18 January 2015

Kawali dan Badik

Kawali dan Badik
Nilai Ekstetika Seni Metalurgi

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W
BLOGKATAHATIKU - Luasnya kepulauan di Indonesia dengan ribuan adat istiadat penduduknya, menyimpan khazanah budaya Nusantara yang luar biasa. Tak hanya itu, melalui beragam suku dan adat istiadatnya pula, Indonesia dianugerahi berbagai seni dan estetika yang merupakan bagian dari peradaban lama, serta otentikasi budaya luhur.
Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki bangsa ini adalah dalam metalurgi yang dapat dilihat dari karya senjata tajamnya. Metalurgi sendiri berarti ilmu tentang pengerjaan logam secara kimiawi dan secara mekanis, sehingga dari bijih besi kemudian diperoleh logam yang berguna.
Setiap suku di tiap provinsi Indonesia memiliki senjata tajam khas yang unik. Salah satunya adalah kawali (Bugis) dan badik (Makassar), di mana senjata jenis ini merupakan ciri khas suku Bugis-Makassar di Sulsel. Kawali dan badik adalah senjata tajam dengan bentuk khas, berbilah pipih dengan sisi tajam tunggal atau ganda.
Ukuran senjata tajam tradisional ini juga bermacam-macam, pendek sejengkal jari hingga panjang mencapai setengah meter. Bentuknya asimetris dan bilahnya kerap dihiasi dengan pamor. Meski memiliki fungsi yang sama, kawali di ranah Bugis atau badik di Makassar, memiliki beberapa perbedaan mendasar, terutama bentuk hingga pamornya.
Sejak ratusan tahun silam, kawali dan badik digunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu, tetapi juga sebagai identitas diri suatu kelompok etnis. Secara umum, kawali dan badik terdiri atas beberapa bagian, yakni pangngulu (gagang), mata (bilah besi), serta wanuang atau warangka yang berfungsi sebagai sarung, serta pakkalasa yang merupakan hiasan pada gagang dan sarung.
Gagang kawali dan badik umumnya terbuat dari kayu kualitas tinggi seperti kayu kemuning, sementara wanuang atau sarungnya biasanya terbuat dari kayu cendana. Pada perkembangannya, beberapa bahan kayu lainnya mulai dipergunakan, bahkan ada juga pangngulu dan wanuang terbuat dari gading dan tanduk.
Menariknya, setiap jenis kawali dan badik diyakini memiliki kekuatan (sakti). Kekuatan tersebut dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan, serta kemakmuran, bahkan kemelaratan, kemiskinan, dan penderitaan bagi yang menyimpannya.
Apapun kekuatan sakti yang diyakini terkandung dalam sebilah kawali dan badik, keduanya tetaplah sebuah benda seni budaya dengan estetika tinggi yang dipercaya dapat mengangkat harkat diri seseorang, terutama kaum pria Bugis-Makassar.

Lestarikan Kearifan Lokal Sulselbar

Perkembangan teknologi informasi yang kurang diimbangi sosialisasi nilai budaya lokal, serta kurangnya pengenalan terhadap budaya daerah merupakan realitas yang tidak dapat dinafikan lagi. Untuk mengimplementasikan aspek dan nilai kearifan lokal yang sudah melamur ditelan modernitas, maka terbentuklah komunal yang peduli terhadap kearifan lokal.
Dari sebuah grup diskusi sejarah dan budaya Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) di media sosial beranggota 15 orang, lahirlah gagasan untuk membentuk komunitas permanentatif, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sempugi. Salah seorang pendiri LSM Sempugi, Andi Rahmat Munawar, saat ditemui di Sekretariat Sempugi, Jalan Topas Raya, Senin (6/10/2014), mengungkapkan, komunitas ini mendapat apresiasi dari masyarakat.
Untuk itu, komunitas yang terbentuk 2013 tersebut telah diaktakan di notaris. “Tujuannya, lembagi ini mampu melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan nilai kearifan lokal, seperti budaya hingga destinasi wisata,” ujarnya.
Rahmat menjelaskan, Sempugi merupakan wadah untuk belajar dan berbagi pengetahuan tentang sejarah dan budaya Bugis. Selain itu, juga untuk menjalin silaturahmi antar masyarakat Bugis di ranah Bugis maupun rantau,” bebernya.
Sementara itu, pembina LSM Sempugi, Rudy Rustam, menambahkan, untuk memaksimalkan tujuan lembaganya, pengurus melakukan berbagai kegiatan bersegmen pendidikan, sejarah, budaya, serta wisata. “Kegiatan yang kami lakukan seperti pendataan keberadaan Panre Bessi (pandai besi) yang tersisa, serta mengumpulkan data dan informasi terkait pelestarian metalurgi. Sempugi juga membentuk sanggar seni yang aktif mengisi sesi hiburan melalui lagu tradisional pada berbagai kegiatan di Makassar,” imbuhnya.
Untuk mengoptimalkan program kerja lembaganya, sebut Rudy, Sempugi menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki segmen sama, seperti komunitas pecinta besi, lembaga adat dan tokoh, budayawan, serta sanggar-sanggar seni yang tersebar di Sulselbar.
“Pesan-pesan leluhur umumnya tersimpan pada naskah lontara tua yang sulit diakses. Melalui kegiatan ini, kami harap deskripsi pesan yang bernilai edukatif dari etnis Makassar, Bugis, Toraja, dan Mandar tersebut, bisa dituangkan dalam bentuk wallpaper. Transliterasi dan terjemahan aksara lontara, sudah kami realisasikan melalui kegiatan produksi dan penyebaran konten ringtone budaya dengan bekerja sama Wiki Media Indonesia,” bebernya.
Dengan demikian, Rudy berharap, berbagai program yang telah diaktualisasikan Sempugi bisa menumbuhkan minat generasi muda terhadap budaya Sulselbar.

