19 May 2014

EKONOMI KERAKYATAN YANG TAK SEKADAR RETORIKA

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY WONGSO
Paparan bakal calon presiden RI, Joko Widodo terkait ekonomi kerakyatan yang dituangkannya dalam bentuk opini, Revolusi Mental, mendapat apresiasi dan acungan jempol banyak kalangan, di mana Jokowi, demikian nama populer pria bersahaja ini, mampu menyampaikan hal sederhana untuk mengubah ekonomi dan tatanan berbagai sektor dalam lingkungan masyarakat.
Sebagai seorang pengusaha, intuisi bisnis Jokowi tak perlu diragukan lagi. Selama ini, eksistensinya sebagai politikus dan begawan ekonom, juga kiprahnya selama memimpin Kota Surakarta (Solo) dan DKI Jakarta, masing-masing sebagai wali kota dan gubernur, sudah menunjukkan kinerja yang baik dan mumpuni.
Selama berkiprah, Jokowi telah menumbuhkembangkan perekonomian rakyat melalui pendekatan, aksi langsung seperti “blusukan”, serta hal-hal prorakyat lainnya. Ia juga telah memberikan terobosan dan solusi kepada masyarakat, sehingga dapat berupaya untuk meningkatkan penghidupan dan roda perekonomian.
Dalam tatanan lain, Jokowi juga tak kalah memukaunya. Revolusi Mental untuk memperbaiki apa yang belum berjalan sebagai mestinya, yang dipaparkannya dalam visi dan misi kebangsaannya, tidak hanya berlaku pada satu titik sentrum, tetapi juga merambah sektor lain seperti dalam tatanan lingkungan sosial dan kesehatan.
Pasalnya, fokus terhadap kesehatan masyarakat adalah hal hakiki lantaran ini dapat menunjang ketahanan sumber daya manusia (SDM). Bayangkan, jika tidak ada jaminan kesehatan bagi mereka, tentunya masyarakat yang kurang mampu atau kerap disebut miskin, tidak dapat berobat. Selain itu, dalam esensi yang lebih dalam, ia menyebut bahwa selaku pejabat publik, seharusnya lebih mempriotaskan “project of people”, bukan “project of indivuadalisme”.
Setidaknya, Jokowi menjabarkan tiga hal yang perlu dilakukan untuk restorasi bangsa melalui Revolusi Mental, yakni dimulai dari dunia pendidikan, baik SD, SMP, maupun SMA. Ia menuturkan, di SD perlu ada perbandingan 80:20 untuk pendidikan karakter dan pengetahuan. Di SMP hal tersebut dibalik menjadi 60:40 untuk karakter dan pengetahuan, termasuk di SMA 20:80 untuk karakter dan keterampilan.
Sementara dari segi infrastruktur, Jokowi mengungkapkan, pentingnya pengadaan tol laut atau pengaturan lalu lintas angkutan laut untuk menyeimbangkan harga di seluruh pelosok Indonesia. Sehingga, harga di Sabang hingga Merauke dapat sama dan tidak jomplang dengan harga yang jauh berbeda. Selain itu, Jokowi juga mengatakan, masalah energi seperti listrik, bahan mineral, dan energi pangan seperti kelapa sawit harus direncanakan sehingga suatu saat dapat menjadi komoditas penting yang menghidupi sendi perekonomian negara.
Terkait pasar bebas Asean (Asean Economic Community) 2015 yang saat ini melaju pesat dan berpengaruh terhadap iklim kompetitif di dalam negeri, Jokowi menjelaskan bahwa salah satu upaya untuk menghadapinya adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan, sehingga memiliki kompetensi dan daya saing dengan SDM luar negeri.
Hal tersebut penting dikedepankan sebab merupakan tantangan bagi generasi muda Indonesia. Dengan memiliki bekal ilmu dan keterampilan, kelak anak-anak bangsa tak lagi menjadi lahan empuk pasar produk dari luar, akan tetapi dapat menjadi produsen tangguh di bidang ekonomi dan bidang-bidang terkait ilmu pengetahuan.
Revolusi Mental dan ekonomi kerakyatan yang digagasnya, diyakninya tak sekadar retorika, namun dapat terealisasi jika diimplementasikan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh komponen bangsa. (blogkatahatiku.blogspot.com)