31 March 2015

Sungai Ule

Sungai Ule
Eksotisme “Celebes Canyon” di Barru

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Keindahan alam Tanah Air, memang tidak kalah menariknya dibandingkan negara lain. Jika di Amerika Serikat (AS) ada Grand Canyon atau “Ngarai Besar”, yakni sebuah ngarai dengan tebing terjal di Sungai Colorada, Arizona utara, yang masuk sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, maka di Indonesia ada “Celebes Canyon”, Sungai Ule, Kabupaten Barru, Sulsel.
Titik koordinat Sungai Ule terletak di Desa Libureng, Kecamatan Tanete Riaja. Adapun jarak destinasi yang dikelilingi tebing-tebing karst putih dan coklat ini dari Makassar, berkisar 100 kilometer. Untuk mencapai lokasi, traveler harus berjalan kaki menelusuri pematang sawah sekitar 10 menit dari Desa Libureng.
Meskipun menyimpan eksotisme keindahan tersendiri, sayangnya keberadaan destinasi wisata sungai ini belum banyak diketahui wisatawan. Namun lepas dari itu, menariknya, di sela perjalanan menuju lokasi, pengunjung akan disuguhkan hamparan sawah yang hijau. Juga keramahan penduduk sekitar yang menambah daya tarik destinasi wisata ini.
Selain itu, berbagai keindahan alam pun ditawarkan destinasi tersebut, di antaranya tebing maupun bebatuan yang menjulang tinggi, disertai aliran air sungai yang jernih dan segar di sela-sela bebatuan tersebut.
Tidak hanya itu, di lokasi ini traveler dapat melakukan berbagai aktivitas alam, seperti river tubing dengan menggunakan ban dalam mobil atau pelampung, flying fox, rock climbing, serta fun camp yang tentunya akan menambah serunya petualangan.
Tidak jauh dari Sungai Ule, terdapat air terjun yang menambah keindahan lanskap alam ini. Namun, untuk ke lokasi tersebut, wisatawan sebaiknya memantau kondisi cuaca serta menyiapkan perlengakapan avonturir seperti tali, tenda, dan lainnya.
Di sela petualangan, tim Jelajah Bisnis Sulawesi bertemu beberapa wisatawan domestik. Salah seorang traveler dari Jakarta, Wijaksono Pramulia, mengaku jika destinasi Sungai Ule patut dijelajahi. Pasalnya, keindahan eksotik bakal banyak ditemui pengunjung di lokasi ini.
 “Saya bersama 10 rekan lainnya, datang khusus untuk menjelajahi Sungai Ule ini. Selain berpetualang, kami pun melakukan penelitian,” imbuhnya, tanpa menyebut detail penelitian yang dilakukan bersama rombongannya.
Wijaksono menambahkan, jika pengunjung bertandang ke Barru tanpa mengunjungi Sungai Ule, maka rasanya sangat rugi. Hal senada diungkapkan traveler lokal, Aris. Menurutnya, ia kerap menyambangi destinasi ini bersama pegiat lingkungan hidup lainnya pada saat kondisi cuaca mendukung.
Koordinator publikasi dan dokumentasi Max Media Entertainment ini menambahkan, kedatangannya ke Sungai Ule untuk pembuatan film pendek. Selain itu, juga untuk hunting foto panorama alam bersama komunitas fotografi lainnya. “Tentu saja karena suguhan alam di daerah ini sangat memikat,” tandasnya.

30 March 2015

Taman Laut Bunaken

Taman Laut Bunaken
Keindahan Wisata Favorit Dunia

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Keindahan pemandangan bawah laut Taman Laut Bunaken sudah populer ke seantero jagat. Ada 150 spesies dari 58 jenis ikan dan terumbu karang dapat dinikmati pecinta wisata pantai.
Jika berkunjung ke Sulawesi Utara, jangan sampai tidak menyempatkan diri ke Taman Laut Bunaken. Untuk menuju ke sana, dapat melalui Pelabuhan Manado, Marina Nusantara Diving Centre di Kecamatan Molas, dan juga dari Marina Blue Banter. Jika memilih berangkat dari Pelabuhan Manado, bisa menggunakan perahu motor dengan jarak tempuh sekitar 30 menit.
Apabila tidak mau direpotkan hal-hal kecil yang kadang menganggu kegiatan berwisata, dapat menghubungi travel agent. Rata-rata, travel agent sudah memiliki paket wisata murah ke Bunaken. Itu karena tempat wisata tersebut sudah sangat dikenal hingga mancanegara, dan masuk dalam alternatif pilihan selain Bali. 
Sejak dulu, Bunaken sudah menjadi tempat wisata favorit penyelam dan penikmat wisata pantai. Akan tetapi, setelah semakin populer lantaran Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana pernah melangsungkan perayaan bulan madu di Bunaken, maka keindahan wisata taman laut tersebut semakin mendunia.
Pada 2005 lalu, UNESCO menetapkan Taman Laut Bunaken sebagai salah satu situs warisan dunia. Untuk dapat masuk ke kawasan wisata Taman Laut Bunaken, harus memiliki harga tanda masuk (HTM) atau tiket yang dapat diperoleh di Kota Manado, atau juga langsung di Taman Nasional Bunaken. Harga tiket masuk wisata Bunaken Rp 2 ribu per orang per hari untuk wisatawan dalam negeri. Sementara, bagi wisatawan asing, harga tiket Rp 50 ribu per orang per hari. Tarif tersebut berlaku, baik bagi pengunjung yang ingin menyelam maupun tidak.
Taman Laut Nasional Bunaken mempunyai area seluas 75.265 hektare. Terdapat lima pulau yang termasuk dalam taman nasional, yaitu Pulau Naen, Bunaken, Manado Tua, Siladen, dan Mantehage, beserta anak pulau yang ada di sekelilingnya.
Secara geografis, Bunaken termasuk dalam wilayah perairan “Segi Tiga Emas”. Wilayah Segi Tiga Emas adalah jalur perairan laut yang menghubungkan laut Filipina, laut Papua, dan laut Indonesia. Karena kekayaan alamnya, organisasi nasional dan internasional nonpemerintah bekerja sama menjalankan konservasi terumbu karang dan mangrove. Karena keinginan pemerintah kota (Pemkot) Manado menjadikan Bunaken sebagai objek wisata bahari dan edukasi, pada 1991 Menteri Kelautan meresmikannya sebagai taman laut.