16 January 2015

Pulau Cangke, Destinasi Spermonde Island

Pulau Cangke, Destinasi Spermonde Island

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sulsel dianugerahkan berbagai potensi wisata alam yang menarik, baik panorama alam maupun bawah laut. Salah satunya adalah Pulau Cangke di Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Pulau Cangke merupakan salah satu pulau spermonde di antara 120 yang tersebar di sebelah barat Sulsel, yakni pada gugusan pulau kecil yang membentang dari Kabupaten Takalar.
Letak geografis wisata alam tersebut cukup strategis, dan tak jauh dari Kota Makassar. Jarak tempuh dari Pelabuhan Paoetere Makassar ke Pulau Cangke hanya makan waktu dua jam 30 menit dengan berkendara perahu tradisional yang kerap disebut Jolloro atau Katinting.
Luas Pulau Cangke 10 kilometer persegi. Pulau ini merupakan salah satu tempat bagi penyu-penyu untuk bertelur. Selama dua bulan setiap tahun, penyu-penyu tersebut akan berdatangan untuk bertelur di Pulau Cangke.
Keindahan Pulau Cangke bukan hanya di daratnya saja, tetapi juga pemandangan indah yang ada di dasar lautnya. Untuk menikmati keindahan bawah laut seperti terumbu karang dan ikan-ikan hias, wisatawan bisa menyaksikannya dengan diving atau snorkeling. Bahkan pada saat air surut, wistawan cukup berjalan kaki untuk menengok keindahan bawah lautnya.
Tidak hanya itu, wistawan akan diusuguhkan hamparan pasir putih dan gradasi warna laut yang indah. Sejauh mata memandang, wisatawan akan dapat menikmati perairan dangkal berwana biru muda yang sangat jernih. Memang, inilah salah satu karakter pulau di gugusan spermonde.
Menariknya, pada destinasi wisata bahari tersebut, ada dua tokoh yang berkontribusi melestarikan Pulau Cangke. Adalah Daeng Abu dan Maidah yang merupakan penduduk lokal. Selama puluhan tahun, sepasang suami-istri ini menghuni Pulau Cangke, melakukan penghijauan dan menjaga lingkungan alam sekitarnya dengan telaten, termasuk menjaga penyu-penyu yang menetaskan telur di pulau tersebut.

Persia Lestarikan Pulau Cangke

Kesadaran terhadap efek pemanasan global dan pentingnya pelestarian lingkungan hidup, turut mempengaruhi lahirnya berbagai komunitas pecinta alam. Salah satunya adalah Petualang Republik Indonesia (Persia) yang didirikan 2012 lalu.
Ketua Divisi Bahari Persia, Aris Gangka, saat ditemui di Jalan Toddopuli, Rabu (1/10/2014), mengatakan, pihaknya merintis komunitas tersebut lantaran peduli terhadap lingkungan hidup.
“Komunitas yang telah beranggotakan 20 orang ini, pada dasarnya terbentuk karena memiliki hobi yang sama, yakni berpetualang di alam bebas. Namun, kami tak semata berpetualang, tetapi melakukan aktivitas positif seperti pelestarian lingkungan. Salah satunya adalah di Pulau Cangke, Pangkep,” ungkapnya.
Adapun konsep pelestarian lingkungan yang dilakukan komunitasnya, sebut Aris, di antaranya adalah aksi bersih pulau. “Nah, di sini kami memberikan edukasi kepada warga pulau dan wisatawan yang berkunjung untuk senantiasa menjaga kebersihan lingkungan pulau,” bebernya.
Ditambahkan, selain di Pulau Cangke, Persia telah melakukan aksi bersih di Pulau Langkadea, Gondong Bali, Lanjukang, Pamangangan, Kodingarengkeke, dan Poddang-poddang Caddi. “Jadi, saat berpetualang, kami tak hanya menikmati keindahan pulau-pulau tersebut, namun juga berusaha menjaga kelestarian pulau dengan aksi bersih-bersih maupun edukasi,” imbuh Aris.
Sementara itu, Koordinator Umum Persia, Dany, menambahkan, pihaknya juga melakukan promosi terkait keindahan Pulau Cangke kepada wisatawan. “Kami membuka dua paket destinasi Pulau Cangke, yakni paket rombongan Rp 2 juta, include transportasi pulang pergi (PP), snorkeling, dua kali makan dan snack, maksimal 25 orang dan minimal tujuh orang. Sementara paket reguler Rp 100 ribu per orang, juga include seperti tadi,” jelasnya.

Catatan Perjalanan

Wisatawan diwajibkan membawah air bersih dan perlengkapan istirahat sendiri seperti tenda, hammuck, dan matras. Sampah-sampah kemasan makanan diimbau dibawa pulang. Kontak personal Ketua Divisi Bahari Persia, 085242535878 (Aris Gangka).

15 January 2015

Melirik Ritual Ma’nene di Toraja Utara

Melirik Ritual Ma’nene di Toraja Utara

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Salah satu tradisi yang masih melekat pada masyarakat Tana Toraja (Torut) adalah ritual Ma’nene. Ritual ini merupakan prosesi penggantian pakaian dan tabela dalam kuburan batu. Namun, terdapat pengertian lain dari Ma’nene yakni “mayat berjalan”.
Harfiah “mayat berjalan” yang masih melekat di sebagian masyarakat Torut tentu terkait kepercayaan berbalut mistis yang sudah turun temurun diyakini, di mana penguburan jenazah dilakukan dengan cara di luar nalar seperti menjalankan mayat-mayat menuju ke pekuburan batu yang bakal menjadi kuburan mereka.
Namun di luar itu, Desa Lando Rundung, Kecamatan Sesean Suluara, adalah salah satu daerah di Torut yang masih memegang teguh ritual Ma’nene. Ritual ini digelar sekali dalam satu generasai (25 tahun). Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, jadwal ritual berubah sekali dalam tiga tahun. Kesepakatan dicapai atas musyawarah berbagai elemen masyarakat, seperti pemuka adat hingga pengurus gereja.
Perwakilan keluarga Mama Rante Datu dan Bapak Sarirang (pemuka adat), Luther Allo Sarirang, saat ditemui di sela acara di Lo’ko Mata, Senin (8/9), mengatakan, ritual Ma’nene bertujuan mempererat tali silaturahmi antarrumpun keluarga yang tersebar dari Sabang sampai Marauke. Ritual juga dianggap wujud kasih kepada Tuhan.
Adapun kegiatan yang digelar dalam ritual tersebut, diantaranya membersihkan Lo’ko mata, mengganti pakaian mayat yang biasanya disesuaikan barang kesukaan almarhum selama hidup (mangika), pemindahan jenazah bagi keluarga tertentu (mapalengka), pemotongan babi dan kerbau, Manglongko di Rante, menutup liang lahat, serta Sisembak (adu kaki anak-anak).
“Saya dan keluarga jauh-jauh dari Papua untuk menggelar ritual Ma'nene, sekaligus ajang silaturahmi dengan keluarga,” tandas Luther.

