18 May 2015

Mencari Karya Tenun ke “Nusa Bunga” Flores

Mencari Karya Tenun ke “Nusa Bunga” Flores

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Bagi pecinta kain, tenun merupakan salah satu daftar wajib koleksi lantaran terhitung eksklusif dan tidak “mainstream”. Selain itu, belakangan ini beberapa desainer terkenal juga mulai melirik kain tenun. Berbanggalah, sebab Indonesia merupakan negeri yang dianugerahi motif kain tenun yang sangat kaya, terbentang dari Sabang sampai Merauke.
Menyoal penghasil kain tenun berkualitas, Flores atau dikenal sebagai “Nusa Bunga”, termasuk dalam daftar unggulan. Untuk mencari tenun berkualitas, traveler dapat menyusuri lima desa yang tersebar di pelosok Flores untuk mengagumi kekayaan motif kain tenunnya.
Adalah Ende, kota yang lokasinya di wilayah pesisir, persis berada di bagian tengah Pulau Flores, di antara Labuan Bajo dan Maumere. Kota ini terhitung belum terlalu ramai, jalan raya masih belum terlalu padat, belum ada mal besar, hanya satu-dua minimarket dan toko-toko yang menyediakan barang kelontong.
Meskipun terhitung kota kecil, Ende menyimpan keragaman. Dari depan hotel wisatawan menginap, yang lokasinya dekat Bandara Hasan Aroeboesman, terhampar pemandangan Gunung Meja, yang meskipun bukan gunung aktif,  tampak perkasa dan menakjubkan. Legenda gunung itu mengukuhkan karakter sebagian besar masyarakat Ende yang menjunjung tinggi kemajemukan dan menghargai sesama.
Delapan kilometer di sebelah timur Kota Ende, dengan perjalanan sekitar 20 menit kendaraan bermotor, terdapat sebuah desa atau kelurahan bernama Onelako, Ndona. Desa ini mendiami wilayah datar yang ditumbuhi banyak pohon kelapa, tanaman kopi, dan kakao. Tak heran, meski termasuk wilayah pesisir, udaranya masih terasa sejuk dan asri. Apalagi, di desa ini juga terdapat sumber mata air Wolowona. Lokasinya yang tidak terlalu jauh dari kota, memungkinkan desa ini dihuni warga berbagai suku, etnis, dan agama. Kemajemukan menyebabkan motif kain tenun yang dihasilkan juga lebih kaya dan beragam.
Desa Onelako merupakan kawasan sentra kelompok tenun ikat tradisional yang masih mempertahankan penggunaan pewarna alami. Biasanya, traveler disambut dengan ramah di rumah warga setempat. Kebanyakan, warga memang bekerja sebagai penenun. Jika sudah bertandang ke salah satu rumah warga, biasanya traveler juga akan diperlihatkan beberapa helai kain tenun ikat hasil karya mereka yang sangat indah.
Kain-kain itu didominasi warna coklat dan merah bata dengan bahan dasar warna hitam. Warna inilah yang menjadi ciri khas dari Desa Onelako dan Kota Ende pada umumnya. Ciri khas lainnya, penggunaan hanya satu jenis motif di tengah-tengah kain.
Selain khas, kebanyakan kain tenun itu memiliki motif,  antara lain jara nggaja (kuda dan gajah), sinde ular kobra, mata pea, mata rajo, mata ria (daun sukun), dan karara (buah sukun). Sukun memang identik dengan masyarakat Ende. Bahkan, pendiri negeri ini, Soekarno, menemukan ide sila-sila Pancasila saat tengah merenung di bawah pohon sukun yang bercabang lima.