Alam Bawah Laut

Alam bawah laut Bunaken memang menjadi surga tersendiri bagi penggemar kegiatan menyelam, snorkeling, dan fotografi air. Dengan 40 titik selam, tentu akan membuat betah berlama-lama menyelam. Jika tak bisa berenang, tetap bisa menikmati keindahan tempat wisata bawah air, dengan menggunakan kapal selam yang telah didesain khusus. Dinding kapal berupa kaca transparan, sehingga bisa melihat dengan jelas pemandangan bawah laut yang luar biasa.
Pemandangan bawah laut Bunaken menyajikan berbagai jenis ikan tropis dan terumbu karang. Ada 150 spesies dari 58 jenis ikan dan terumbu karang di kawasan tersebut. Spesies ikan yang umum dijumpai adalah wrase, dansel, trigger, sweetlip, unicorn, dan sebagainya. Karakter unik Taman Laut Bunaken adalah kedalaman lautnya yang mencapai hingga seribu meter.
Pada bagian dalam laut, dapat disaksikan berbagai jenis ikan besar, seperti ikan tuna, marlin, hiu kepala palu, pari, layar, cakalang, barakuda, lumba-lumba, hingga paus. Jika beruntung, dapat melihat spesies ikan yang tergolong langka dan hampir punah, seperti dugong, kura-kura, dan ikan raja laut (coelacanth).
Karakteristik alam bawah laut di Bunaken adalah adanya Underwater Great Walls, atau disebut juga hanging walls. Dinding-dinding karang raksasa tersebut berdiri vertikal dan melengkung ke atas setinggi 25-50 meter. Dinding karang ini adalah sumber makanan bagi ikan-ikan di kawasan Teluk Manado.
Kerusakan yang terjadi di Taman Nasional Bunaken relatif lebih rendah dibandingkan taman laut lain yang ada di Indonesia. Ini nilai tambah bagi Bunaken sebagai salah satu tempat wisata pantai. Pesona alam bawah lautnya banyak diminati wisatawan domestik maupun mancanegara, sehingga setelah berkunjung mereka biasanya datang kembali untuk menikmati keindahannya. 
Bunaken memiliki keragaman kehidupan bawah laut yang sangat beragam. Itu lantaran daerah taman laut ini terletak di segitiga terumbu karang dunia, yang tersebar dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Timor Leste, dan Kepulauan Solomon. Di sini, pengunjung bisa melihat 70 persen jenis ikan dunia, belum termasuk ikan-ikan yang ada di laut bagian dalam.
Ada banyak tempat penyewaan alat snorkeling dan diving di Bunaken. Harganya mulai Rp 150 ribu per orang per hari. Rata-rata, harga penyewaan alat, sudah fixed dan berlaku sama di berbagai tempat penyewaan di Bunaken. Penyelam juga sudah mendapatkan peralaan snorkeling, seperti masker, sepatu katak, dan wetsuit.
Untuk merekam foto-foto di bawah laut, pengunjung dapat membayar Rp 350 ribu. Untuk mendapatkan pemandu snorkel, dikenai biaya yang sama besarnya biaya sewa peralatan snorkeling. Jika belum pernah atau belum terbiasa menyelam (diving), pemandu siap mengajari teknik-teknik menyelam.
Sebenarnya, hanya dengan berjalan kaki mengelilingi pantai di Bunaken, sudah menjadi pengalaman yang sangat menarik. Pasalnya, tempat wisata di Manado tersebut memang memiliki panorama pantai yang indah.
Air lautnya yang kehijauan, panorama alam sekitar laut Bunaken akan meninggalkan kesan yang kuat. Apabila lelah, di sekitar pantai banyak pedagang yang menjajakan aneka makanan khas Manado, termasuk kelapa. Beberapa akomodasi hotel di kawasan Bunaken pun sudah tersedia dengan berbagai pilihan.

29 March 2015

Gua Saripa

Gua Saripa
Eksotisme Labirin Bawah Tanah Maros

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kabupaten Maros di Sulsel merupakan salah satu wilayah Indonesia yang memiliki karts dan gua terbanyak di dunia. Salah satu destinasi wisata yang banyak diminati petualang gua atau caver di daerah ini adalah Gua Saripa.
Gua Saripa merupakan gua horizontal yang terletak di Dusun Taddeang, Desa Samangki, dan masih satu gugusan dengan jajaran karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Hanya satu jam perjalanan menggunakan kendaraan bermotor dari Makassar menuju arah permandian alam Bantimurung. Titik koordinat destinasi wisata ini pun terbilang strategis karena dapat ditempuh singkat sekitar 20 menit dari Kota Maros.
Gua ini sendiri merupakan bentukan batu gamping berlabirin panjang dan berliku-liku, umumnya berkembang akibat adanya proses pelarutan dan diperbesar proses erosi atau abrasi yang mengikuti suatu jaringan retakan pada batu gamping. Sebelumnya, faktor iklim, tanah penutup, dan keberadaan air tanah menjadi kontrol utama proses pembentukan Gua Saripa ini.
Selain itu, batu gampingnya sendiri umumnya padat, murni karbonat dengan sedikit campuran partikel lain, berlapis alot, dan dalam kedudukan mendatar atau tidak miring terjal. Kondisi tersebut merupakan kondisi ideal bagi terbentuknya gua, dan biasanya berkembang menjadi kawasan karst yang luas.
Tentu saja, serupa gua bentukan batu gamping, keindahan alam yang disuguhkan bagi caver tidak jauh dari kealamian alam bawah tanah yang menyuguhkan ornamen-ornamen khas gua seperti stalaktit, stalakmit, dan ornamen lainnya. Lantai gua cukup becek dengan genangan-genangan air bercampur lumpur hingga setinggi betis wisatawan. Di atas, dari langit-langit, tumbuh ribuan stalagmit yang meruncing ke bawah. Tepat di bawahnya, terdapat stalaktit yang secara alamiah merupakan proses alami bentukan alam yang berpasangan. Pasalnya, di mana ada stalaktit di situ ada stalagmit.
Eksotisme alam bawah tanah Maros ini merupakan keindahan yang dapat menghipnotis wisatawan, khususnya bagi caver yang menelusuri Gua Saripa. Keindahan khas gua itu juga dilengkapi aliran air sungai dan air danau yang membentuk kolam renang alami.
Tidak hanya itu, di sekitaran gua, caver pun akan disuguhkan jajaran tebing tinggi yang kerap digunakan petualang, khususnya rock climbing atau atlet panjat tebing untuk menjajal ketinggian. Selain itu, keasrian sawah petani setempat juga menyuguhkan keteduhan tersendiri bagi pecinta alam.
Perjalanan puluhan anggota SAR Universitas Negeri Makassar (UNM) dan Siswa Pecinta Alam (Sispala) Pangkajene Kepulauan (Pangkep), sukses melakukan caving atau susur gua, rock climbing, rappelling, serta fun camp yang sifatnya mengedukasi untuk cinta Tanah Air.