Kuburan Tertua Lo’ko Mata

Lo’ko Mata merupakan salah satu kuburan batu tertua di Toraja Utara (Torut) yang terletak di Desa Lando Rundu, Kecamatan Sesean Suluara. Jarak daerah ini dari Rantepao sekitar 15 kilometer, dan dapat ditembuh berkendara sepeda motor atau mobil selama satu jam.
Adapun pola kuburan batu berbentuk bulat silinder, berukuran 35 meter dengan tinggi sekitar 50 meter. Menariknya, di Lo’ko Mata tersebut terdapat ratusan liang kubur, di mana setiap liang kubur terdapat 40 mayat.Lo’ko Mata disinyalir kuburan batu tertua di Torut, dibuktikan adanya kuburan berumur dua abad.
Wisatawan yang berkunjung di daerah ini bakal disuguhkan beragam bentuk rumah adat Tongkonan, dan hamparan sawah yang dihiasi bebatuan hitam alami yang menjulang tinggi, dan sesekali diselingi kabut di pagi atau sore hari.
Ratusan warga dan beberapa turis mancanegera, ikut menyemarakkan ritual Ma’nene di Lo’ko Mata, di mana kegiatan tersebut di gelar selama enam hari. 

Travel Mart TTC Dihadiri 22 Negara

Perkembangan dunia pariwisata yang semakin meningkat, turut menggenjot keberadaan bisnis travel. Usaha perjalanan pun menjadi primadona, sehingga banyak pelaku usaha yang melirik bisnis plesiran ini. Salah satu perusahaan agen perjalanan, Travel Mart Tourindo Tunggal Cemerlang (TTC), mamasuki usianya yang ke-10, mengundang 22 negara serta 23 seller dalam negeri untuk bersama memajukan industri pariwisata di dalam negeri.
Direktur TTC, Tedjo Iskandar, saat ditemui di Swiss-Bellin Panakkukang, Rabu (24/9/2014), mengatakan, Indonesia, khususnya Sulsel, memiliki potensi wisata yang berlimpah, namun kurang digarap maksimal. Oleh karena itu, pihaknya menghimpun instansi terkait agen perjalanan untuk bersama mempromosikan destinasi pariwisata daerahnya masing-masing.
Antusiasme terhadap perkembangan dunia wisata, dapat dilihat dari kinerja seller yang meningkat setiap kegiatannya. Hal ini dibuktikan pada kegiatan sebelumnya yang diikuti 76 seller. “Kegiatan kali ini meningkat, dan diikuti 88 seller yang berasal dari berbagai penjuru dunia,” bebernya.
Ketua  Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sulsel, Didi Leonardo Manaba, menambahkan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan TTC. Pasalnya, kegiatan seperti ini mampu mensosialisasikan destinasi wisata Sulsel di dalam negeri maupun mancanegara.
Hal sama diungkapkan Public Relation and Communication Manager Macau Government Tourist, Ningsih A Chandra. “Dengan adanya kegiatan yang dicanangkan dua kali setahun, kami optimis mampu menjadi pusat sosialisasi destinasi wisata untuk masing-masing seller,” bebernya.

13 January 2015

Eksotisme Kete Kesu

Eksotisme Kete Kesu
Potret Kebudayaan Megalitik Tana Toraja

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kete Kesu merupakan satu dari sekian banyak lokasi wisata di Kabupaten Toraja Utara (Torut) yang cukup menarik minat turis mancanegara maupun domestik. Setiap wisatawan yang ke Tana Toraja, akan menyempatkan diri berkunjung ke objek wisata yang masih menyimpan panorama kepurbakalaan berupa kuburan batu yang diperkirakan berusia sekitar 500 tahun, bahkan lebih tua lagi.
Kete Kesu adalah kompleks tongkonan atau rumah tradisional Toraja yang paling populer dan paling indah di Toraja, terletak di Kampung Bonoran, Kelurahan Tikunna Malenong, Kecamatan Sanggalangi, Torut, Sulsel. Berada sekitar empat kilometer sebelah selatan Kota Rantepao atau 14 kilometer sebelah utara Makale.
Sebagai tempat wisata, Kete Kesu cukup lengkap, terutama bagi yang hendak memotret kehidupan komunal tradisional Toraja. Kete Kesu adalah sebuah area di mana beberapa tongkonan berdiri berjajar, dilengkapi lumbung padi (alang sura), area upacara pemakaman (rante), dan tempat pertemuan adat.
Tongkonan-tongkonan itu lengkap dengan berbagai ornamen seperti ukiran khas Toraja dan tanduk kerbau yang disusun di depan. Semakin banyak dan semakin tinggi tanduk yang tersusun, menandakan semakin tinggi derajat sosial penghuninya. Di dalam kompleks Kete Kesu ada juga museum yang menyimpan berbagai artefak kuno.
Sementara di sekitar kompleks Kete Kesu, ada liang atau pekuburan tradisional berupa lubang-lubang pada batu cadas. Ada pula panorama persawahan yang indah menghampar. Dengan semua itu, Kete Kesu adalah sebuah poros di mana masyarakat hidup, menentukan pranata, menjalani kehidupan, dan memenuhi berbagai kebutuhan.
Tongkonan tersebut didirikan Puang Ri Kesu, dan diwariskan secara turun temurun kepada kerabatnya yang masih hidup sampai sekarang. Kompleks itu menjadi cagar budaya, tetap digunakan sebagai ajang kegiatan adat tetapi tidak ditinggali. Kete Kesu adalah potret kebudayaan megalitik di Tana Toraja yang paling lengkap.
Berbagai suvenir dijajakan penduduk di sekitar kompleks tongkonan. Ada nampan, tatakan gelas, gelang, kalung, patung, hiasan dinding, dan lukisan. Semuanya bermotif ukiran Toraja karya tangan mereka. Tatakan gelas dijual Rp 1.000, nampan Rp 20 ribu-Rp 25 ribu, sedangkan lukisan yang diukir bisa jutaan rupiah.
Dari arah Rantepao, pengunjung berbelok ke jalan kecil sejauh tiga kilometer yang bisa dilewati dua kendaraan. Bisa dengan kendaraan pribadi atau fasilitas transportasi hotel. 

