18 January 2015

Kawali dan Badik

Kawali dan Badik
Nilai Ekstetika Seni Metalurgi

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Luasnya kepulauan di Indonesia dengan ribuan adat istiadat penduduknya, menyimpan khazanah budaya Nusantara yang luar biasa. Tak hanya itu, melalui beragam suku dan adat istiadatnya pula, Indonesia dianugerahi berbagai seni dan estetika yang merupakan bagian dari peradaban lama, serta otentikasi budaya luhur.
Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini adalah dalam metalurgi yang dapat dilihat dari karya senjata tajamnya. Metalurgi sendiri berarti ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan secara mekanis, sehingga dari bijih besi kemudian diperoleh logam yang berguna.
Setiap suku di tiap provinsi Indonesia memiliki senjata tajam khas yang unik. Salah satunya adalah kawali (Bugis) dan badik (Makassar), di mana senjata jenis ini merupakan ciri khas suku Bugis-Makassar di Sulsel. Kawali dan badik adalah senjata tajam dengan bentuk khas, berbilah pipih dengan sisi tajam tunggal atau ganda.
Ukuran senjata tajam tradisional ini juga bermacam-macam, pendek sejengkal jari hingga panjang mencapai setengah meter. Bentuknya asimetris dan bilahnya kerap dihiasi dengan pamor. Meski memiliki fungsi yang sama, kawali di ranah Bugis atau badik di Makassar, memiliki beberapa perbedaan mendasar, terutama bentuk hingga pamornya.
Sejak ratusan tahun silam, kawali dan badik digunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu, tetapi juga sebagai identitas diri suatu kelompok etnis. Secara umum, kawali dan badik terdiri atas beberapa bagian, yakni pangngulu (gagang), mata (bilah besi), serta wanuang atau warangka yang berfungsi sebagai sarung, serta pakkalasa yang merupakan hiasan pada gagang dan sarung.
Gagang kawali dan badik umumnya terbuat dari kayu kualitas tinggi seperti kayu kemuning, sementara wanuang atau sarungnya biasanya terbuat dari kayu cendana. Pada perkembangannya, beberapa bahan kayu lainnya mulai dipergunakan, bahkan ada juga pangngulu dan wanuang terbuat dari gading dan tanduk.
Menariknya, setiap jenis kawali dan badik diyakini memiliki kekuatan (sakti). Kekuatan tersebut dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan, serta kemakmuran, bahkan kemelaratan, kemiskinan, dan penderitaan bagi yang menyimpannya.
Apapun kekuatan sakti yang diyakini terkandung dalam sebilah kawali dan badik, keduanya tetaplah sebuah benda seni budaya dengan estetika tinggi yang dipercaya dapat mengangkat harkat diri seseorang, terutama kaum pria Bugis-Makassar.

Lestarikan Kearifan Lokal Sulselbar

Perkembangan teknologi informasi yang kurang diimbangi sosialisasi nilai budaya lokal, serta kurangnya pengenalan terhadap budaya daerah merupakan realitas yang tidak dapat dinafikan lagi. Untuk mengimplementasikan aspek dan nilai kearifan lokal yang sudah melamur ditelan modernitas, maka terbentuklah komunal yang peduli terhadap kearifan lokal.
Dari sebuah grup diskusi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) di media sosial beranggota 15 orang, lahirlah gagasan untuk membentuk komunitas permanentatif, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sempugi. Salah seorang pendiri LSM Sempugi, Andi Rahmat Munawar, saat ditemui di Sekretariat Sempugi, Jalan Topas Raya, Senin (6/10/2014), mengungkapkan, komunitas ini mendapat apresiasi dari masyarakat.
Untuk itu, komunitas yang terbentuk 2013 tersebut telah diaktakan di notaris. “Tujuannya, lembagi ini mampu melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan nilai kearifan lokal, seperti budaya hingga destinasi wisata,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, Sempugi merupakan wadah untuk belajar dan berbagi pengetahuan tentang sejarah dan budaya Bugis. Selain itu, juga untuk menjalin silaturahmi antar masyarakat Bugis di ranah Bugis maupun rantau,” bebernya.
Sementara itu, pembina LSM Sempugi, Rudy Rustam, menambahkan, untuk memaksimalkan tujuan lembaganya, pengurus melakukan berbagai kegiatan bersegmen pendidikan, sejarah, budaya, serta wisata. “Kegiatan yang kami lakukan seperti pendataan keberadaan Panre Bessi (pandai besi) yang tersisa, serta mengumpulkan data dan informasi terkait pelestarian metalurgi. Sempugi juga membentuk sanggar seni yang aktif mengisi sesi hiburan melalui lagu tradisional pada berbagai kegiatan di Makassar,” imbuhnya.
Untuk mengoptimalkan program kerja lembaganya, sebut Rudy, Sempugi menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki segmen sama, seperti komunitas pecinta besi, lembaga adat dan tokoh, budayawan, serta sanggar-sanggar seni yang tersebar di Sulselbar.
“Pesan-pesan leluhur umumnya tersimpan pada naskah lontara tua yang sulit diakses. Melalui kegiatan ini, kami harap deskripsi pesan yang bernilai edukatif dari etnis Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar tersebut, bisa dituangkan dalam bentuk wallpaper. Transliterasi dan terjemahan aksara lontara, sudah kami realisasikan melalui kegiatan produksi dan penyebaran konten ringtone budaya dengan bekerja sama Wiki Media Indonesia,” bebernya.
Dengan demikian, Rudy berharap, berbagai program yang telah diaktualisasikan Sempugi bisa menumbuhkan minat generasi muda terhadap budaya Sulselbar.