Catatan Perjalanan

Persiapkan fisik dan mental, bawa perlengkapan standar caving dan alat rock climbing dan pelatihan single rope technique (SRT). Jangan lupa juga bawa perlengkapan standar camp, serta memegang teguh kode etik susur gua (caving).

24 March 2015

Kawasan Wisata Malino

Kawasan Wisata Malino
Menyimpan Pesona Tersembunyi sejak Zaman Kolonial

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Menikmati weekend dengan berlibur ke objek wisata, merupakan impian kebanyakan orang yang ingin melepas penat lantaran menumpuknya pekerjaan. Salah satu kawasan wisata yang ideal dikunjungi adalah Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulsel.
Malino yang berada di ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), merupakan objek wisata yang sudah melegenda sejak zaman kerajaan hingga zaman kolonial Belanda. Suasana dingin menusuk tubuh menjadi daya tarik utama bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Malino berjarak 90 kilometer dari Kota Makassar atau ditempuh dengan jarak dua jam perjalanan dengan berkendara roda dua maupun empat. Sejatinya, kawasan ini dipopulerkan kolonial Belanda sebagai tempat peristirahatan. Sebelumnya, para bangsawan Kerajaan Gowa juga telah lama menggunakan kawasan ini sebagai tempat peristirahatan.
Perjalanan ke kawasan ini pun menawarkan pemandangan yang menakjubkan. Melewati Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, wisatawan bakal disuguhkan indahnya Waduk Bilibili yang merupakan penyuplai air utama bagi seluruh petani di Kabupaten Gowa maupun Kabupaten Takalar.
Melewati Waduk Bilibi wisatawan akan disuguhkan pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi. Akses jalan menyusuri Sungai Jeneberang yang merupakan sungai terpanjang di Sulawesi cukup memberi daya tarik tersendiri. Jalan menikung dengan jurang di kanan jalan, sangat memicu andrenalin pengunjung.
Sayangnya, akses jalan ini mengalami kerusakan cukup parah karena setiap hari dilalui ratusan truk bertonase melebihi kapasitas yang mengambil material bangunan di Sungai Jeneberang untuk menyuplai keburuhan properti di Makassar dan wilayah sekitarnya.
Suasana sejuk mulai terasa saat berada di Desa Pangngajian, 15 kilometer dari Malino. Hutan pinus dan jajaran vila merupakan pemandangan pertama saat memasuki gerbang selamat datang. Setelah tiba, pengunjung disuguhkan beberapa pilihan objek wisata. Salah satunya adalah Air Terjun Takapala di Desa Bulutana, empat kilometer dari ibu kota kecamatan. Udara yang dingin seakan sirna saat menuruni ribuan anak tangga ke lokasi air terjun.
Takapala, demikian nama air terjun setinggi 109 meter ini. Dalam bahasa Makassar, berarti tidak tebal. Jika berada di lokasi ini, pengunjung seakan lupa waktu dan enggan beranjak. Suara gemuruh air semakin menambah nuansa natural kawasan ini. Untuk masuk ke objek wisata, pengunjung hanya perlu merogeh kocek Rp 3 ribu per orang.
Selain Takapala, sekitar 50 meter dari air terjun, pengunjung juga bisa menikmati permandian di Air Terjun Kali Jodoh. Di tempat ini, pengunjung bebas menikmati dinginnya air. Puluhan pedagang lokal menjajakan berbagai macam kuliner yang mampu menghangatkan tubuh, seperti minuman khas Makassar berbahan jahe, Sarabba.
Usai memanjakan diri di air terjun, objek wisata lain sudah menunggu, seperti hutan pinus dan hamparan kebun teh. Sebelum ke hutan pinus, umumnya warga menyempatkan diri mampir ke pasar tradisional Malino yang menyediakan beragam buah-buahan dan kuliner produk lokal seperti buah markisa, apel dan alpukat. Jarak hutan pinus dan pasar hanya satu kilometer.
Di hutan ini, tersedia petualangan menunggang kuda. Untuk sekali tunggangan, pengunjung hanya perlu merogeh kocek Rp 3 ribu. “Cuma Rp 3 ribu, sudah dipandu terserah mau kemana. Yang penting jangan masuk jurang,” promosi salah seorang joki kuda, Daeng Mangung, sembari terkekeh setelah bercanda.
Umumnya, di tempat ini warga menggelar tikar dan menyantap makanan bersama keluarga di bawah rindangnya hutan pinus. “Kami hampir setiap bulan ke sini bersama keluarga untuk berlibur. Di samping tenang, Malino juga sejuk, dan yang pasti murah meriah,” kata Arman, salah seorang pengunjung asal Kota Makassar yang memboyong istri dan tiga anaknya. 

19 March 2015

Seni Ukir Cangkang Telur di Manado

Seni Ukir Cangkang Telur di Manado
Dapat Raup Jutaan Rupiah

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Manado tak hanya terkenal dengan panorama lautnya, Bunaken, ataupun kuliner khasnya yang lezat, Bubur Manado, tetapi juga ada hal istimewa yang belum diketahui banyak orang, yaitu seniman ukir cangkang telur.
Cangkang telur ayam biasanya hanya menjadi sampah setelah diambil isinya, namun di tangan seniman asal Perkamil, Manado, Frans Sigar, cangkang telur ayam ini disulap menjadi kerajinan tangan yang menghasilkan rupiah. Cangkang telur ayam tersebut dibuatnya menjadi ukiran dengan berbagai bentuk menarik.
Membuat kerajinan dari cangkang telur ayam tergolong sulit, dan memerlukan kehati-hatian supaya cangkang tidak retak dan menghasilkan ukiran yang indah serta sempurna. Pengukiran cangkang telur ini memakan waktu tiga sampai empat jam tergantung tingkat kesulitan bentuknya.
Sebelum diukir, cangkang telur ayam dicuci dengan air bersih kemudian diukir dengan menggunakan alat khusus seperti bor kecil dengan berbagai jenis matanya, juga sejenis alat suntik yang digunakan untuk membersihkan bagian dalam cangkang.
Menurut  Frans, Selasa (17/3/2015), ide mengolah cangkang telur tersebut terinspirasi ketika bertandang ke suatu negara, di mana seniman di sana mengukir cangkang telur unta sedemikian rupa dan menghasilkan ukiran yang indah.
Ditambahkan, orderan mengukir cangkang telur ayam ini mulai meningkat ketika musim Paskah tiba, di mana omsetnya bisa mencapai puluhan juta rupiah walaupun harganya tidak semahal dijual pada hari biasanya.
Sementara soal harga memang relatif, bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan mengukirnya. Namun, kendati terbilang mahal, hasil ukiran Frans kini mulai merambah kota-kota besar Indonesia. “Tetapi, sementara saya hanya menjual saat ada event nasional dan internasional di Kota Manado,” bebernya.
Dari mengukir cangkang telur ini, Frans juga sudah mulai mencari media lain seperti seni ukir es atau dikenal dengan ice curving dan dekorasi meja makan dengan ukiran buah-buahan, sehingga ia berhasil mendapat juara dalam beberapa event nasional, bahkan internasional.

