27 May 2014

JOKOWI “EFFECT”

HIDUPKAN SENDI EKONOMI KERAKYATAN

BLOGKATAHATIKU/FOTO: EFFENDY WONGSO
Kedatangan bakal calon Presiden RI, Joko Widodo kali ini ke Makassar, bukan hanya membawa sejumlah misi politik, tetapi juga memberi dampak dari segi ekonomi.
Setelah ditetapkan sebagai calon Presiden oleh PDI Perjuangan, Jokowi mulai bergerak membangun jaringan tim sukses di beberapa propinsi di Indonesia. Salah satu kota yang mendapat perhatian cukup besar adalah Makassar. Selama ini kota metropolitan yang dinahkodai Mohammad Ramdhan Pomanto, dikenal sebagai pusat perkembangan bisnis di Indonesia timur, dan merupakan penghubung antara wilayah Indonesia barat dan timur.
Saat tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, kedatangan Jokowi langsung disambut teriakan kemenangan dari para pendukungnya. Kedatangannya kali ini disertai Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bappilu) Partai Nasdem Sulawesi, Akbar Faisal, dan Koordinator Umum Sahabat Rakyat, Amran Sulaiman. Kunjungan Jokowi ke Makassar atas undangan dari Relawan Sahabat Rakyat KTI.
Setelah mengukuhkan Relawan Sahabat Rakyat KTI dan Garda Sahabat Rakyat di Hotel Grand Clarion, Jalan AP Pettarani, Makassar, Sabtu (10/5), Jokowi melakukan kunjungan ke kediaman Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.  Dari hasil pertemuan yang terbilang singkat itu, dicapai kesepakatan antara kedua gubernur tersebut untuk memperkuat kerja sama di bidang ketahanan pangan, khususnya beras, daging, dan ikan.
Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan keesokan harinya di Pelabuhan Peti Kemas Makassar, Minggu (11/5). Proses kerja sama yang juga disaksikan Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto ini, tentu akan memberikan dampak yang sangat besar pagi pertumbuhan ekonomi Kota Makassar, dan juga provinsi Sulsel.
Dalam kesempatan tersebut, langsung dirangkaikan dengan pengiriman sejumlah komoditi pangan ke Jakarta. Yang dikirim antara lain 168 ton beras senilai Rp 1,3 miliar dan 72 ton ikan dengan nilai Rp 400 juta. Sementara pengiriman daging yang juga merupakan bagian dari komoditi yang dikerjasamakan, akan dipersiapkan untuk pengiriman selanjutnya.
Dalam sambutannya, Syahrul Yasin Limpo mengatakan, kerja sama ini sebenarnya sudah dirancang cukup lama, namun baru dapat direalisasikan sekarang. Karena kebetulan Jokowi ada di Makassar, maka langsung saja dilakukan penandatangan MoU, Meskipun kesepakatan kerja sama antara kedua gubernur tersebut sudah lama dilakukan.
Setelah dilakukan komunikasi yang berlangsung di rumah jabatan Gubernur Sulsel, Jokowi menyetujui usulan untuk langsung dilakukan pengiriman komoditi pangan yang dikerjasamakan. Untuk ke depan, Sulsel siap untuk menyuplai apa saja yang dibutuhkan masyarakat dan pemerintah DKI Jakarta. “Sulsel bisa menjadi penyangga kebutuhan pokok nasional, sekaligus pilar ekonomi Indonesia,” ujar Syahrul bangga.
Saat ini, menurut Syahrul, kondisi produksi beras Sulsel surplus 2,6 juta ton. Kemudian itu juga terjadi pada ikan tuna sebanyak 52 ribu ton, dan daging sapi 65 ribu ton. Dengan modal yang dimiliki tersebut, telah menjadikan Sulsel sebagai daerah penyuplai kebutuhan komoditas sejumlah provinsi di Indonesia, salah satunya adalah Ibu Kota Jakarta.
Dengan kerja sama tersebut, Syahrul berharap, hubungan ini tidak berhenti hanya pada tiga komoditi pangan tadi. Masih banyak komoditi unggulan lain yang dimiliki Sulsel bisa dijual ke Jakarta. Apalagi, hal ini bisa menjadi peluang sekaligus contoh baik untuk menggeliatkan kembali perdagangan antarpulau di Indonesia.
Sementara itu, Jokowi berujar, kerja sama yang dilakukan dengan provinsi Sulsel memang harus segera dilaksanakan. Itu mengingat kebutuhan sejumlah komoditas pangan di Jakarta sangat besar, sementara pasokan sangat terbatas. “Setelah bertemu Gubernur Sulsel, beberapa menit di rumahnya, saya setuju untuk langsung dilakukan pengiriman tujuh kontainer beras dan ikan,” ujar Jokowi.
Calon Presiden yang diusung oleh PDI Perjuangan, Partai Nasdem dan PKB ini menjelaskan bahwa Jakarta merupakan pasar yang cukup besar untuk produk pangan. Setiap hari kebutuhan beras di Jakarta mencapai 2.700 ton dan 150 ton daging. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Jokowi memilih tidak mengimpor dari luar negeri, tetapi mendahulukan kerja sama dengan beberapa provinsi di dalam negeri. Sebelumnya, DKI Jakarta sudah pernah melakukan kerja sama untuk produk serupa dengan pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Lampung. (blogkatahatiku.blogspot.com)