ODTW Torut Optimalkan Kete Kesu

Kete Kesu adalah kampung wisata tertua di kawasan di Torut yang dikenal karena adat dan kehidupan tradisionalnya. Mulai dikelola sebagai destinasi wisata di Tana Toraja sejak 1980-an. Hal ini tersebut diungkapkan Staf Bidang Objek Daya Tarik Wisata (ODTW) Torut, Maulana Nova Tiku Rari, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (9/9).
Menurutnya, kampung wisata tersebut perlu dikelola maksimal, baik pihak yayasan, Rumpun Keluarga Kete Kesu, hingga pemerintah daerah (Pemda) setempat. Sehingga kearifan lokal yang dimiliki Kete Kesu mampu terkoordinir maksimal. Sebagaimana diketahui, secara umum kampung wisata tersebut merupakan objek wisata unggulan Pemprov Sulsel, khususnya Torut sendiri.
Oleh karena itu, sebut Maulana, pengelolaan destinasi wisata di daerah ini perlu dimaksimalkan, mulai sarana hingga pelestarian kearifan adat budaya yang dimiliki kampung wisata tersebut.
“Kami mengelolanya tanpa harus menghilangkan kearifan lokal atau nilai-nilai adat yang tertanam sejak dulu, seperti halnya atap dan dinding tongkonanan yang pada saat pembaruan tetap menggunakan komponen alami. Kami juga mengoptimalkan kebersihan Kete Kesu ini dengan menyediakan tempat sampah di setiap ruas kampung,” paparnya.
Berkat upaya tersebut, Maulana mengungkapkan, Kete Kesu tercatat sebagai objek wisata dengan wisatawan terbanyak sepanjang tahun, baik domestik maupun mancanegara. “Apalagi, lokasi untuk menjangkau tempat wisata ini cukup strategis, dan tidak jauh dari pusat kota yang hanya berjarak tiga kilometer,” imbuhnya.
Dijelaskan, selama ini Kete Kesu dikelola Pemda Torut dan Yayasan Rumpun Keluarga Kete Kesu, sehingga pengelolaan maupun pembagian benefitnya pun terbagi dua, 60 persen ke yayasan dan 40 persen ke Pemda Torut.
Maulana berharap, dengan berbagai potensi kekayaan alam serta adat budayanya, masyarakat dan pemerintah dapat bersinergi guna meningkatkan perekonomian warga Torut sendiri.

Catatan Perjalanan:

-       Pemahatan liang kubur pada batu diproyeksi menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah, yang disesuaikan harga kerbau dan luas liang kubur yang akan dipahat. Satu liang kubur Rp 75 juta hingga Rp 100 juta (lima ekor kerbau). Durasi pemahatan liang kubur memakan waktu tiga hingga 12 bulan.
-       Perayaan Ma’nene digelar sekali dalam tiga tahun, di mana sebelumnya dilakukan sekali dalam 25 tahun.

Rekapitulasi Dana:

-       Tiket masuk (pelajar Rp 5 ribu, domestik Rp 10 ribu, mancanegara Rp 20 ribu).
-       Tiket bus Makassar-Toraja Utara Rp 300 ribu.
-       Kontak Person ODTW (pemandu), 081355355161 (Maulana Nova Tiku Rari)

12 January 2015

Pantai Patuno Wakatobi

Pantai Patuno Wakatobi
Keindahan Pasir Putih hingga Alam Bawah Laut

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Cakrawala jingga menyelimuti langit di Pantai Patuno. Suasana laut yang surut, memanjakan mata dengan hamparan pasir putih yang bersih, sesekali diselingi kubangan kecil yang memerangkap air laut bak oase di gurun pasir. Terdapat juga tumpukan karang di beberapa bagian, dari yang kecil hingga membentuk pulau-pulau tak berpenghuni.
Patuno sendiri adalah sebuah desa yang dapat ditempuh tiga puluh menit arah timur pusat Kota Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi. Perkampungan penduduk di desa yang asri ini membentang memanjang kurang lebih dua kilometer. Begitu menginjakkan kaki di desa itu, wisatawan tidak pernah manyangka bahwa kampung ini sesungguhnya adalah kampung nelayan.
Betapa tidak, secara umum di Tanah Air, kampung nelayan identik dengan bangunan rumah panggung atau rumah tanah yang beratapkan rumbia. Namun Patuno jauh dari kesan tersebut lantaran dihiasi deretan rumah permanen, bahkan tak jarang berarsitek modern dan minimalis yang menjadi hunian masyarakat Patuno.
Ternyata ketersediaan bahan baku, pembuatan, serta keterampilan pertukangan membuat masyarakat setempat minim biaya untuk membangun hunian permanen. Tentu tak semua, sebab masih ada beberapa hunian masyarakat yang masih terkesan di bawah ukuran sejahtera.
Menyambangi Pantai Patuno, tak lengkap rasanya jika tak mampir menginap di Patuno Resort. Resort yang terbilang cukup ternama milik bupati Wakatobi, terletak di pesisir dan berhadapan langsung dengan pantai. Di sini, wisatawan dapat menginap di beberapa bungalo dan vila yang nyaman, lengkap dengan fasilitas terkait wisata.
Lepas dari itu, Kabupaten Wakatobi adalah salah satu kabupaten di Sulawesi Tenggara (Sultra) yang terbilang eksotis. Pasalnya, di daerah ini juga terdapat Taman Nasional Wakatobi, merupakan salah satu dari 50 taman nasoinal di Indonesia. Total area taman nasional ini mencapai 1,39 juta hektare, menyangkut keanekaragaman hayati laut dan kondisi karang. Daerah ini juga menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Kedalaman air di taman nasional ini bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter di bawah permukaan air laut.
Jika sudah menyambangi Wakatobi, baik Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, rasanya memang membuat wisatawan enggan untuk pulang. Pasalnya, pesona laut berupa terumbu karang merupakan kekayaan tiada tara bagi daerah ini. Dengan luas laut mencapai 18.377 kilometer persegi, sementara daratannya hanya hanya 823 kilometer persegi, Wakatobi menawarkan objek wisata laut yang sudah cukup terkenal di mancanegara.
Taman Nasional yang ditetapkan pemerintah sejak 1986 ini memiliki 25 gugusan terumbu karang. Di dalam lautnya yang jernih dan bebas polusi, terdapat 112 jenis karang. Tak berlebihan jika penggila selam, snorkeling, dan penyuka wisata laut menganggap Wakatobi sebagai surga bawah laut.

