13 January 2015

Eksotisme Kete Kesu

Eksotisme Kete Kesu
Potret Kebudayaan Megalitik Tana Toraja

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kete Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara (Torut) yang cukup menarik minat turis mancanegara maupun domestik. Setiap wisatawan yang ke Tana Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun, bahkan lebih tua lagi.
Kete Kesu adalah kompleks tongkonan atau rumah tradisional Toraja yang paling populer dan paling indah di Toraja, terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Torut, Sulsel. Berada sekitar empat kilometer sebelah selatan Kota Rantepao atau 14 kilometer sebelah utara Makale.
Sebagai tempat wisata, Kete Kesu cukup lengkap, terutama bagi yang hendak memotret kehidupan komunal tradisional Toraja. Kete Kesu adalah sebuah area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.
Tongkonan-tongkonan itu lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun di depan. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun, menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Di dalam kompleks Kete Kesu ada juga museum yang menyimpan berbagai artefak kuno.
Sementara di sekitar kompleks Kete Kesu, ada liang atau pekuburan tradisional berupa lubang-lubang pada batu cadas. Ada pula panorama persawahan yang indah menghampar. Dengan semua itu, Kete Kesu adalah sebuah poros di mana masyarakat hidup, menentukan pranata, menjalani kehidupan, dan memenuhi berbagai kebutuhan.
Tongkonan tersebut didirikan Puang Ri Kesu, dan diwariskan secara turun temurun kepada kerabatnya yang masih hidup sampai sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tetapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.
Berbagai suvenir dijajakan penduduk di sekitar kompleks tongkonan. Ada nampan, tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan. Semuanya bermotif ukiran Toraja karya tangan mereka. Tatakan gelas dijual Rp 1.000, nampan Rp 20 ribu-Rp 25 ribu, sedangkan lukisan yang diukir bisa jutaan rupiah.
Dari arah Rantepao, pengunjung berbelok ke jalan kecil sejauh tiga kilometer yang bisa dilewati dua kendaraan. Bisa dengan kendaraan pribadi atau fasilitas transportasi hotel. 

ODTW Torut Optimalkan Kete Kesu

Kete Kesu adalah kampung wisata tertua di kawasan di Torut yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisionalnya. Mulai dikelola sebagai destinasi wisata di Tana Toraja sejak 1980-an. Hal ini tersebut diungkapkan Staf Bidang Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Torut, Maulana Nova Tiku Rari, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/9).
Menurutnya, kampung wisata tersebut perlu dikelola maksimal, baik pihak yayasan, Rumpun Keluarga Kete Kesu, hingga pemerintah daerah (Pemda) setempat. Sehingga kearifan lokal yang dimiliki Kete Kesu mampu terkoordinir maksimal. Sebagaimana diketahui, secara umum kampung wisata tersebut merupakan objek wisata unggulan Pemprov Sulsel, khususnya Torut sendiri.
Oleh karena itu, sebut Maulana, pengelolaan destinasi wisata di daerah ini perlu dimaksimalkan, mulai sarana hingga pelestarian kearifan adat budaya yang dimiliki kampung wisata tersebut.
“Kami mengelolanya tanpa harus menghilangkan kearifan lokal atau nilai-nilai adat yang tertanam sejak dulu, seperti halnya atap dan dinding tongkonanan yang pada saat pembaruan tetap menggunakan komponen alami. Kami juga mengoptimalkan kebersihan Kete Kesu ini dengan menyediakan tempat sampah di setiap ruas kampung,” paparnya.
Berkat upaya tersebut, Maulana mengungkapkan, Kete Kesu tercatat sebagai objek wisata dengan wisatawan terbanyak sepanjang tahun, baik domestik maupun mancanegara. “Apalagi, lokasi untuk menjangkau tempat wisata ini cukup strategis, dan tidak jauh dari pusat kota yang hanya berjarak tiga kilometer,” imbuhnya.
Dijelaskan, selama ini Kete Kesu dikelola Pemda Torut dan Yayasan Rumpun Keluarga Kete Kesu, sehingga pengelolaan maupun pembagian benefitnya pun terbagi dua, 60 persen ke yayasan dan 40 persen ke Pemda Torut.
Maulana berharap, dengan berbagai potensi kekayaan alam serta adat budayanya, masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi guna meningkatkan perekonomian warga Torut sendiri.

Catatan Perjalanan:

-       Pemahatan liang kubur pada batu diproyeksi menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, yang disesuaikan harga kerbau dan luas liang kubur yang akan dipahat. Satu liang kubur Rp 75 juta hingga Rp 100 juta (lima ekor kerbau). Durasi pemahatan liang kubur memakan waktu tiga hingga 12 bulan.
-       Perayaan Ma’nene digelar sekali dalam tiga tahun, di mana sebelumnya dilakukan sekali dalam 25 tahun.

Rekapitulasi Dana:

-       Tiket masuk (pelajar Rp 5 ribu, domestik Rp 10 ribu, mancanegara Rp 20 ribu).
-       Tiket bus Makassar-Toraja Utara Rp 300 ribu.
-       Kontak Person ODTW (pemandu), 081355355161 (Maulana Nova Tiku Rari)