23 November 2014

Pergeseran Tren Industri Telepon

MENGABARKAN KABAR DUKA - Seorang  wanita warga Makassar tengah mengabarkan kabar duka kepada keluarganya di daerah. Kemudahan telekomunikasi yang didedikasikan Telkomsel memang sangat membantu interaksi masyarakat, khususnya antarpulau dan sebagainya. BLOGKATAHATIKU/EFFENDY W

BLOGKATAHATIKU - Kebutuhan terhadap telepon seluler (ponsel) memang tak dapat dielakkan. Hampir setiap orang yang tinggal di perkotaan di berbagai belahan dunia mempunyai ponsel sebagai alat untuk berkomunikasi. Hebatnya, pertumbuhan ponsel di Indonesia pun makin meningkat dan tak kalah “gemerlapnya” dengan masyarakat urban pada kota-kota besar dunia lainnya.
Menurut data dari Frost and Sullivan, sebuah lembaga riset dan analisis internasional, pada kuartal ketiga di 2012 lalu, penambahan ponsel yang beredar di Indonesia mencapai 15,5 juta unit. Ini berarti meningkat meningkat 13 persen dibandingkan kuartal kedua pada tahun yang sama, sehingga total mencapai 240 juta unit.
Hal yang tak jauh berbeda pun dilansir oleh International Data Corporation (IDC) yang berlokasi di Jakarta. Dalam rilisnya, berdasarkan riset unit pengapalan yang dilakukan IDC, pada kuartal satu 2012, penambahan ponsel mencapai 12,4 juta unit di mana hal ini juga berarti ada kenaikan pada kuartal kedua, naik menjadi 13,6 juta unit dari total sekitar 240 juta unit. Bila dibandingkan kuartal ketiga pada 2011 lalu, pertumbuhan ponsel meningkat sebesar 14 persen pada kuartal ketiga 2012, di mana saat itu setiap orang bisa memiliki dua atau tiga unit ponsel, bahkan lebih dari itu.
Peningkatan pendapatan kelas menengah di Indonesia, menjadi pemicu bertumbuhnya ponsel di Indonesia. Terlebih, ponsel pintar atau smartphone telah mendominasi ponsel di Indonesia, di mana pada saat ini telah mencapai dua juta unit lebih dari 15,5 juta unit ponsel pada kuartal ketiga di 2012 lalu.
Memang, fenomena peningkatan penggunaan ponsel di Indonesia dapat dilihat dari sepak terjang konsumtivisme masyarakat yang mengacu pada tren mutakhir. Sepanjang sejarah perkembangan sektor telekomunikasi di Indonesia, telah terjadi pergeseran kebutuhan masyarakat yang berujung pada perubahan tingkat pertumbuhan. Dari setiap segmen jaringan telekomunikasi tersebut, fenomena yang dapat ditangkap jelas, bahwa telah terjadi pergeseran yang demikian cepat dalam setiap penyelenggaraan jaringan telekomunikasi yang berbasis pada kabel (fixed wireline).
Mobilitas yang tinggi serta kebutuhan terhadap akses informasi yang cepat dan akurat dewasa ini telah menggeser preferensi masyarakat Indonesia dalam memilih moda telekomunikasi yang mereka gunakan. Hal ini secara tidak langsung juga dipicu oleh perkembangan Information and Communications Technology (ICT) di dunia yang mendorong pesatnya pertumbuhan teknologi ponsel dan nirkabel di Indonesia.
Sejak masuknya teknologi seluler seperti Global System for Mobile Communication (GSM) di akhir 1996, teknologi kartu prabayar di awal 1998, dan semakin maraknya penggunaan teknologi Code Division Multiple Access CDMA di 2002, membuat sebagian besar masyarakat mulai beralih menggunakan ponsel dan nirkabel karena dinilai lebih fleksibel dan dapat memenuhi kebutuhan akan mobilitas mereka yang tinggi.
Ini membuat dominasi telepon tetap kabel dalam penyediaan sambungan baru pun lambat laun digeser oleh telepon nirkabel dan seluler. Konsekuensinya, pertumbuhan teknologi komunikasi konvensional yang sejak dulu digunakan di Indonesia, yakni telepon tetap berbasis kabel kian melambat sebagaimana ditunjukkan oleh gambaran terkini yang terjadi di dalam masyarakat.
Dari gambaran ini tampak bahwa telepon seluler telah menjadi substitusi dari telepon tetap, khususnya telepon tetap kabel di Indonesia. Hal ini berbeda jika dibandingkan dengan fenomena yang terjadi di negara maju, di mana telepon seluler hanya menjadi komplementer dari telepon tetap. Salah satu faktor yang mempengaruhinya antara lain lantaran budaya masyarakat mereka yang sangat menghargai privasi serta kebijakan pemerintah mereka yang selaras dengan perkembangan ICT. Dengan berfokus pada perkembangan industri telekomunikasi dalam negeri, mereka dapat menjaga sinergi antara telepon tetap dan seluler agar berjalan beriringan.
Pemerintah diharap mampu memformulasikan regulasi yang dapat menjamin pemerataan akses telekomunikasi di seluruh Indonesia, sekaligus mengoptimalkan pertumbuhan industri jaringan tetap kabel yang kian melambat dengan berkaca pada realita ini. Pertumbuhan yang lambat di industri jaringan fixed wireline tersebut, sebenarnya masih dapat dioptimalkan karena teledensitas di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan beberapa negara lain di Asean seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Agar bisa merumuskan kebijakan yang menjamin pemerataan akses telekomunikasi tersebut, demi mengoptimalkan pertumbuhan industri jaringan tetap kabel yang kian melambat, diperlukan kajian khusus yang komprehensif guna mengukur tingkat kinerja dan profitabilitas industri ini.
Oleh karena itu, seyogianya dilakukan pengkajian mengenai industri telekomunikasi jaringan tetap kabel, nirkabel, dan seluler di Indonesia secara komprehensif, baik dari sisi kuantitatif dan kualitatif, dengan menggunakan data sekunder dari perusahaan-perusahaan besar dominan di tiap jenis industri yang akan sangat representatif untuk menggambarkan industri ini.
Memang, menakar untung-rugi di balik derasnya pertumbuhan ponsel tidaklah semudah membalik telapak tangan. Apalagi jika hal ini mengaitkannya dengan hitungan fulus yang kelak dapat membangun ekonomi kerakyatan di Indonesia.