki kerja sama dengan beberapa investor asal Tiongkok.
Investor Tiongkok tersebut tergabung dalam China Algae Industry Association atau Asosiasi Industri Rumput Laut Tiongkok, sempat berkunjung ke Makassar untuk meninjau budidaya rumput laut di Takalar.
“Intinya, kami menjalin kerja sama. Kerja sama tersebut bisa berupa peningkatan ekspor rumput laut dari Sulsel ke Tiongkok, maupun dukungan teknologi industri kami ke provinsi (Sulsel) ini,” ujar Secretary General of the China Algae Industry Association, Jingxiang Guan, yang saat itu didampingi Ketua Umum ARLI, Safari Azis.
ARLI dan rombongan pengusaha asal Tiongkok yang dipimpin Jingxiang, bersama Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel, Sulkaf S Latief, saat itu menggelar konferensi pers dengan wartawan.
Dalam kesempatan tersebut, pengusaha rumput laut dan Pemprov Sulsel memprotes kebijakan pemerintah pusat yang berniat memberlakukan bea ekspor rumput laut. “Jika diberlakukan, eksportir di Sulsel yang akan merugi,” imbuh Sulkaf.