18 March 2015

Trijaya Pratama Futures

Trijaya Pratama Futures
Edukasi Cara Berinvestasi yang Benar

FOREX - Senior Business Manager Trijaya Pratama Futures (TPF), Atok Mentawai (kiri), saat menyampaikan materi terkait jenis The Foreign Exchange Market (Forex) di Warkop Coffeeholic, Jalan Boulevard, Panakkukang, Makassar, Jumat (27/3/2015). TPF mengadakan talkshow dengan tema “Smart and Wise Trading Trijaya Pratama Futures”, yaitu bagaimana menjadi calon investor yang cerdas agar tidak salah langkah dalam berinvestasi.
BLOGKATAHATIKU - Seiring perkembangan zaman, bisnis pialang kian menjamur sebagai usaha dalam memajukan aspek finansial negara. Terdapat beberapa perusahaan yang terlihat berkibar dalam bisnis jenis The Foreign Exchange Market (Forex) ini, salah satunya PT Trijaya Pratama Futures (TPF).
Namun, tidak sedikit pelaku investasi yang tidak paham cara berinvestasi yang benar sehingga tak jarang terdapat beberapa masalah yang mengakibatkan munculnya pencitraan negatif terhadap perusahaan bersangkutan dan perusahaan sejenisnya.
Untuk mengantisipasi hal itu, TPF mengadakan talkshow dengan tema “Smart and Wise Trading Trijaya Pratama Futures”, yaitu bagaimana menjadi calon investor yang cerdas agar tidak salah langkah dalam berinvestasi.
Bertempat di Warkop Coffeeholic, Jalan Boulevard, Panakkukang, Makassar, Jumat (27/3/2015), Senior Business Manager TPF, Atok Mentawai, menjelaskan tujuan event pihaknya kali ini.
“Jadi, kami di sini akan memberitahu bagaimana cara membedakan investasi yang benar dan tidak. Kalau tidak tahu cara berinvestasi dengan tepat, maka rentan jatuh, mengalami kerugian, penipuan, dan sebagainya. Makanya, di sini kami akan mengedukasi bagaimana cara berinvestasi secara cerdas dan bijak,” paparnya.
Atok juga menjelaskan sekilas sejarah TPF. TPF yang muncul pertama kali 2012 dan berkantor di Lt 11 Menara Bosowa, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, adalah perusahaan yang bergerak pada bidang jasa investasi di pasar derivatif yang menawarkan transaksi jual beli, khususnya komoditi dan turunannya. “TPF berkantor pusat di Jakarta, dengan empat kantor cabang. Selain di Makassar, juga terdapat di Medan, Batam, Samarinda, dan Surabaya,” bebernya.
Atok berharap, talkshow akan membuka lebar mata masyarakat agar dapat menghapus citra negatif bisnis Forex, karena semua persepsi destruktif itu terjadi lantaran tidak adanya pengetahuan yang mumpuni dari calon investor sebelum terjun ke bisnis tersebut.
Kegiatan rutin yang diadakan TPF diikuti peserta dari berbagai kalangan, seperti akademisi kampus-kampus di Makassar, praktisi bisnis, serta calon pelaku investasi yang terlihat antusias mengikuti pembahasan menarik dalam talkshow tersebut.

07 March 2015

Pekuburan Batu Lemo di Tana Toraja

Pekuburan Batu Lemo
Menyambangi Keunikan Kuburan Tua di Tana Toraja

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Eksotisme keindahan budaya Nusantara jelas memancar dari dinding kelam yang berdiri kokoh saat wisatawan melabuhkan mata mereka di Kelurahan Lemo, Kecamatan Mengkendek, Kabupaten Tana Toraja, Sulsel. Ditampilkan dengan luar biasa, pekuburan yang melekat pada dinding tebing bukit nan menjulang tinggi tersebut, dipahat dengan kesabaran penuh selama berbulan-bulan, menghadirkan nuansa yang menakjubkan.
Di sini, wisatawan dapat merasakan langsung “aura kematian” yang dibingkai adat budaya seharmonis alam. Lemo diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16, dan awalnya menjadi makam kepala-kepala suku Toraja. Tentunya, tidak perlu dipertanyakan lagi kewajiban menyambangi tempat ini.
Untuk menyambangi lokasi wisata ini, wisatawan maupun traveler hanya perlu melakukakan perjalanan darat sekitar delapan jam dari Makassar ke Makale. Setelah tiba di Makale, mereka dapat menempuh perjalanan singkat sekitar 30 menit karena jarak Kota Makale dengan Lemo hanya sekitar tujuh kilometer.
Makna kata Lemo sendiri dalam bahasa daerah Toraja berarti “jeruk”. Kata tersebut didefinisikan karena jeruk memiliki bentuk bulat, persis bentuk bukit batu yang menjadi pekuburan masif di sana. Jelasnya, kuburan batu Lemo merupakan kuburan batu yang dibuat di bukit batu yang menyerupai jeruk (bulat).
Selain itu, pada destinasi ini terdapat sekitar 75 lubang kuburan batu dengan ukuran tiga kali empat meter, di mana setiap liang kuburan batu merupakan serumpun keluarga yang berisikan empat hingga 10 mayat.
Keindahan destinasi wisata ini pun diakui salah seorang traveler asal Makassar, Amoy. Dijelaskan, kuburan batu Lemo sangat mempesona lantaran unik dengan puluhan kuburan batu yang terpampang di tebing bukit batu.
“Kuburan batu Lemo ini patut dikunjungi, karena selain kuburan batunya, keindahan hamparan sawahnya dan pemandangan pegunungan yang menjulang tinggi sangat mempesona. Semua ini melengakapi keindahan destinasi di Tana Toraja,” jelas wanita yang baru pertama kali ke Lemo ini.
Menariknya, sebut Amoy, tak hanya menyuguhkan keindahan lanskap alam, objek wisata ini juga disemarakkan dengan hadirnya puluhan pedagang suvenir khas Tana Toraja. “Sehingga kami mudah mendapatkan oleh-oleh untuk kerabat,” terangnya.
Menurutnya, harga suvenir di Lemo sangat terjangkau, mulai Rp 10 ribu hingga ratusan ribu. “Harga suvenir di sini lebih murah dibandingkan pedagang suvenir lainnya yang tersebar di Tana Toraja,” akunya.
Tidak hanya itu, Amoy mengungkapkan kelestarian destinasi wisata tersebut juga terjaga. Hal ini dibuktikan dengan terpajangnya papan imbauan pemerintah setempat di setiap ruas lokasi kuburan batu Lemo. “Harga tiket untuk dapat menikamati pekuburan batu Lemo cukup ekonomis, hanya merogoh kocek kantong Rp 10 ribu,” bebernya.
Pada kesempatan ini,  tim Jelajah Sulawesi bersama puluhan traveler dari Makassar dan Jakarta, turut menyambangi keindahan serta keunikan kuburan batu Lemo yang eksotis.
Owner PT Zamrud Khatulistiwa, Nurrul Cholista, saat ditemui belum lama ini, mengatakan, Lemo, yang merupakan salah satu destinasi wisata andalan di Tana Toraja, sangat memikat hatinya.
“Objek wisata Lemo, khususnya pekuburan batu, juga merupakan salah satu destinasi menarik di Sulsel. “Setiap berkunjung ke Tana Toraja untuk urusan bisnis dengan pemerintah setempat, saya tidak pernah melewatkan destinasi ini,” ungkapnya.
 Alasannya, selain keindahan dan keunikan kuburan batunya, barang-barang suvenir yang dijual di daerah ini sangat murah ketimbang toko-toko lain di sekitar objek wisata. “Untuk membeli oleh-oleh untuk kerabat di Jakarta, saya pasti belanja di sini,” tutur wanita yang hobi traveling ini. 