Bertandang ke Desa Adat Megalitikum

Jika sudah terlanjur menjejakkan kaki di Ende, jangan sampai melewatkan perjalanan menuju Desa Wolotopo. Pasalnya, desa ini menyimpan pesona tersendiri, dan merupakan pengalaman yang luar biasa bagi wisatawan karena dapat menikmati hamparan indah hasil kolaborasi dari pemandangan tebing berbatu, pepohonan, dan tepian Pantai Nanganesa.
Beberapa wisatawan mancanegara biasanya sengaja berjalan kaki menempuh jarak lima kilometer. Menurut mereka, dengan berjalan kak, tak akan kehilangan sedetik pun momen yang mempesona di Desa Wolotopo.
Desa yang merupakan kawasan desa adat megalitikum itu lokasinya di perbukitan, sehingga untuk sampai ke sana harus melewati jalan setapak yang menanjak. Sambil menaiki anak tangga, traveler harus menyusuri jalan-jalan sempit di antara rumah-rumah warga yang padat dan saling berimpitan.
Saat kaki traveler menyelesaikan pijakan anak tangga terakhir, berarti sampailah di depan rumah adat Wolotopo. Pemandangan dari lokasi paling atas memang sangat indah. Di depan, tampak rumah-rumah adat yang menghadap ke altar tempat dilaksanakan upacara adat dan pemujaan para leluhur. Uniknya, rumah-rumah adat ini dibangun di pinggir tebing yang terdiri dari tumpukan batu yang tinggi dan kokoh.
Biasanya traveler akan disambut ramah beberapa warga, mempersilakan duduk di teras rumah. Mereka akan menjelaskan apa makna simbol dan ukiran yang ada di rumah mereka. Salah satunya, ukiran “payudara” yang menempel di dinding luar dekat pintu. Ternyata, payudara yang kecil melambangkan wanita yang belum menikah, sementara payudara yang panjang melambangkan wanita yang sudah menikah. Bagi warga Wolotopo, payudara seorang ibu dianggap sebagai sumber kehidupan dan lambang kesuburan.
Kondisi alam yang dominan kering dan menantang di sekitar Desa Wolotopo  membentuk masyarakatnya menjadi pribadi yang sangat gigih dan pantang menyerah. Terbukti, mereka terkenal sebagai penghasil bengkuang terbesar di wilayah Ende.
Hal lain yang paling menonjol, desa ini merupakan pusat penghasil tenun ikat. Kekhasan motif kain tenun di Desa Wolotopo cenderung kecil-kecil dan abstrak. Sementara, dilihat dari warna, tampaknya kuning emas menjadi kekhasan mereka. Mungkin karena kepercayaan nenek moyang mereka, suku Lio, yang menganggap kuning emas melambangkan rezeki.
Jika masih belum puas menikmati keindahan “Nusa Bunga”, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan menuju daerah lain seperti Desa Bena, Bajawa. Perjalanan darat dari Ende ke Bajawa, ibu kota Ngada, Flores, memakan waktu sekitar empat jam. Melewati jalanan berkelok-kelok yang tidak terlalu lebar dengan sisi kiri-kanan jurang. Desa Bena sendiri tidak terlalu jauh, karena hanya butuh waktu sekitar setengah jam berkendara dari Bajawa.
Perkampungan Bena terkesan teduh dan damai lantaran dikelilingi pohon besar. Selain itu, Gunung Inerie yang menjulang tinggi, kokoh, sekaligus angkuh, seolah mengayomi desa ini. Di sini, terhampar rumah tradisional yang arsitekturnya tampak seragam dan berderet rapi saling berhadapan. Deretan rumah di sisi kiri-kanan dipisahkan sebuah lapangan luas dengan batu-batu megalitikum yang tersusun sederhana. Di situlah lokasi makam nenek moyang, sekaligus menjadi lokasi upacara adat warga Desa Bena.
Unik memang, karena setiap unsur di desa ini sungguh menarik diamati. Misalnya, tanduk kerbau, taring babi, ukiran, lukisan, dan seluruh ornamen yang terpasang di rumah-rumah kayu beratapkan ilalang, yang pasti menyiratkan simbol dan nilai penting tersendiri.
Menenun merupakan pekerjaan yang lazim dilakukan warga setempat di teras rumah. Sejauh mata memandang, hanya terlihat hasil kerajinan tenun yang dipajang di teras rumah. Kain tenun di desa ini motifnya cenderung sederhana, terdapat gambar rumah adat dan kuda yang berada di tengah garis-garis horizontal. Selain itu, warnanya juga lebih cerah dan berwarna-warni. Meskipun hanya kain tenun, namun semua itu telah menggambarkan betapa kayanya budaya Indonesia.