14 February 2015

Pantai Apparalang

Pantai Apparalang
Pesona Wisata Bahari Bulukumba Sekelas “Raja Ampat”

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Belum semua orang mengetahui, di balik tebing curam itu ada pesona bahari yang menakjubkan. Terlihat dari atas birunya laut yang berkilau tertimpa matahari. Mungkin banyak pula yang tidak menyangka, alam yang dari luar terkesan liar dengan rimbunan hutan jati dan bakau yang sama sekali tak menarik itu, ternyata tersembunyi panorama pantai yang eksotis. Bahkan, tak sedikit yang kemudian menyebut kawasan tebing-tebing karang itu sekelas “Raja Ampat”.
Tempat yang masih belum banyak terjamah tersebut adalah Pantai Apparalang di Kabupaten Bulukumba, Sulsel. Dengan pesona dan keindahan alamnya, banyak pihak yang meminta pemerintah kabupaten (Pemkab) Bulukumba untuk mulai mengelola destinasi lokal yang terletak di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari itu.
Pantai Apparalang memang belum sepopuler Pantai Tanjung Bira dan destinasi lainnya di Bulukumba, namun jika diadu keindahan pantainya tidak kalah dibandingkan objek wisata yang sudah digarap sebelumnya. Suasana pantai ini pun tak “semeriah” pantai-pantai lainnya, malah cenderung sepi dan tenang. Tetapi, justru itulah sisi lain yang ditawarkan Apparalang.
Suasananya cocok untuk wisatawan yang ingin menghilangkan kejenuhan. Duduk saja di tepinya, nikmati desiran angin menyapa lembut tubuh. Airnya yang biru jernih dijamin mampu menyegarkan beban pikiran. Apalagi, pemandangan tebing-tebing Apparalang juga tak kalah menariknya.
Terkait akses menuju lokasi, jika menggunakan kendaraan bermotor, waktu perjalanan dapat ditempuh hanya sekitar 20 menit dari Pantai Tanjung Bira atau 60 menit dari pusat Kota “Butta Panrita Lopi” Bulukumba. Biaya menuju destinasi wisata yang masih alami ini cukup ekonomis, yakni Rp 150 ribu pulang-pergi (PP).
Salah seorang traveler dari Forum Pemuda Bahari Indonesia (FPBI) Sulsel, Abdul Rajab, saat ditemui Sekretariat FPBI, Jalan Tidung, Makassar, Kamis (12/2), menjelaskan, Apparalang menawarkan berbagai keindahan alam yang masih alami.
“Di atas tebing Apparalang, wisatawan bisa menikmati pesona pantai dengan airnya yang bening biru. Apalagi, pada saat ada sinar matahari yang memantul pada gulungan ombak kecil, maka keindahan itu tampak sempurna,” bebernya.
Rajab menyebut, daya tarik lain destinasi tersebut juga lantaran akses masuknya yang mudah, bahkan tidak dipungut  biaya baik ongkos masuk maupun menginap, karena semuanya gratis. “Pengunjung tidak membayar tiket masuk. Untuk menginap, wisatawan biasanya membawa perlengkapan camp seperti tenda dan alat masak sendiri,” imbuhnya.
Dijelaskan, untuk dapat menikmati deburan ombak yang mengempas karang secara dekat, ataupun ingin terjun merasakan sejuk dan beningnya air pantai, pengunjung harus menuruni sebuh tangga kayu yang lumayan tinggi. “Setelah itu, wisatawan akan mendapati sebuah dermaga kayu yang berdiri di atas batu-batu karang,” urainya.
Tak hanya untuk melabuhkan mata terhadap keasrian bahari Apparalang, wisatawan juga dapat melakukan aktivitas bawah laut seperti snorkeling maupun diving. “Pemandangan alam bawah laut tidak kalah indahnya, terumbu karang dan habitat hewan laut di Apparalang masih sangat alami. Tentu ini tak boleh dilewatkan,” pesannya.
Bahkan warga lokal yang hobi memancing, sebut Rajab, selalu menjadikan pantai tersebut sebagai tempat berburu ikan di kala senggang atau memanfaatkan hari libur. “Sambil memancing, mereka juga dapat menikmati keindahan Apparalang,” tuturnya.
Pada perjalanan kali ini, tim Jelajah Sulawesi bersama ratusan traveler dari berbagai daerah Sulsel, bahkan beberapa wisatawan Nusantara, menyambangi destinasi tersebut. Tak hanya itu, destinasi ini pun dijadikan lokasi syuting program salah satu stasiun televisi nasional.
“Pantai Apparalang perlu segera mendapat perhatian dari pemerintah. Ini guna mengoptimalkan infrastruktur sektor pariwisata, khususnya di Bulukumba. Pembenahan tersebut nantinya dapat memberikan kemudahan, kenyamanan, dan keamanan bagi wisatawan. Sebab, sangat disayangkan jika eksotisme destinasi ini tidak diindahkan. Padahal, saya sendiri mengategorikan tempat wisata ini ‘kelas dunia’. Apalagi, kalau sudah dikelola maksimal,” imbuhnya.