05 March 2015

Kodingareng Keke

Kodingareng Keke
Pulau Tak Berpenghuni yang Eksotik

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Kepulauan Spermonde terletak di barat daya Kota Makassar. Terdiri sekitar 130 pulau yang beberapa di antaranya tidak berpenghuni. Salah satunya adalah Pulau Kodingareng Keke. Pulau ini berjarak sekitar satu jam dari Makassar, dapat dijangkau dari dermaga kayu Bangkoa dengan kapal kayu sewaan berkapasitas hingga 15 orang. Kebanyakan traveler datang ke sini juga sekaligus berwisata ke Pulau Samalona, karena letak pulau ini memang tidak terlalu jauh dari Samalona.
Letak Kepulauan Spermonde yang relatif dekat dengan Kota Makassar, membuatnya menjadi tujuan populer bagi penduduk Makassar untuk berwisata di akhir pekan. Selain mudah diakses, ongkos transportasi perjalanannya juga relatif terjangkau apabila datang beramai-ramai. Namun, kebanyakan wisatawan lebih suka datang ke Samalona karena punya fasilitas yang cukup memadai, seperti penginapan dan warung makan. Sedangkan yang datang ke Kodingareng Keke biasanya berniat untuk menyelam atau snorkeling.
Kodingareng Keke memang hanya sebuah pulau kecil tanpa fasilitas apapun, termasuk toilet dan air bersih. Namun, pantainya berpasir putih dan punya perairan biru jernih. Spot untuk snorkeling pun letaknya tidak jauh dari pulau, di mana konturnya landai dan didominasi batu koral yang rata-rata masih cukup bagus.
Lantaran tidak berpenghuni, pulau ini banyak dimanfaatkan traveler untuk menggelar berbagai kegiatan seperti foto wedding. Pasalnya, lanskap alam, khususnya pemandangan laut di Kodingareng Keke sangat memukau. Apabila air laut pasang surut, tampak hamparan lahan pasir putih yang cukup luas hingga mencapai sekitar 20 meter.
Terkait kebersihan pulau ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dan Forum Peduli Spermonde (FPS) telah mendirikan tempat pembuangan sampah permanen (kolam sampah) yang berjajar di sekitar pulau tersebut. Selain itu, pulau ini telah dilengkapi papan petunjuk area pulau.
Di akhir tahun lalu, tim Jelajah Sulawesi bersama puluhan traveler dari berbagai daerah bertandang ke destinasi wisata bahari tersebut, dan menikmati berbagai keindahan yang disuguhkan.
“Cukup mengeluarkan biaya sewa perahu tradisional yang lebih dikenal sebagai Katinting atau Jolloro dengan kapasitas 10-15 orang, Rp 700 ribu pulang-pergi (PP), wisatawan dapat menikmati keindahan Kodingareng Keke,” terang anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pemerhati Alam dan Lingkungan (Pahala) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Desta Pinguin, yang juga salah seorang traveler yang ikut menyambangi Kodingareng Keke.
Ditambahkan, tidak hanya menikmati keindahan wisata bahari, pulau ini pun merupakan surga bagi traveler yang hobi kegiatan alam bawah laut.  Untuk itu, ia mengungkapkan apresiasinya terhadap peran pemerintah (Pemkot Makassar) yang senantiasa menjaga kebersihan pulau tersebut dengan mengadakan kolam sampah permanen.
Desta beralasan, hal yang dilakukan pemerintah tersebut merupakan dedikasi dalam menjaga kebersihan lingkungan, khususnya destinasi wisata bahari. Sementara, Kepala Seksi Promosi Disparekraf Kota Makassar, Muhammad Roem, mengatakan, Pulau Kodingareng Keke merupakan salah satu pulau favorit bagi wisatawan yang hobi diving dan snorkeling.
“Di Kodingareng keke ini, anggota komunitas yang berdedikasi wisata bahari telah menenggelamkan berbagai benda-benda di dasar laut seperti mobil dan motor bekas, serta masih banyak lainnya untuk menciptakan habitat bagi hewan laut, sehingga mampu menjaga kelestarian terumbu karang dan ikan laut lainnya,” imbuhnya.

