04 March 2015

Masjid Jami’ Tua Palopo

Masjid Jami’ Tua Palopo
Tapak Jejak Sejarah Islam                             

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Palopo merupakan salah satu kota di Sulsel yang memiliki beragam potensi wisata, baik alam hingga wisata sejarah. Salah satu objek wisata terkait sejarah Islam yang telah menjadi “landmark” warga Palopo adalah Masjid Jami’ Tua.
Senada namanya, Masjid Jami’ Tua merupakan masjid tertua di Palopo. Mesjid tersebut berdiri sekitar 1604, atau telah berdiri lebih empat abad saat kerajaan Luwu berkuasa. Merunut sejarah, masjid tersebut didirikan pada saat kepemimpinan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe yang berkuasa di Luwu sejak 1604.
Uniknya, masjid berukuran segi empat 15 kali 15 meter ini, memiliki dinding yang terbuat dari batu cadas setebal 0,94 meter, dan direkatkan dengan putih telur sebagai lak “semen”-nya. Arsitekturnya pun unik bernuansa pendopo candi-candi Jawa. Presisitas ukuran antara luas dan panjang bangunan masjid secara filosofis melambangkan persamaan atau kesataraan.
Tidak hanya itu, selain entitas Jawa dan Hindu, unsur lokal suku Bugis juga terlihat pada tiga struktur bangun gedung masjid yang mengikuti konsep rumah panggung Bugis. Konsep ini tampak pada atap maupun vinyet yang menghias eksterior bangunan masjid. Nuansa arsitektur Bugis juga dapat dilihat pada di tiang penyangga (juga terdiri dari tiga susun), yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu yang merupakan dinding tiga susun yang ditandai bentuk pelipit (gerigi) dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, hijau, putih, dan coklat.
Menariknya, Masjid Masjid Jami’ Tua ini pun dilengkapi tiang utma yang terbuat dari kayu pohon Cinaduri yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga sebagian besar masyarakat Palopo memiliki adagium bahwa pendatang yang ke Palopo, belum dapat dikatakan “berkunjung” ke Palopo apabila mereka belum menyentuh tiang utama (pohon Cinaduri) pada masjid tersebut.
Pada hari raya serta hari besar Islam seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, maupun Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid tersebut biasanya akan dipadati pengunjung. Selama ini, jemaah yang bertandang pun tidak hanya warga Palopo, tetapi warga pendatang dari seluruh pelosok Nusantara.
Arsitektur Masjid Jami’ Tua sendiri terdiri dari empat unsur, Bugis, Jawa, Hindu, dan Islam. Daftar renovasi atau perbaikan masjid, pertama pada 1700 (perbaikan lantai), kedua pada 1951 (mengganti tegel yang didatangkan dari Singapura), ketiga pada 1981 dengan mengadakan perbaikan secara keseluruhan. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima di 1990-an adalah dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti saat ini, 1.680 meter persegi.
Pengelolaan Masjid Jami’Tua Palopo terstruktur dalam kepengurusan yang dimusyawarahkan sekali setahun. Terdapat aturan pengurus terhadap wisatawan, seperti dilarang mengambil sesuatu dalam area masjid kecuali berfoto.