Spesies Ikan Karang

Pesona karang cantik akan semakin indah dengan hadirnya spesies ikan karang yang menari saat menyelam atau snorkeling. Tercatat 93 jenis ikan konsumsi dan ikan hias ada di Wakatobi. Ada ikan hias argus bintik (cephalopholus argus), takhasang (naso unicornis), pogo-pogo (balistoides viridae-scen) napoleon (cheilinus undulatus), dan sejenisnya.
Untuk mendapatkan pemandangan cantik ikan-ikan karang, para penyelam dapat menjumpainya di setiap titik terumbu karang. Biasanya, Pulau Hoga, Binongko, dan Resort Tamia merupakan lokasi menarik untuk dikunjungi, terutama untuk kegiatan menyelam dan snorkeling. Selain berenang dan menyelam, pulau-pulau ini juga dapat dimanfaatkan untuk berkemah dan wisata budaya.
Pantai-pantai di Wakatobi juga tidak kalah ciamik. Panjangnya enam ratus kilometer berhampar pasir putih, dan juga gugusan terumbu karang di sekitarnya. Butuh waktu lama kalau ingin menyusuri seluruh pesona yang ada di Wakatobi.
Potensi bahari Wakatobi bukan hanya itu. Di Pulau Tolandona, terdapat keunikan taman laut yang melingkar dengan indah. Jika beruntung, penyelam dapat menemui penyu sisik, penyu tempayan, dan penyu lekang. Di Pulau Tolandona juga bisa dijumpai ratusan jenis burung. Burung laut seperti angsa-batu cokelat, cerek melayu, dan raja udang erasia dapat dijumpai dengan mudah. 

Sail Takabonerate
Gerakkan Sektor Ekonomi Selayar

Seperti tahun-tahun kemarin, kali ini Ekpedisi Takabonerate bertajuk Sail Takabonerate di Kabupaten Kepulauan Selayar, ditenggeri 56 kapal layar, Senin (8/9/2014). Beberapa kegiatan terkait budaya setempat diselenggarakan, namun yang paling menonjol adalah keterlibatan masyarakat Selayar dalam kegiatan Sail Takabonerate.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulsel, Jufri Rahman, mengatakan, penyelenggaraan kali ini melibatkan warga lokal agar mereka merasa memiliki event tersebut, di mana kegiatan bahari tersebut juga bermanfaat menggerakkan sektor ekonomi, pendidikan, dan sektor lainnya di Selayar.

11 January 2015

Semarak Lovely Desember 2014 di Toraja Utara

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY WONGSO
BLOGKATAHATIKU - Bambu demikian melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tana Toraja. Kreativitas warga Toraja dalam pemanfaatan bambu, tidak terbatas untuk hal-hal tertentu. Bambu digunakan untuk atap tongkonan dan alang (lumbung), digunakan untuk membuat suke (wadah untuk minuman atau untuk memasak makanan tradisional papiong), dibuat menjadi alat musik, dan juga sebagai bahan utama pembuatan lantang (pondokan) pada saat upacara adat rambu solo (adat kematian) dan rambu tuka.
Bambu dimanfaatkan dalam kegiatan sehari-hari masyarakat Toraja, sehingga tidak mengherankan jika bambu diangkat menjadi tema Lovely December 2014, “I Love Bamboo”. Lovely December sendiri merupakan kegiatan tahunan yang dimulai pertama kali di Makale pada 2009 lalu, guna mengangkat kembali pariwisata Tana Toraja.
Karena Toraja kini terbagi menjadi dua kabupaten, Toraja Utara dan Tana Toraja, maka kedua kabupaten bergantian menjadi penyelenggara kegiatan ini. Namun, Kabupaten Tana Toraja merupakan pelaksana (utama) kegiatan Lovely December 2014.
Akan tetapi, bukan sebagai pelaksana utama kegiatan Lovely December 2014, tidak berati tidak ada kegiatan terkait Lovely December 2014 di Toraja Utara. Sebagai kabupaten dengan jumlah lokasi tujuan wisata terbanyak, Toraja Utara tetap bekerja sama dengan Tana Toraja sebagai penyelenggara untuk melaksanakan beberapa kegiatan.
Lovely December sudah dijadikan agenda tahunan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel yang diadakan sebulan penuh selama Desember. Kegiatan kepariwisataan ini juga sekaligus dirangkaikan kegiatan keagamaan Natal dan tahun baru di sana.
Menariknya, berbagai kegiatan tradisional maupun kontemporer digelar selama Lovely Desember 2014, di antaranya lomba sapta pesona jelajah, sepeda wisata, lomba rakit tradisional (lembang), lomba tangkap ikan (mebale, melendong, mangngula burinti), lomba lintas alam, lomba cerita rakyat yang dilakonkan, lomba sastra dan pidato bahasa Toraja, lomba permainan rakyat (katekka, kacalele, gasing, dan meoli), lomba kidung Natal dan lagu daerah, lomba foto pesona wisata Tana Toraja, pameran kuliner dan kerajinan daerah, mabarattung (meriam bambu), mangrara banua tongkonan, gelar kerajinan bambu, music performance, serta perayaan puncak Lovely Desember 2014.
Antusias masyarakat dalam menyaksikan dan memeriahkan acara, tak hanya dari warga lokal tetapi juga wisatawan mancanegara. Dari sekian banyak kegiatan, ada satu acara yang paling banyak menyedot perhatian, yakni saat digelarnya adat rambu solo atau pesta adat kematian warga etnik Toraja. 

