13 April 2014

TAUCANG

Kuncir Khas Tiongkok Era Dinasti Qing

Foto: Istimewa
Dinasti Qing (1644-1911), dikenal juga sebagai Dinasti Manchu, merupakan satu dari dua dinasti “asing” yang memerintah di Tiongkok setelah Dinasti Yuan (Mongol), sekaligus dinasti terakhir di Tiongkok. Asing dalam arti bahwa dinasti pemerintahan ini berasal dari etnis non Han atau bukan suku asli yang mayoritas suku Han. Padahal, dalam sejarah Tiongkok kuno, selain Mongol tak ada suku lain yang memerintah Negeri Tirai Bambu ini selain dari suku Han sendiri.
Dinasti ini didirikan oleh orang Manchuria dari klan Aisin Gioro, kemudian mengadopsi tata cara pemerintahan dinasti sebelumnya serta meleburkan diri ke dalam entitas Tiongkok itu sendiri. Selain keistimewaan sebagai etnis asing non Han yang dapat menguasai Tiongkok, ada hal lain yang menjadi tipikal Manchuria yakni model rambut prianya.
Dalam masa monarki terakhir dengan Kaisar Pu Yi tersebut, model rambut pria Tionghoa tampak khas dan unik. Keunikan tersebut sebenarnya merupakan entitas dari model rambut orang Manchuria, di mana rambut pada batok kepala dibagi dua, depan dan belakang. Setengah bagian depan kepala dibotakkan, sementara rambut pada bagian belakang dibiarkan panjang dan dikuncir. Kuncir ala Qing selanjutnya lazim disebut “Taucang”.
Ihwal kuncir Taucang yang menjadi tradisi model rambut pria Manchuria menurut manuskrip peninggalan sejarah Tiongkok kuno, tak terlepas dari adat temurun yang menjadi kebiasaan orang Manchu, yang berasal dari Tiongkok Timur Laut dekat perbatasan Korea. Asalnya dari suku Nujen, salah satu suku dalam era Ming, dinasti terakhir sebelum Dinasti Qing berkuasa. Sebelumnya, suku Nujen berasal dari Kerajaan Kim yang berakar budaya nomad dan sempat berjaya sebagai salah satu kerajaan dalam Dinasti Song (960-1279).
Sama halnya orang Mongol, Manchuria juga merupakan suku pengembara yang mahir berkuda. Untuk memudahkan perjalanan, rambut depan mereka dibotakkan dan bagian belakang diikat. Jika tidak begitu maka rambut akan tertiup angin kencang. Seperti Manchuria, orang Mongol juga memiliki adat menguncir rambut karena kebiasaan berkuda ini. Setelah berasimilasi dengan kebiasaan dan iklim, perlahan-lahan tradisi menguncir rambut itu menjadi kebiasaan serta budaya Manchuria.
Sementara itu, orang Han yang notabene penduduk asli Tiongkok tidak seberapa mahir berkuda dibandingkan Mongol dan Manchuria. Pada masa lampau, orang Han yang berkuda biasanya hanya memakai serban untuk mengikat rambut mereka.
Kaisar Dinasti Qing, Shunzhi atas bantuan Jenderal Wu Sangui (mantan jenderal pada masa Dinasti Ming yang membelot) berhasil menerobos Tembok Besar dan menguasai Beijing pada 1644. Untuk memperkuat legitimasi penaklukan atas orang Han, Shunzhi memerintahkan semua orang Han harus memangkas rambut sesuai tradisi kuncir orang Manchuria. Yang menentang perintah harus dipenggal. Semboyan tirani waktu itu adalah, “Ingin rambut penggal kepala, ingin kepala penggal (pangkas) rambut”. Saat dikeluarkannya aturan tersebut, banyak juga yang langsung membotakkan kepala dan menjadi biksu untuk menunjukkan perlawanan.
Sejak saat itu, semua orang Tionghoa wajib bertaucang. Ketika terjadi eksodus ke negara lain, orang-orang Tionghoa perantauan atau biasa disebut Hua Ren masih mempertahankan model rambut mereka yang setengah botak dengan kuncir ekor kuda yang dililit seperti cemeti. Hal itu dapat dilihat dari Tionghoa peranakan yang masuk ke Indonesia pada awal abad ke-18 sampai awal abad ke-20.
Di pengujung abad ke-19 dan awal abad ke-20, korupsi di dalam birokrasi dan kolonialisasi Barat menjadikan Tiongkok bangsa yang lemah. Pada 1911, pemimpin kunci revolusi Sun Yat Sen melancarkan “Revolusi Xinhai” dan berhasil menumbangkan Dinasti Qing. Ia kemudian mendirikan Tiongkok sebagai negara republik dan menjadi presiden pertama sementara (1 Januari 1912-1 April 1912), sebelum digantikan oleh presiden pertama, Yuan Shikai.
Sun Yat Sen adalah salah satu tokoh nasionalis garis keras yang menolak Taucang sebagai bentuk perlawanan terhadap Dinasti Qing. Setelah republik Tiongkok berdiri, otomatis tradisi Taucang hilang dengan sendirinya, tak terkecuali pada suku asli Manchuria. (blogkatahatiku.blogspot.com)