01 May 2015

Kinerja Perbankan Sulsel Alami Pertumbuhan

Rasio NPL Cukup Rendah
Kinerja Perbankan Sulsel Alami Pertumbuhan

TUMBUH - Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Causa Iman Karana (tengah), saat menyampaikan hasil survei yang dilakukan BI beberapa waktu lalu. Kinerja perbankan Sulsel yang tercermin dari aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit pada Februari 2015, masih menunjukkan pertumbuhan. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Kinerja perbankan Sulsel yang tercermin dari aset, dana pihak ketiga (DPK), dan kredit pada Februari 2015, masih menunjukkan pertumbuhan. Faktor tersebut juga ditopang risiko yang aman dari rasio loan to deposit (LDR) yang meningkat, tercatat Rp 98,87 triliun atau tumbuh 9,44 persen (yoy), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan tahunan Januari 2015 yang tercatat 10,28 persen.
DPK perbankan Sulsel pada Februari 2015 tercatat sebesar Rp 64,6 triliun, tumbuh 10,37 persen (yoy), sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang tercatat 10,16 persen (yoy).
“Pertumbuhan DPK ini terutama didorong pertumbuhan giro dan deposito, masing-masing sebesar 12,37 persen (yoy) dan 21,68 persen (yoy),” terang Divisi Advisory dan Perkembangan Ekonomi Daerah, Miyono, dalam siaran persnya di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulsel, Jalan Jenderal Sudirman, Selasa (31/3/2015).
Selaras hal tersebut, penyaluran kredit perbankan di Sulsel pada Februari 2015 juga mengalami peningkatan sebesar 10,7 persen (yoy), dari Rp 87,72 triliun menjadi Rp 88,8 triliun.
“Dilihat dari pangsanya, kredit perbankan masih didominasi kredit konsumsi, yaitu sebesar 41,98 persen, diikuti kredit modal kerja 36,71 persen, dan kredit investasi sebesar 21,23 persen,” urai Miyono.
Dilihat dari sektor ekonomi, kontribusi kredit produktif terbesar ada pada sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) yang tercatat 31,17 persen, disusul industri pengolahan 6,44 persen, dan konstruksi 5,95 persen.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan BI Sulsel, Causa Iman Karana, menambahkan, pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari DPK menyebabkan LDR meningkat dari 135 persen pada Januari 2015 menjadi 137,49 persen pada Februari.
Dijelaskan, meskipun penyaluran kredit perbankan cukup eskpansif, risiko kredit relatif aman tercermin dari rasio NPL yang cukup rendah sebesar 3,69 persen, atau di bawah batas maksimal yang diteloransi sebesar lima persen.
“Kami lihat NPL masih aman dengan 3,69 persen, kondisi kredit ini kualitasnya masih cukup baik karena masih berada di ambang lima persen,” tandasnya.