21 November 2014

KEBANGKITAN PARIWISATA DAN FENOMENA TRAVEL ONLINE

BLOGKATAHATIKU/EZTHIE F
BLOGKATAHATIKU - Seiring perkembangan industri pariwisata yang terus bergerak naik, juga didukung kemajuan teknologi di dunia maya, penjualan paket travel secara online pun ikut tumbuh bagai jamur di musim hujan. Bagaimana pengaruhnya bagi pebisnis travel yang memiliki fisik kantor jelas?
Setiap tahun, jumlah orang yang menggunakan jasa travel agent semakin banyak. Bahkan, maskapai penerbangan mencatat pertumbuhan jumlah penumpang yang cukup signifikan. Jumlah penumpang yang menggunakan jasa di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pada 2013 lalu tercatat 9,6 juta penumpang, atau mengalami peningkatan 12,3 persen jika dibandingkan jumlah penumpang tahun sebelumnya.
“Pada 2012, jumlah penumpang pesawat udara Bandara Internasional Sultan Hasanuddin tercatat 8,5 juta penumpang,” ungkap General Manager Angkasa Pura Airport Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Rachman Syafrie, dalam sebuah acara silaturahmi bersama jurnalis.
Selain itu, Bandara Internasional Sultan Hasanuddin juga mencatat pergerakan pesawat mengalami peningkatan 13 persen. Di 2013, pergerakan pesawat tercatat 94.759 pergerakan, sedangkan pada 2012 hanya 82.870 pergerakan. Di 2014 ini, juga mengalami tren peningkatan dibandingkan sebelumnya, di mana Bandara Internasional Sultan Hasanuddin diproyeksikan melayani 11,2 juta penumpang, dan lebih 105 ribu pergerakan pesawat.
Jumlah penduduk di Indonesia menempati salah satu urutan tertinggi di dunia. Selain itu, jumlah kelas menengah juga semakin tinggi. Presiden RI keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam pidato kenegaraannya di gedung DPR memberikan apresiasi terhadap Kota Makassar yang mampu mengalahkan Tiongkok dalam pertumbuhan ekonominya. Menurutnya, rata-rata pertumbuhan ekonomi Kota Makassar di atas sembilan persen dalam lima tahun terakhir. Sedangkan ekonomi Tiongkok belakangan ini cenderung melemah berkisar tujuh hingga 7,5 persen.
Semakin meningkatnya daya beli masyarakat, semakin tinggi taraf hidup dan kebutuhan mereka. Untuk memenuhi tujuan itu, mereka banyak menggunakan jasa bisnis travel agent. Melihat potensi bisnis yang ada, banyak pengusaha yang kemudian memilih terjun dalam bidang tersebut.
Bagi negara kepulauan dengan potensi wisata yang begitu luar biasa, Indonesia bisa menjadi lahan bisnis yang tepat untuk mengembangkan travel agent. Peluang bisnis tersebut bukan hanya dari turis dalam negeri, tetapi juga turis asing yang rela menempuh jarak ribuan kilometer untuk mengunjungi negeri ini. Tidak salah jika ada yang beranggapan bisnis travel agent sebagai pilihan menjanjikan untuk ditekuni.
Bukan hanya para travel agent yang memiliki alamat jelas yang mengambil peluang tersebut. Sebagai salah satu sarana pendukung untuk berbisnis, internet menawarkan solusi yang benar-benar efektif untuk pengusaha, khususnya bagi pemula. Pebisnis pun memanfaatkan internet untuk mengembangkan bisnis travel agent. Dengan berpromosi di website ataupun media sosial, mereka berjuang untuk mendapatkan lebih banyak klien, tanpa harus mengeluarkan biaya mahal berpromosi.
Salah satu pemain dalam bisnis travel online yang cukup getol memasarkan produknya adalah Nakeza Indonesia. Menurut pemiliknya, B Chandra, usaha ini sudah berjalan delapan bulan, dan menawarkan kepada pelaku usaha untuk bisa menjadi menjadi wirausahawan. Modal untuk menjalankan bisnis ini pun tidak terlalu besar. Hanya bermodal Rp 500 ribu, sudah bisa melakukan aktivitas ticketing dengan menggunakan merek dagang sendiri.