04 March 2015

Masjid Jami’ Tua Palopo

Masjid Jami’ Tua Palopo
Tapak Jejak Sejarah Islam                             

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Palopo merupakan salah satu kota di Sulsel yang memiliki beragam potensi wisata, baik alam hingga wisata sejarah. Salah satu objek wisata terkait sejarah Islam yang telah menjadi “landmark” warga Palopo adalah Masjid Jami’ Tua.
Senada namanya, Masjid Jami’ Tua merupakan masjid tertua di Palopo. Mesjid tersebut berdiri sekitar 1604, atau telah berdiri lebih empat abad saat kerajaan Luwu berkuasa. Merunut sejarah, masjid tersebut didirikan pada saat kepemimpinan Datu Payung Luwu XVI Pati Pasaung Toampanangi Sultan Abdullah Matinroe yang berkuasa di Luwu sejak 1604.
Uniknya, masjid berukuran segi empat 15 kali 15 meter ini, memiliki dinding yang terbuat dari batu cadas setebal 0,94 meter, dan direkatkan dengan putih telur sebagai lak “semen”-nya. Arsitekturnya pun unik bernuansa pendopo candi-candi Jawa. Presisitas ukuran antara luas dan panjang bangunan masjid secara filosofis melambangkan persamaan atau kesataraan.
Tidak hanya itu, selain entitas Jawa dan Hindu, unsur lokal suku Bugis juga terlihat pada tiga struktur bangun gedung masjid yang mengikuti konsep rumah panggung Bugis. Konsep ini tampak pada atap maupun vinyet yang menghias eksterior bangunan masjid. Nuansa arsitektur Bugis juga dapat dilihat pada di tiang penyangga (juga terdiri dari tiga susun), yaitu pallanga (umpak), alliri possi (tiang pusat) dan soddu yang merupakan dinding tiga susun yang ditandai bentuk pelipit (gerigi) dan pewarnaan tiang bangunan yang bersusun tiga dari atas ke bawah, hijau, putih, dan coklat.
Menariknya, Masjid Masjid Jami’ Tua ini pun dilengkapi tiang utma yang terbuat dari kayu pohon Cinaduri yang sudah berusia ratusan tahun. Sehingga sebagian besar masyarakat Palopo memiliki adagium bahwa pendatang yang ke Palopo, belum dapat dikatakan “berkunjung” ke Palopo apabila mereka belum menyentuh tiang utama (pohon Cinaduri) pada masjid tersebut.
Pada hari raya serta hari besar Islam seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, maupun Maulid Nabi Muhammad SAW, masjid tersebut biasanya akan dipadati pengunjung. Selama ini, jemaah yang bertandang pun tidak hanya warga Palopo, tetapi warga pendatang dari seluruh pelosok Nusantara.
Arsitektur Masjid Jami’ Tua sendiri terdiri dari empat unsur, Bugis, Jawa, Hindu, dan Islam. Daftar renovasi atau perbaikan masjid, pertama pada 1700 (perbaikan lantai), kedua pada 1951 (mengganti tegel yang didatangkan dari Singapura), ketiga pada 1981 dengan mengadakan perbaikan secara keseluruhan. Sedangkan pada renovasi keempat dan kelima di 1990-an adalah dengan menambahkan luas bangunan hingga seperti saat ini, 1.680 meter persegi.
Pengelolaan Masjid Jami’Tua Palopo terstruktur dalam kepengurusan yang dimusyawarahkan sekali setahun. Terdapat aturan pengurus terhadap wisatawan, seperti dilarang mengambil sesuatu dalam area masjid kecuali berfoto.

03 March 2015

Pulau Camba Cambang

Pulau Camba Cambang
Gerbang Wisata Bahari Pangkep

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Tidak salah jika terdapat adagium yang mengatakan Sulsel merupakan surga bagi wisatawan. Pasalnya, daerah di selatan Sulawesi ini memiliki beragam kekayaan potensi wisata alam, baik natural seperti bahari maupun lanskap alam buatan.
Salah satu khazanah keindahan bahari terdapat di Pulau Camba Cambang. Pulau ini terletak di Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Titik koordinat destinasi wisata bahari ini pun tergolong strategis dari Kota Pangkep, 15 kilometer ke Pelabuhan Maccini Baji. Jarak pelabuhan ke destinasi tersebut sekitar dua mil dengan jarak tempuh 10 menit dengan berkendara perahu atau lebih dikenal dengan sebutan “jolloro”.
Adapun ukuran pulau tersebut sekitar 50 meter persegi. Dengan ukuran yang tergolong mini, pulau ini dijadikan gerbang pusat informasi wisata bahari di Pangkep lantaran lokasinya yang berdampingan dengan pulau spermonde lainnya.
Eksotisme alam yang ditawarkan pun beragam, di antaranya hamparan pasir putih, lautan yang membiru, serta terumbu karang indah yang mampu menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung.
Menariknya lagi, selain keindahan alam laut yang ditawarkan destinasi ini, wisatawan akan dimanjakan berbagai fasilitas, di antaranya villa, wahana waterboom, gazebo, restoran, ruangan meeting, serta ruangan informasi wisata bahari yang tersebar di Pangkep.
Selain itu, wisatawan juga dapat menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam, di mana cahayanya terlihat memukau dari balik punggung Gunung Bulusaraung. Cahayanya yang indah pun menyinari puluhan pulau yang menggugus di laut Pangkep.

Pusat Informasi Wisata Bahari

Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (dulu bernama Pangkajene Kepulauan, biasa disingkat Pangkep) adalah salah satu kabupaten di Sulsel. Ibu kotanya adalah Pangkajene. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.112,29 kilometer persegi, tetapi setelah diadakan analisis bersama Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), luas wilayah tersebut direvisi menjadi 12.362,73 kilometer persegi, dengan luas wilayah daratan 898,29 kilometer persegi dan wilayah laut 11.464,44 persegi.
Asal kata Pangkajene dipercaya berasal dari sungai besar yang membelah Kota Pangkep. Pangka berarti cabang dan Jene berarti air. Ini mengacu pada sungai yang membelah Kota Pangkep yang membentuk cabang. Daerah ini memilki beragam potensi wisata bahari yang kerap disebut kepulauan spermonde, salah satunya Camba Cambang.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Ahmad Djamaan, saat ditemui di ruangan kerjanya, Jalan Sultan Hasanuddin, Pangkep, Rabu (10/12/2014), menuturkan, dengan beragam kekayaan potensi wisata yang dimiliki Pangkep, khususnya bahari, merupakan potensi bagi pariwisata di daerah ini.
 “Pulau Camba Cambang dijadikan gerbang wisata bahari (pusat informasi atau terminal wisata) Pangkep, sebab letak geografisnya cukup strategis dan berdekatan dengan puluhan pulau spermonde lainnya,” bebernya.
 Dijelaskan, di terminal wisata bahari ini, wisatawan dapat memperoleh informasi terkait puluhan pulau spermonde seperti Pulau Badi, Cangke, Kapoposang, Saudi, Pala, Pajenekang, Sabutung, Saranti, Tambakuli, dan Pamanggangang. Setiap pulau menawarkan berbagai keindahan laut hingga kuliner seafood,” urainya.
Dengan fokus mengelola destinasi pariwisata Pangkep, sebut Djamaan, mampu meningkatkan ekonomi dan taraf hidup masyarakat . “Salah satu contohnya, untuk jasa kendaraan perahu, kami memberdayakan masyarakat nelayan,” jelasnya.
Ia berharap, dengan mengelola destinasi pusat informasi wisata bahari tersebut, yang memasuki tahap promosi, mampu menjadikan Pangkep menjadi pusat destinasi wisata utama di Sulsel. “Perkembangan wisata daerah ini juga diharap dapat menjadi penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Namun, yang tak kalah pentingnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Pangkep,” tandasnya.
Catatan Perjalanan:

- Tarif jolloro Rp 10 ribu per orang
- Sewa jolloro Rp 200 ribu per 20-30 orang
- Tiket wisatawan domestik Rp 5 ribu per orang
- Tiket wisatawan mancanegara Rp 10 ribu per orang
- Tiket anak-anak Rp 2 ribu per orang

Investasi Rp 7 Triliun, XL Luncurkan Layanan 4G

LAYANAN 4G - XL wilayah North Region, meluncurkan logo baru XL sekaligus mengenalkan layanan baru 4G di Kampoeng Popsa, Makassar, Selasa (28/10/2014). Vice President (VP) XL North Region, Francky Rinaldo Pakpahan, dalam sambutannya, mengatakan, peluncuran program tersebut sejalan dengan semangat XL untuk selalu menjadi operator terdepan.