10 January 2015

Gua Salukang Kallang

Gua Salukang Kallang
Surga Alam Bawah Tanah

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Kekayaan alam Sulsel, tepatnya di Kabupaten Maros, selama ini memang terkenal dengan gugusan gunung karstnya. Suguhan barisan tebing yang menjulang indah tersebut kerap diistilahkan The Spectacular Tower Karst, yang memiliki khazanah alam bawah tanah atau gua.
Tidak hanya itu, gua terindah di Indonesia pun terletak di daerah ini, tepatnya di Desa Labuaja. Keindahan panorama bawah tanah dan guanya sangat memukau sehingga dijuluki sebagai surga alam bawah tanah. Gua yang dimaksud tersebut adalah Salukang Kallang.
Letak geografis Gua Salukang Kallang ini cukup strategis, berada di jalan poros Kabupaten Maros-Bone, sekitar 25 kilometer dari Kota Maros. Perjalanan ke gua eksotik itu mampu ditempuh dengan berkendara motor dan mobil sekitar 1,5 jam. Adapun jarak mulut gua ini dari dari jalan poros sekitar 800 meter.
Sedangkan kedalaman gua ini sekitar 26 kilometer, serta merupakan gua horizontal dan vertikal. Selama ini, Salukang Kallang merupakan gua yang terbentuk dari batuan karst yang berada di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Untuk menelusuri surga alam bawah tanah ini, terlebih dulu wisatawan harus menuruni mulut gua sedalam delapan meter dengan menggunakan peralatan caving (susur gua). Ini tujuannya untuk keselamatan diri, di mana proses untuk turun ke dalam gua tersebut menggunakan tali yang biasa disebut Rappeling.
Ornamen-ornamen bentukan alam yang disuguhkan Salukang Kallang amat indah. Sehingga layak bila gua ini dijuluki surga alam bawah tanah. Hal ini dibuktikan dengan disuguhkannya berbagai ornamen yang memukau sepert stalaktik, stalakmit, mount milk, serta masih banyak keindahan lain hasil bentukan alam.
Selain itu, keindahan yang disuguhkan pun tampak sempurna lantaran gua ini  dialiri sungai yang jernih serta hewan endemik. Sehingga keindahan ini mampu menghipnotis para peneliti gua hingga wisatawan petualang yang menelusurinya.
Oleh karena itulah, beberapa kelompok dan pegiat lingkungan hidup berharap peran pemerintah dan masyarakat untuk senantiasa menjaga kelestarian Salukang Kallang. 

Eksplorasi Mahorpala UNM

Mahasiswa Olahraga Pecinta  Alam (Mahorpala) Universitas Negeri Makassar (UNM), merupakan lembaga kemahasiswaan yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup, yang kerap melakukan kegiatan wisata alam bawah tanah (caving).
Ketua Divisi Pengkajian dan Penerapan Medan Mahorpala UNM, Tri Asmil, saat ditemui di Base Camp Mahorpala, Jalan Wijaya Kusuma, Makassar, Rabu (3/9/2014), menjelaskan, Kabupaten Maros kaya akan potensi gugusan kartsnya
Oleh karena itu, pihaknya memprogramkan berbagai kegiatan alam bawah tanah yang didedikasikan untuk pendidikan (penelitian), terutama terhadap anggota yang bernaung pada divisi caving (susur gua).
“Salukang Kallang merupakan lokasi yang hampir tiap tahun kami telusuri untuk penelitiaan. Pasalnya, gua ini memiliki ornamen komplit yang tidak dimiliki gua lain,” alasannya.
Adapun bentuk penelitiaan yang digelar, sebut Asmil, di antaranya meneliti kadar oksigen, kedalaman, kadar air, kecepatan arus sungai, tumbuh-tumbuhan, serta hewan endemik gua. “Kami pernah meneliti kedalaman gua hingga enam ribu meter selama tujuh hari, dengan personil tujuh orang. Selama penelitian berlangsung, kami berada dalam gua,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Umum Mahorpala UNM, Malwadi, menambahkan, tujuan diselenggarakannya penelitiaan tersebut untuk memberikan edukasi pada internal lembaganya, juga masyarakat di sekitar gua. Tidak hanya itu, divisi susur gua Mahorpala UNM kerap menjadi pemandu wisatawan yang hendak menelusuri gua, baik bagi pecinta alam maupun dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi.
“Namun yang terpenting saat menelusuri gua, menyiapkan peralatan dan keterampilan, juga mental dan fisik para caver caving. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.
Malwadi berharap, pemerintah dapat fokus memperhatikan kelestarian sumber daya alam, serta mampu mengoptimalkan sarana dan prasarana objek wisata. “Nah, ini kan akan berdampak positif, baik bagi masyarakat maupun pemerintah sendiri dalam memajukan wisata Tanah Air,” imbuhnya. 

Catatan Perjalanan

         Permohonan perizinan ke pemerintah setempat
         Persiapan ransum (makanan)
         Kelengkapan peralatan susur gua
         Persiapan fisik dan mental
         Sewa mobil Makassar-Maros (PP) Rp 500 ribu per tujuh orang
         Kontak personal Ketua Divisi Pengkajian dan Penerapan Medan Mahorpala UNM (Tri Asmil), 081241318724 (pemandu wisata gua)

08 January 2015

Bukit Pesona Alam Gowa

Bukit Pesona Alam Gowa
Padukan Edukasi dan Wisata Outbound

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Berbagai taman bermain atau wahana telah dihadirkan sejumlah perusahaan, namun tidak banyak yang mendedikasikan unsur pengetahuan, pendidikan, sekaligus wisata yang mengembangkan karakter bagi pengunjungnya.
Oleh karena itulah, Yayasan Bukit Pesona Alam berinisiatif mengembangkan konsep pendidikan, pelatihan, sekaligus rekreasi yang dikemas dalam alam terbuka dengan sarana lahan sekitar tiga ribu hektare.
Wahana yang ditawarkan pun berbagai macam, di antaranya outbound bagi anak usia dini, remaja, hingga dewasa seperti paintball, mobil All Terrain Vehicle (ATV), workshop, serta aula seminar.
Lokasi wisata alam ini tergolong cukup strategis, berada di Kecamatan Patalassang, Kabupaten Gowa. Jarak dari pusat Kota Makassar berkisar 25 kilometer, dan 15 kilometer dari poros perbatasan Makassar-Gowa di Jalan Hertasning, yang dapat ditempuh sekitar 15-20 menit dengan kendaraan.
Selain itu, berbagai wahana yang disajikan pun dilengkapi panorama alam seperti hamparan sawah, pemandangan bukit yang menjulang tinggi, serta keramahtamahan warga lokal kepada setiap wisatawan yang berkunjung.
Sebagaimana diketahui, letak geografis wahana ini terletak di daerah perbukitan sehingga mampu memanjakan mata wisatawan yang menikmatinya. Tidak hanya itu, harga yang ditawarkan pun bervariasi dan cukup terjangkau, tergantung paket dan usia pengunjung.
Hadirnya wahana yang mengkolaborasikan antara edukasi dan rekreasi mampu memberikan pengalaman yang berharaga bagi pengunjung, khususnya dari aspek aspek pendidikan dan pelestarian lingkungan.