Meskipun demikian, ia menyarankan untuk menjalankan usaha travel online dengan modal minimal Rp 5 juta. Dengan demikian, mereka yang mau menggeluti bidang bisnis ini sudah memiliki sejumlah deposit, sehingga akan lebih memudahkan melayani konsumennya. Apalagi, peluang bisnis di bidang travel punya potensi sangat besar.
Selain sebagai induk usaha bisnis travel online, Nakeza Indonesia melakukan penjualan langsung ke konsumen. Kebanyakan yang menjadi konsumen dari Chandra adalah para pebisnis yang memiliki tingkat mobilitas yang tinggi, dan tidak terlalu punya banyak waktu untuk melakukan transaksi di sebuah kantor travel. “Respons masyarakat sangat tinggi dan pasti untung lah menjalankan bisnis ini,” ujar Chandra tanpa merinci berapa keuntungan yang telah didapatkankan selama menjalankan bisnisnya.
Terkait harga tiket yang dijual, sebut Chandra, relatif sama dengan produk yang dijual kebanyakan usaha travel lain. Nominal harga yang ditawarkan sangat tergantung dari tenggang waktu konsumen membeli. “Apabila konsumen telah memesan lebih awal dari hari keberangkatannya, maka harga yang didapatkan jauh lebih murah. Ini berbeda jika konsummen memesan tiket pada hari yang sudah mendekati waktu keberangkatannya, tentu jauh lebih mahal,” alasannya.
Bagi masyarakat yang ingin mencari second job, bisnis travel online menurut Chandra, bisa menjadi pilihan yang tepat. Sambil menyelesaikan pekerjaan utama, mereka juga bisa menjalankan penjualan tiket. kepada mitranya.
Ketua Asosiasi Tour dan Travel Indonesia (Asita) Sulsel, Didi L Manaba, mengungkapkan, melihat fenomena menjamurnya bisnis travel online di Makassar, harus disikapi secara bijak. Pelaku bisnis travel yang beralamat jelas, tidak perlu takut bersaing. Selain konsumen yang memilih menggunakan jasa travel online, pangsa pasar masyarakat yang memilih travel beralamat jelas masih terbuka sangat luas.
“Dengan memilih travel beralamat jelas, konsumen bisa aktif bertanya kepada petugas travel terkait produk yang dibeli, dan juga lebih mudah berkoordinasi apabila ada masalah. Itu tidak akan ditemukan apabila menggunakan jasa travel online. Untuk mendapatkan harga terbaik, konsumen bisa juga berkomunikasi langsung dengan petugas travel,” bebernya.
Mengenai harga yang ditawarkan kepada konsumen, Didi melihat persaingannya masih tergolong sehat. Pengusaha travel beralamat jelas juga bisa memberikan tawaran yang jauh lebih murah, karena mereka senantiasa melakukan koordinasi dengan mitra yang sama-sama bergerak di bidang industri pariwisata, seperti airlines dan hotel.
Meskipun perkembangan bisnis pariwisata di Indonesia belum mengalami perkembangan yang terlalu signifikan, tetapi pihaknya optimis hal tersebut secara perlahan akan berubah. Pasca peristiwa bom bali, industri pariwisata mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan pernah terpuruk. Akan tetapi, seiring tingkat kepercayaan dari dunia internasional yang sedikit demi sedikit mulai membaik, maka sekarang grafiknya sudah mulai naik, meskipun belum seperti dulu.
“Waktu 1990-an, destinasi wisata di Indonesia menjadi salah satu primadona. Ini terbukti dengan tingkat okupansi hunian hotel di Toraja waktu itu, rata-rata 60-70 persen,” ungkap Didi.
Sebagai wadah berkumpulnya pengusaha travel, Asita selama ini ikut berpartisipasi aktif memajukan industri wisata Indonesia. Di Sulsel, pengusaha travel yang sudah bergabung ke Asita berjumlah 180 usaha, dan masih banyak yang sudah mengajukan permohonan untuk menjadi anggota organisasi tersebut. Yusuf Almakassary