PT XL Axiata (XL) sebagai salah satu operator terbesar Indonesia kembali meluncurkan inovasi layanan terbaru real mobile 4G-Long Term Evolution (LTE) pertama di Indonesia. Layanan kecepatan tinggi hingga 100 Mbps dan berteknologi canggih yang disediakan XL, didukung teknologi canggih Huawei dan Ericsson.
Layanan berbasis teknologi mobile 4G tersebut diluncurkan di Jakarta, Selasa (28/10/2014), disaksikan Direktur Penyelenggaraan Pos dan Informatika (PPI), Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kalamullah Ramli, dan Presiden Direktur XL, Hasnul Suhaimi. Peluncuran tersebut ditandai demo layanan 4G-LTE, uji coba jaringan, dan vidoe conference dengan beberapa direksi XL.
Untuk wilayah North Region, peluncuran digelar pada hari yang sama di Kampoeng Popsa, Makassar. Vice President (VP) XL North Region, Francky Rinaldo Pakpahan, dalam sambutannya di Kampoeng Popsa, mengatakan, peluncuran program tersebut sejalan dengan semangat XL untuk selalu menjadi operator terdepan, dan inovatif dalam menyediakan layanan bagi masyarakat, juga menjadi kado istimewa pada hari ulang tahun (HUT) ke-18 XL.
“Dengan nilai  investasi Rp 7 triliun, ini sekaligus wujud nyata komitmen XL untuk terus memberikan layanan terbaik dan pertama bagi masyarakat Indonesia dalam menggunakan layanan mobile 4G-LTE. Kami berharap, layanan 4G-LTE ini dapat member manfaat positif bagi pelanggan,” terangnya.
Untuk itulah pihaknya terus berupaya membangun mitra dengan penyedia layanan mobile berbasis 4G seperti Sony Mobile, Intel Corporation, LG Mobile, HTC, Nokia (Mikrosoft), Huawei, Speedup, Blackberry, dan Qualcomm.
General Manager XL North Region, Awaluddin Tahir, menambahkan, jaringan 4G saat ini baru bisa dinikmati di beberapa lokasi Jakarta, dan secara bertahap akan menjangkau kota-kota lain berdasarkan potensi permintaan pelanggan, ketersediaan alokasi frekuensi, besaran nilai investasi, dan sebagainya.
“Saat ini, hanya pelanggan yang memiliki perangkat atau handseat 4G dapat menukarkan dan memperoleh simcard khusus 4G secara gratis di lokasi peluncuran,” tuturnya.
Sementara itu, GM Finance and Management Service XL North Region, Mozes Haryanto Bottong, memaparkan, saat ini jumlah pelanggan layanan data XL sekitar 32 juta, atau 51 persen dari total pelanggan 62,9 juta.
“Sejak 2013, XL telah melakukan modernisasi seluruh jaringan. Kami memiliki jaringan fiber optic sepanjang 30 ribu kilometer, 47 ribu base transceiver station (BTS) 3G/2G, dan siap dengan layanan Hotrod 4G-LTE. Kami juga menunggu kebijakan pemerintah untuk menggunakan teknologi netral di frekuensi 1.800 MHz, agar bisa memperluas layanan tercanggih tersebut,” tandasnya. Andi Tenriajeng/Foto: Ahmad Alia

02 March 2015

Tanjung Bira

Tanjung Bira
Pesona Pantai Pasir Putih Bulukumba

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Jika Bali atau mungkin Lombok sudah terlalu mainstream, maka coba datanglah ke ujung selatan pulau Sulawesi di Pantai Tanjung Bira. Pemandangan alam yang ada di Kabupaten Bulukumba tersebut tidak kalah indahnya.
Saat cuaca cerah, langit biru sangat bersih memantul di hamparan laut yang ada di bawahnya. Pasirnya sangat lembut dan saat menjejakinya seperti menginjak tepung putih. Saking halusnya, bahkan nyaris tak terdengar bunyi langkah kaki yang terseret saat melangkah. Sesekali ombak datang mengempas pantai. Itulah pesona alam Pantai Bira.
Pantai Tanjung Bira berjarak kurang lebih 40 kilometer dari Bulukumba, atau sekitar 200 kilometer dari Makassar. Letaknya berada di ujung paling selatan Sulawesi Selatan, tepatnya di Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba. Untuk mencapai lokasi Pantai Tanjung Bira dibutuhkan waktu tiga hingga empat jam perjalanan dari Kota Makassar. Empat kabupaten akan dilewati, yaitu Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng.
Wisatawan yang berangkat dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dapat menggunakan transportasi umum seperti taksi langsung menuju ke Terminal Malengkeri. Sesampainya di terminal, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan mobil sewaan tujuan Bulukumba atau langsung ke Tanjung Bira.
Bagi yang memilih mampir terlebih dulu di Bulukumba, perjalanan dapat dilanjutkan ke Pantai Tanjung Bira menggunakan angkutan umum daerah ini yang biasa disebut “Petepete”. Di Tanjung Bira, transportasi umum hanya beroperasi sampai sore hari, jadi persiapkan waktu engan matang.
Tiket masuk Pantai Tanjung Bira terbilang murah, untuk dewasa Rp 10 ribu per orang, anak-anak Rp 3 ribu, dan Rp 20 ribu untuk wisatawan asing. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan di pantai ini, antara lain bermain sepakbola, voli pantai, tarik tambang, berenang, snorkeling, diving, berkeliling pantai dengan menggunakan perahu tradisional, atau sekadar menikmati sinar matahari dan embusan angin pantai yang sejuk.
Pasir pantai di Tanjung Bira berbeda dari pasir pantai lainnya, itu yang membuat berbeda. Tekstur pasir yang lembut merupakan ciri Pantai Tanjung Bira, dengan pesona panorama alam pesisir pantai tropis. Pantai yang membujur dari sisi utara hingga selatan ini tampak sangat memukau siapa saja yang datang berkunjung. Jajaran pohon kelapa serta bukit karang yang tampak kokoh menjadikan pantai ini terlihat nyaman.
Fasilitas di kawasan ini cukup lengkap, seperti toilet, kamar bilas, warung makan, penginapan, resort, dan tempat persewaan peralatan menyelam. Untuk penyewaan diving dan snorkling dipasang tarif rata-rata Rp 30 ribu. Bagi pengunjung yang ingin berkeliling di sekitar pantai, tersedia penyewaan motor dengan tarif Rp 65 ribu.