Bentuk Karakter Anak dari Permainan

Yayasan Bukit Pesona Alam (BPA) menggelar launching wahana edukasi dan rekreasi wisata outbound di Aula Serbaguna, Patalassang, Kabupaten Gowa, Minggu (24/8).
Ketua Yayasan Bukit Pesona Alam, H Adam Ismail, saat ditemui seusai acara, mengatakan, wahana wisata outbound tersebut merupakan wahana taman bermain berunsur pendidikan di alam terbuka. Menurutnya, gagasan pihaknya menghadirkan Bukit Pesona Alam lantaran wahana bermain yang ada pada umumnya hanya terfokus pada taman rekreasi saja, tetapi belum memikirkan sifat edukasinya.
“Saya menghadirkan nuansa berbeda dibandingkan taman bermain pada umumnya. Wahana bermain yang saya garap fokus terhadap pendidikan karakter. Terus terang, ini merupakan impian saya sejak dulu, di mana saya ingin menghadirkan unsur edukasi setelah mengevaluasi minimnya kondisi pendidikan (di wahana bermain) saat ini,” ungkapnya.
Selain itu, aku Adam, taman wisata yang digarapnya pun melibatkan warga setempat, sehingga mampu meningkatkan perekonomian warga lokal. “Dengan demikian, selain tempat rekreasi, wahana kami ini pun kami kemas dengan tema permainan yang dapat membentuk karakter (mandiri) anak-anak melalui pendidikan dan pelatihan,” bebernya.
Sementara itu, Koordinator Bukit Pesona Alam Outbound, Indra, menambahkan, desain wahana wisata alam terbuka pihaknya telah didesain sedemikian rupa untuk pembelajaran karakter. “Ini bisa didapat anak-anak melalui permainan yang sifatnya mendidik, belajar bersosialisasi dalam kerja sama tim, survive dalam menghadapi tantangan, serta masih banyak permainan serupa lainnya,” paparnya.
Adapun wahana yang disuguhkan, untuk anak di antaranya flying fox, titian tali, jaring laba-laba, jembatan goyang, terowongan ban, games tim, dan belajar menanam. Sementara untuk dewasa, disediakan area perkemahan, paintball, serta mobil ATV. Untuk melengkapi sarana wisata Bukit Pesona Alam Outbound, pihaknya menyediakan berbagai fasilitas seperti musala, aula, serta gerai kuliner tradisional. 

Daftar Harga

- Paket Outbound Dewasa    : Rp 90 ribu per orang (maksimal 30)
- Paket Outbound Anak          : Rp 60 ribu per orang (maksimal 30)
- Paintball                                  : Rp 125 ribu per orang (maksimal 30)
- Paket ATP                               : Rp 20 ribu per orang (dua putaran)
- Paket Mobil Remote             : Rp 10 ribu per orang (tiga putaran)
- Sewa Inap (Gazebo)            : Rp 300 ribu per enam orang
- Sewa Tenda Dum                 : Rp 100 ribu per lima orang
- Sewa Aula                              : Rp 250 ribu per hari

07 January 2015

Memandang Indonesia di Puncak Lompobattang-Bawakaraeng

Memandang Indonesia di Puncak Lompobattang-Bawakaraeng


BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Sulsel memiliki ragam wisata alam, baik laut maupun darat. Salah satu wisata alam favorit bagi penjelajah adalah Gunung Lompobattang dan Bawakaraeng, yang terletak di Kabupaten Gowa.
Pesona alam yang ditawarkan pun tak kalah menariknya, di antaranya “Negeri di Atas Awan”, analogi para pendaki yang tengah menyusuri puncak Lompobattang-Bawakaraeng. Selain itu, ada jajaran hutan lumut, aliran sungai yang jernih, hamparan edelweiss, serta sorotan lampu kota bagai kunang-kunang dari puncak gunung.
Letak geografis kedua gunung tersebut tak seberapa jauh, di mana para penjelajah kerap melakukan lintas alam dengan mendaki dua puncak sekaligus, dengan estimasi perjalanan kurang lebih seminggu. Kedua gunung itu merupakan puncak tertinggi keempat di Sulsel, di mana Lompobattang memiliki ketinggian 2.878 meter dari permukaan laut (MDPL), dan Bawakaraeng 2.830 MDPL.
Tidak hanya itu, kedua gunung ini merupakan gunung yang penuh mistis dan disakralkan masyarakat setempat. Terbukti, di bulan Hijriah seperti Zulhijjah, Syaban, dan Ramadan banyak ditemukan sesembahan atau sesajen di jalur pendakian, khususnya disimpan di bawah beberapa pohon besar.
Di momen Hari Kemerdekaan Indonesia ke-69, tim Lintas Merah Putih (LMP) berhasil menjejaki kedua puncak gunung tersebut, dan menggelar upacara 17 Agustus bersama ratusan penjelajah lainnya yang berasal dari berbagai komunal, serta pegiat lingkungan di Indonesia.

FPL Gelar LMP Tingkat Nasional

Peringati HUT Republik Indonesia ke-69, Forum Pemerhati Lingkungan (FPL) menggelar Lintas Merah Putih (LMP) tingkat nasional ke Gunung Lompobattang-Bawakarang.
Ketua Panitia LMP FPL, Alam Sila, saat ditemui di Sekretariat FPL, Jalan Tidung Mariolo, Makassar, Rabu (20/8), mengatakan, kegiatan tersebut berskala nasional dan dicanangkan setiap tahun. Dijelaskan, LMP tahun ini merupakan yang ketujuh kalinya digelar sejak didirikan pada 2006.
“LMP ketujuh kali ini merupakan kegiatan dengan peserta terbanyak ketimbang tahun sebelumnya, diikuti 132 peserta yang berasal dari berbagai kelompok pecinta alam Indonesia. Adapun peserta luar Sulsel berasal dari Yogyakarta,” ungkapnya.
Adapun tujuan kegiatan ini, sebut Alam, selain untuk memperat tali silaturahmi antarpecinta alam di Indonesia, juga untuk menyelamatkan lingkungan. Apalagi momen 17 Agustus merupakan waktu yang tepat untuk berkumpul bersama, sekaligus meningkatkan jiwa patriotisme.
Sementara itu, Koordinator Lapangan (Korlap) LMP FPL, Hasriadi, menambahkan, dengan melonjaknya peserta LMP ketujuh ini, merupakan bukti antusiasme pecinta alam terhadap lingkungan hidup.
“Kegiatan tersebut bukanlah hal mudah, apalagi lintas dua gunung ini memakan waktu perjalanan satu minggu dengan peserta ratusan orang. Namun, semua permasalahan di lapangan mampu kami koordinir dengan baik berkat kerja sama peserta dengan panitia,” paparnya.

