15 January 2015

Melirik Ritual Ma’nene di Toraja Utara

Melirik Ritual Ma’nene di Toraja Utara

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat Tana Toraja (Torut) adalah ritual Ma’nene. Ritual ini merupakan prosesi penggantian pakaian dan tabela dalam kuburan batu. Namun, terdapat pengertian lain dari Ma’nene yakni “mayat berjalan”.
Harfiah “mayat berjalan” yang masih melekat di sebagian masyarakat Torut tentu terkait kepercayaan berbalut mistis yang sudah turun temurun diyakini, di mana penguburan jenazah dilakukan dengan cara di luar nalar seperti menjalankan mayat-mayat menuju ke pekuburan batu yang bakal menjadi kuburan mereka.
Namun di luar itu, Desa Lando Rundung, Kecamatan Sesean Suluara, adalah salah satu daerah di Torut yang masih memegang teguh ritual Ma’nene. Ritual ini digelar sekali dalam satu generasai (25 tahun). Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, jadwal ritual berubah sekali dalam tiga tahun. Kesepakatan dicapai atas musyawarah berbagai elemen masyarakat, seperti pemuka adat hingga pengurus gereja.
Perwakilan keluarga Mama Rante Datu dan Bapak Sarirang (pemuka adat), Luther Allo Sarirang, saat ditemui di sela acara di Lo’ko Mata, Senin (8/9), mengatakan, ritual Ma’nene bertujuan mempererat tali silaturahmi antarrumpun keluarga yang tersebar dari Sabang sampai Marauke. Ritual juga dianggap wujud kasih kepada Tuhan.
Adapun kegiatan yang digelar dalam ritual tersebut, diantaranya membersihkan Lo’ko mata, mengganti pakaian mayat yang biasanya disesuaikan barang kesukaan almarhum selama hidup (mangika), pemindahan jenazah bagi keluarga tertentu (mapalengka), pemotongan babi dan kerbau, Manglongko di Rante, menutup liang lahat, serta Sisembak (adu kaki anak-anak).
“Saya dan keluarga jauh-jauh dari Papua untuk menggelar ritual Ma'nene, sekaligus ajang silaturahmi dengan keluarga,” tandas Luther.

Kuburan Tertua Lo’ko Mata

Lo’ko Mata merupakan salah satu kuburan batu tertua di Toraja Utara (Torut) yang terletak di Desa Lando Rundu, Kecamatan Sesean Suluara. Jarak daerah ini dari Rantepao sekitar 15 kilometer, dan dapat ditembuh berkendara sepeda motor atau mobil selama satu jam.
Adapun pola kuburan batu berbentuk bulat silinder, berukuran 35 meter dengan tinggi sekitar 50 meter. Menariknya, di Lo’ko Mata tersebut terdapat ratusan liang kubur, di mana setiap liang kubur terdapat 40 mayat.Lo’ko Mata disinyalir kuburan batu tertua di Torut, dibuktikan adanya kuburan berumur dua abad.
Wisatawan yang berkunjung di daerah ini bakal disuguhkan beragam bentuk rumah adat Tongkonan, dan hamparan sawah yang dihiasi bebatuan hitam alami yang menjulang tinggi, dan sesekali diselingi kabut di pagi atau sore hari.
Ratusan warga dan beberapa turis mancanegera, ikut menyemarakkan ritual Ma’nene di Lo’ko Mata, di mana kegiatan tersebut di gelar selama enam hari. 

Travel Mart TTC Dihadiri 22 Negara

Perkembangan dunia pariwisata yang semakin meningkat, turut menggenjot keberadaan bisnis travel. Usaha perjalanan pun menjadi primadona, sehingga banyak pelaku usaha yang melirik bisnis plesiran ini. Salah satu perusahaan agen perjalanan, Travel Mart Tourindo Tunggal Cemerlang (TTC), mamasuki usianya yang ke-10, mengundang 22 negara serta 23 seller dalam negeri untuk bersama memajukan industri pariwisata di dalam negeri.
Direktur TTC, Tedjo Iskandar, saat ditemui di Swiss-Bellin Panakkukang, Rabu (24/9/2014), mengatakan, Indonesia, khususnya Sulsel, memiliki potensi wisata yang berlimpah, namun kurang digarap maksimal. Oleh karena itu, pihaknya menghimpun instansi terkait agen perjalanan untuk bersama mempromosikan destinasi pariwisata daerahnya masing-masing.
Antusiasme terhadap perkembangan dunia wisata, dapat dilihat dari kinerja seller yang meningkat setiap kegiatannya. Hal ini dibuktikan pada kegiatan sebelumnya yang diikuti 76 seller. “Kegiatan kali ini meningkat, dan diikuti 88 seller yang berasal dari berbagai penjuru dunia,” bebernya.
Ketua  Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulsel, Didi Leonardo Manaba, menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan TTC. Pasalnya, kegiatan seperti ini mampu mensosialisasikan destinasi wisata Sulsel di dalam negeri maupun mancanegara.
Hal sama diungkapkan Public Relation and Communication Manager Macau Government Tourist, Ningsih A Chandra. “Dengan adanya kegiatan yang dicanangkan dua kali setahun, kami optimis mampu menjadi pusat sosialisasi destinasi wisata untuk masing-masing seller,” bebernya.