01 April 2015

Gunung Tunak

Gunung Tunak
Magnet Baru Wisata Alam di Lombok Tengah

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Taman wisata alam Gunung Tunak, yang terletak di Dusun Takar-akar, Desa Mertak, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, merupakan magnet baru pemikat kunjungan wisatawan. Setiap hari, wisatawan domestik maupun mancanegara, berbondong-bondong “menyerbu” kawasan dengan luas hutan mencapai 1.217,97 hektare ini. Kawasan tersebut menyimpan pesona destinasi yang benar-benar memikat.
Selain pemandangan berupa pantai dan gunung-gunung yang anggun, kawasan tersebut juga masih dihuni ribuan satwa langka yang hidup di darat maupun di laut. Di dalam kawasan hutan konservasi itu, terdapat puluhan jenis kupu-upu langka dan unik. Pengelola ekosistem setempat merilis hasil identifikasi yang pernah dilakukannya sejak lima tahun terakhir, terdapat 36 jenis kupu-kupu dan 40 nama titik lokasi dalam hutan.
Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (PEH BKSDA) Nusa Tenggara Barat, L Gede Gangga Widarma, salah satu petugas yang berjaga di Gunung Tunak, menuturkan, lokasi mulai dibuka menjadi kawasan wisata sejak 1991. Sementara, penetapan kawasan sebagai taman wisata alam baru pada 2014 lalu. Sejak itulah, kawasan penuh pesona tersebut mulai berbondong-bondong dikunjungi wisatawan.
 “Kawasan ini memang dibuka sekitar 1991, akan tetapi ditetapkan menjadi kawasan wisata, baru kemarin-kemarin. Surat Keputusan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) tentang amanat pemerintah pusat yang menunjuk kawasan ini untuk dijadikan objek pariwisata sekitar pertengahan 2014,” tuturnya, sembari memandu penjelajahan yang dilakukan dalam kawasan tersebut.
Ditambahkan, selain kupu-kupu, berbagai jenis satwa langka juga masih terpelihara di hutan. Satwa-satwa langka itu, antara lain rusa, burung gosong, kera, elang hitam, serta berbagai hewan lain yang hidup di darat. Sementara, satwa laut yang menjadi andalan wisata tempat itu adalah penyu, ubur-ubur, serta berbagai biota lainnya.
“Beberapa kali kami temukan pemburu rusa dan hewan lainnya di sini. Kami tegur, bahkan beberapa bekas perangkapnya kerap kami temukan. Tetapi, satwa di sini tergolong liar, tidak seperti d itempat lain, layaknya kera-kera di kawasan Pusuk,” lanjut pria yang berasal dari Kota Selong, Lombok Timur ini.
Dijelaskan, hutan konservasi yang dijaganya bersama dua orang Polisi Kehutanan (Polhut) itu terisi berbagai jenis tanaman obat. Masyarakat setempat, kerap menyusuri hutan itu untuk menemukan tumbuhan-tumbuhan yang biasa menjadi bahan utama pembuatan obat secara alami atau obat-obat tradisional.
“Kawasan ini kami bagi menjadi dua blok, blok pertama disebut Blok Perlindungan, sementara blok kedua adalah Blok Pemanfaatan. Dalam hutan, masih ditemukan banyak jenis pohon atau tanaman obat, sehingga masyarakat sekitar yang ingin mencari tanaman obat di sini, langsung masuk dalam hutan,” tuturnya.
Dijelaskan, pada Blok Perlindungan atau kawasan hutan yang menjadi pelindung diberikan ketentuan oleh BKSDA untuk tidak melakukan aktivitas yang sifatnya merusak tumbuhan atau tanaman. Aktivitas yang sifatnya mendirikan bangunan dan memanfaatkan kawasan hutan oleh pihak yang ingin berinvestasi, hanya boleh dilakukan pada Blok Pemanfaatan.
“Kalau ada investor yang ingin berinvestasi di sini tetap dipersilakan. Tetapi, ditempatkan pada Blok Pemanfaatan. Jika ingin berinvestasi, tentu harus melalui prosedur dan proses perizinan yang berlaku,” jelasnya.
Kendati demikian, hingga saat ini belum terlihat satu pun investor yang masuk berinvestasi pada kawasan wisata tersebut. Aktivitas dalam hutan, selain diisi pengunjung atau wisatawan, hanya terlihat masyarakat yang mulai mencari nafkah dengan membuka lapak berjualan.
“Aktivitas selama ditetapkannya kawasan ini menjadi objek wisata, silakan dapat dilihat sendiri. Masyarakat di sini membuka lapak, tempatnya di Blok Pemanfaatan ini. Mereka sebenarnya diwajibkan membayar pajak hanya Rp 250 ribu per tahun,” bebernya.

Tempat Persinggahan Burung Migran

Kawasan hutan konservasi yang terletak di Lombok bagian selatan tersebut dinyatakan sebagai tempat persinggahan burung migran, khususnya yang datang dari Australia. Burung yang berimigrasi itu, biasanya ditemukan di Gunung Tunak ketika Negara Kangguru tengah dilanda musim salju.
“Burung migran dapat ditemukan di sini ketika Australia sedang dilanda musim salju. Ada banyak jenis burung, tetapi yang berhasil kami identifikasi dan amati hanya pelikan,” ungkap Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (PEH BKSDA) Nusa Tenggara Barat, L Gede Gangga Widarma.
Dijelaskan, BKSDA bersama Polisi Kehutanan telah melakukan berbagai studi tentang aktivitas sejumlah satwa pada lokasi itu. Termasuk mengenai burung pelikan yang hanya dapat ditemui ketika cuaca di Australia sedang ekstrim, yang mengindikasikan burung-burung itu tidak mampu bertahan.
“Hasil pengamatan kami, sebetulnya bukan hanya di Tunak saja, akan tetapi memang mereka dominan ke sini jika dibandingkan tempat lain atau kawasan hutan sejenis. Bisa jadi, karena ini merupakan hutan di daerah selatan yang mudah dihinggapi sebab bersebelahan Australia,” imbuhnya.