Catatan Perjalanan

       Untuk mencapai Lompobattang, dapat ditempuh beberapa jalur seperti dari Lembang Bu’ne di Kecamatan Malakaji, Kabupaten Gowa, dari Bawakaraeng, dari Tajjuru di Kecamatan Sinjai Borong, Kabupaten Sinjai, dan jalur lainnya. Namun, gunung yang secara harfiah berarti “perut besar” ini kebanyakan didaki lewat jalur Lembang Bu’ne.
       Bawakaraeng berada di wilayah Kabupaten Gowa. Di lereng gunung ini terdapat daerah wisata populer, Malino. Secara ekologis, gunung ini memiliki posisi penting karena menjadi sumber penyimpan air untuk Kabupaten Gowa, Bantaeng, Bulukumba, Sinjai, dan Kota Makassar. Makna kata “Bawa” berarti “Mulut”, dan “Karaeng” berarti “Raja”.

       Estimasi Anggaran LPM FPL Rp 185 ribu (transportasi, baju kaus, plakat, dan sertifikat). Contact person Ketua LMP FPL, Alam Sila, 081355728910.

06 January 2015

Air Terjun Parangloe

Air Terjun Parangloe
Eksotisme Wisata Alam yang Natural

BLOGKATAHATIKU/IST
BLOGKATAHATIKU - Susunan bebatuan yang membentuk mozaik indah serta kejernihan airnya membuat lokasi air terjun ini kerap dikunjungi pelancong wisata alam. Air terjun Parangloe, demikian nama air terjun yang berada di Desa Parangloe, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.
Berada dua kilometer dari kantor Dinas Kehutanan, dan terletak di jalan poros Makassar-Malino, memang menjadikan air terjun ini hampir tersembunyi. Rute ke sana pun licin, terlebih saat musim hujan.
Untuk mengunjungi air terjun Parangloe, harus ditempuh dengan berjalan kaki. Kendati demikian, pesona alam di sekitar air terjun ini sepadan dengan usaha ekstra keras yang mesti dilakukan. Kicauan burung-burung akan menemani perjalanan menyusuri dan mendaki jalanan tanah berkemiringan 35 derajat.
Jika pagi atau siang, sinar matahari yang terpancar masuk di rerimbunan hutan, juga merupakan keindahan tersendiri bagi pelancong. Di musim kemarau, kawasan hutan di sekitar Parangloe kerap dijadikan tempat berkemah. Di beberapa area, memang terdapat area yang cukup lapang untuk mendirikan beberapa tenda.
Jalan setapak yang berbatu akan mengakhiri perjalanan, setelah sebelumnya suara deburan air yang jatuh dari ketinggian 30 meter sudah terdengar jelas dari kejauhan.
Kawasan air terjun Parangloe bukanlah lokasi yang ramai dan penuh sesak sebagaimana obyek wisata lainnya seperti Bantimurung di Kabupaten Maros. Namun dengan air terjunnya yang eksotis, Parangloe boleh jadi pilihan alternatif bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana natural alam.
Pada musim kemarau, debit airnya memang lebih sedikit dibandingkan musim hujan, namun itu pun sudah cukup membuktikan keindahan yang dimiliki air terjun ini. Parangloe memiliki tiga susun “lantai batu” yang menjembatani arus air untuk mengalir ke bagian bawah.
Sebuah kolam cantik terbentuk di lantai terakhir, berisikan air jernih yang berasal dari sungai yang berada di ujung atas air terjun ini. Lebar sungainya berkisar 15 meter cukup membuat air yang jatuh ke bawahnya mengalir deras. Pemandangan salah satu gunung yang berdiri menjadi latar belakang yang indah bagi air terjun Parangloe.
Beberapa meter menjauh dari air terjun, batu-batu alam tersusun rapi merangkai sebuah kawasan menyerupai teras dengan sisipan aliran air. Air tersebut mengalir menuju liang-liang air yang juga terbangun secara alami di bebatuan.
Sebelum mencapai kawasan air terjun yang tersembunyi ini, sebuah bendungan bernama Bili-Bili juga layak menjadi objek wisata yang tak kalah menarik. Letaknya masih berada di kecamatan yang sama, tepatnya 35 kilometer ke arah timur Kota Makassar. Bendungan terbesar di Sulsel ini kerap menjadi lokasi persinggahan bagi pengunjung yang hendak ke Parangloe, Bantimurung, dan Malino.

Reinkarnasi Bantimurung

Sulsel merupakan lumbung wisata alam. Hanya saja, wisata alam tersebut tidak terakomodir sebagaimana mestinya. Salah satunya air terjun Parangloe. Wisata alam tersebut terletak di Desa Parangloe, Kecamatan Parangloe, Kabupaten Gowa.
Akses menuju lokasi tersebut pun tidaklah sulit. Jarak tempuh antara poros Makassar-Malino sekitar 25 kilometer, hanya membutuhkan waktu dua jam dengan menggunakan kendaraan bermotor.
Selain itu, air terjun Parangloe merupakan kawasan dalam Perhutani. Dari titik inilah wisatawan harus berjalan kaki kurang lebih dua kilometer melewati jalan berbatu di dalam kawasan hutan. Sebelum memasuki kawasan hutan, pengunjung diwajibkan melapor ke kantor Perhutani. Menariknya, untuk bisa menikmati panorama alam air terjung Parangloe, pengunjung tidak dikenakan biaya sepeser pun.
Air terjun Parangloe juga kerap disebut air terjun Bantimurung II. Hal ini lantaran aliran air sungai Parangloe bermuara di air terjun Bantimurung yang terletak di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Melihat karakteristiknya yang bertingkat, air terjun Parangloe juga sering dijuluki “Niagara River”-nya Indonesia.
Hamparan sawah dan pepohonan hijau pun melengkapi keindahan panorama di Parangloe. Tidak heran jika wisata alam ini bisa dikategorikan sebagai air terjun terindah di Sulsel.