Berburu Kuliner dan Suvenir Khas

Di sekitar kawasan Pantai Tanjung Bira juga banyak terdapat pedagang yang menjajakan aneka oleh-oleh khas, seperti suvenir dan aksesoris yang terbuat dari kerang yang dijual Rp 5 ribu-Rp 30 ribu. Ada juga aneka baju bertuliskan “Pantai Bira” yang dibanderol Rp 20 ribu-Rp 60 ribu.
Saat ingin melepas lelah setelah bermain-main di Pantai Tanjung Bira, tersedia banyak penginapan, dengan tarif Rp 100 ribu-Rp 600 ribu per malam. Di antara semua penginapan yang ada, salah satunya terbilang cukup unik adalah penginapan yang berdiri di atas tebing karang menghadap laut. Dari atas ketinggian, wisatawan bisa merasakan sejuknya suasana, sekaligus memanjakan mata menikmati keindahan pantai ini dari tempat menginap.
Wisata kuliner di Bulukumba tidak berbeda jauh wisata kuliner khas Makassar, mulai menu seafood dan Coto Makassar. Sebelum pulang ke rumah, jangan lupa mencicipi dan membeli “Jagung Marning” sebagai oleh-oleh, yang merupakan wisata kuliner khas Bulukumba. Makanan ringan lainnya yaitu Banning-bannang, Tengteng, dan lain-lain, di mana semuanya dijual Rp 5 ribu-Rp 15 ribu di warung-warung yang ada di sekitar Pantai Tanjung Bira.

Celebes Travel Mart Dongkrak Potensi Wisata di Sulsel

Celebes Travel Mart
Dongkrak Potensi Wisata di Sulsel

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Peningkatan pembangunan Sulsel tak lepas dari pertumbuhan industri pariwisata. Indikator tersebut juga dapat dilihat dari maraknya pertumbuhan bisnis perhotelan dan maskapai penerbangan di kawasan timur Indonesia, khususnya Makassar.
Berangkat dari hal tersebut, maka Asosiasi Pengusaha Tour dan Travel (Asita) Sulsel menggandeng Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sulsel, menggagas event Celebes Travel Mart (CTM) untuk pertama kali di Sulsel. Acara yang dihelat di Celebes Convention Centre (CCC), Jalan HM Daeng Patompo, Makassar, 14-16 November 2014, merupakan wadah untuk mensosialisasikan Sulsel sebagai salah satu destinasi wisata di Indonesia.
“Alhamdulillah, kegiatan diapresiasi berbagai pihak, khususnya pelaku industri wisata. Ini dibuktikan dari keterlibatan 70 buyer internasional dan domestik dari 15 negara, serta 10 provinsi Indonesia melalui sistem business to business (B2B) atau table top session,” ungkap Ketua Asita Sulsel, Didi Manaba, saat ditemui di Hotel Grand Palace, Sabtu (6/11/2014).
Sementara itu, Ketua PHRI, Anggiat Sinaga, menambahkan, pameran menampilkan 100 peserta dari pelaku usaha pariwisata, baik hotel, travel agent, airlines, maupun sektor pendukung pariwisata lainnya. “Kegiatan memberi kesempatan pelaku usaha pariwisata mempromosikan dan menjual paket perjalanan (tour), voucher hotel (paket penginapan), serta tiket pesawat baik dalam hingga luar negeri dengan harga yang cukup terjangkau (promo) menjelang musim libur akhir tahun,” jelasnya.
Hal senada diungkapkan Kadisbudpar Sulsel, sekaligus ketua pelaksana CTM, Jufri Rahman. Dikatakan, potensi wisata yang dimiliki Sulsel tak kalah menariknya dengan daerah lain Indonesia, bahkan Asia. Dengan destinasi wisata yang menarik tersebut, ia berharap mampu membuka peluang bagi masuknya wisatawan ke Sulsel.
“Melalui kegiatan ini, Sulsel harus bisa mensejajarkan diri dengan provinsi lain yang memiliki agenda bursa pariwisata internasional seperti halnya Jawa Barat (Travel Exchange), Jawa Timur (Majapahit Travel Mart), Jawa Tengah (Borobudur Travel Mart), dan Bali (Beyond Travel Fair),” tuturnya.
Pihaknya berharap, kegiatan seperti ini dapat dimanfaatkan pelaku usaha wisata untuk memediasi antara buyer dan seller, sehingga silaturahmi dan interaksi bisnis terkait pariwisata bisa terus terjalin. Dengan demikian, hal tersebut nantinya mampu mendongkrak potensi wisata di Sulsel.

01 March 2015

Sungai Jeneberang, Panorama Alam Asri Malino

Sungai Jeneberang
Panorama Alam Asri Malino

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Adagium yang beredar, daerah di Sulsel adalah salah satu surga destinasi bagi para traveler, memang tidak salah. Pasalnya, hal tersebut dibuktikan dengan kekayaan destinasi yang dimilki Sulsel, mulai wisata bahari hingga panorama lanskap alamnya.
Salah satu destinasi wisata yang mampu memukau para traveler yakni panorama alam Sungai Jenneberang, Desa Panaikang, Malino, Kabupaten Gowa. Lokasi destinasi ini pun cukup strategis dari pusat Kota Malino, yakni hanya sekitar tiga kilometer, serta dapat ditempuh berjalan kaki ataupun berkendara sepeda motor dengan catatan waktu masing-masing 30-60 menit.
Selain itu, di sepanjang perjalanan menuju lokasi destinasi, traveler disuguhkan pemandangan alam, di antaranya jejeran pohon pinus serta lahan perkebunan petani yang dibalut suhu cuaca yang cukup sejuk, sehingga pengunjung dapat merasakan asrinya lanskap alam daerah ini.
Menariknya, sebelum memasuki destinasi, pengunjung bakal melewati jembatan merah Malino yang bersejarah sembari menikmati pemandangan air terjun Takappala yang jernih dari tebing-tebing karts yang menjulang tinggi. Di lokasi ini, traveler dapat melakukan kegiatan alam seperti outbound, rock climbing, dan kegiatan alam lainnya.
Bagi para traveler hicking (pendaki), bisa melanjutkan pendakian ke Talung  (Ramma), Gunung Bawakaraeng, dengan menyusuri tepian Sungai Jeneberang tersebut.