07 January 2015

Memandang Indonesia di Puncak Lompobattang-Bawakaraeng

Memandang Indonesia di Puncak Lompobattang-Bawakaraeng


BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sulsel memiliki ragam wisata alam, baik laut maupun darat. Salah satu wisata alam favorit bagi penjelajah adalah Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, yang terletak di Kabupaten Gowa.
Pesona alam yang ditawarkan pun tak kalah menariknya, di antaranya “Negeri di Atas Awan”, analogi para pendaki yang tengah menyusuri puncak Lompobattang-Bawakaraeng. Selain itu, ada jajaran hutan lumut, aliran sungai yang jernih, hamparan edelweiss, serta sorotan lampu kota bagai kunang-kunang dari puncak gunung.
Letak geografis kedua gunung tersebut tak seberapa jauh, di mana para penjelajah kerap melakukan lintas alam dengan mendaki dua puncak sekaligus, dengan estimasi perjalanan kurang lebih seminggu. Kedua gunung itu merupakan puncak tertinggi keempat di Sulsel, di mana Lompobattang memiliki ketinggian 2.878 meter dari permukaan laut (MDPL), dan Bawakaraeng 2.830 MDPL.
Tidak hanya itu, kedua gunung ini merupakan gunung yang penuh mistis dan disakralkan masyarakat setempat. Terbukti, di bulan Hijriah seperti Zulhijjah, Syaban, dan Ramadan banyak ditemukan sesembahan atau sesajen di jalur pendakian, khususnya disimpan di bawah beberapa pohon besar.
Di momen Hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, tim Lintas Merah Putih (LMP) berhasil menjejaki kedua puncak gunung tersebut, dan menggelar upacara 17 Agustus bersama ratusan penjelajah lainnya yang berasal dari berbagai komunal, serta pegiat lingkungan di Indonesia.

FPL Gelar LMP Tingkat Nasional

Peringati HUT Republik Indonesia ke-69, Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) menggelar Lintas Merah Putih (LMP) tingkat nasional ke Gunung Lompobattang-Bawakarang.
Ketua Panitia LMP FPL, Alam Sila, saat ditemui di Sekretariat FPL, Jalan Tidung Mariolo, Makassar, Rabu (20/8), mengatakan, kegiatan tersebut berskala nasional dan dicanangkan setiap tahun. Dijelaskan, LMP tahun ini merupakan yang ketujuh kalinya digelar sejak didirikan pada 2006.
“LMP ketujuh kali ini merupakan kegiatan dengan peserta terbanyak ketimbang tahun sebelumnya, diikuti 132 peserta yang berasal dari berbagai kelompok pecinta alam Indonesia. Adapun peserta luar Sulsel berasal dari Yogyakarta,” ungkapnya.
Adapun tujuan kegiatan ini, sebut Alam, selain untuk memperat tali silaturahmi antarpecinta alam di Indonesia, juga untuk menyelamatkan lingkungan. Apalagi momen 17 Agustus merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama, sekaligus meningkatkan jiwa patriotisme.
Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) LMP FPL, Hasriadi, menambahkan, dengan melonjaknya peserta LMP ketujuh ini, merupakan bukti antusiasme pecinta alam terhadap lingkungan hidup.
“Kegiatan tersebut bukanlah hal mudah, apalagi lintas dua gunung ini memakan waktu perjalanan satu minggu dengan peserta ratusan orang. Namun, semua permasalahan di lapangan mampu kami koordinir dengan baik berkat kerja sama peserta dengan panitia,” paparnya.

Catatan Perjalanan

       Untuk mencapai Lompobattang, dapat ditempuh beberapa jalur seperti dari Lembang Bu’ne di Kecamatan Malakaji, Kabupaten Gowa, dari Bawakaraeng, dari Tajjuru di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, dan jalur lainnya. Namun, gunung yang secara harfiah berarti “perut besar” ini kebanyakan didaki lewat jalur Lembang Bu’ne.
       Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa. Di lereng gunung ini terdapat daerah wisata populer, Malino. Secara ekologis, gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Kota Makassar. Makna kata “Bawa” berarti “Mulut”, dan “Karaeng” berarti “Raja”.

       Estimasi Anggaran LPM FPL Rp 185 ribu (transportasi, baju kaus, plakat, dan sertifikat). Contact person Ketua LMP FPL, Alam Sila, 081355728910.