19 April 2014

PUSAT BAHASA MANDARIN UNHAS SUKSES GELAR CHINESE BRIDGE CONTEST

BLOGKATAHATIKU/EFFENDY WONGSO
Tujuh peserta dari Pusat Bahasa Mandarin Universitas Hasanuddin (Unhas) adu keterampilan bahasa Mandarin di ajang final Chinese Bridge Contest yang digelar di Aula Prof Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unhas, Tamalanrea, Makassar, Kamis, 17 April.
Sebelumnya, ketujuh peserta tersebut berhasil mengungguli puluhan mahasiswa lainnya dalam babak kualifikasi di tempat yang sama, Rabu, 3 April lalu. Selain adu kecakapan dalam berbahasa Mandarin, peserta juga menunjukkan bakat lainnya, khususnya terkait budaya Tionghoa seperti menari, menyanyi, dan opera. Dalam ajang ini, Yunita Wijaya dan Zhang Shu Mei terpilih sebagai pemenang pertama, dan berhak mewakili Sulsel untuk ajang nasional Chinese Bridge Contest 2014 yang akan diadakan di Jakarta.
Ketua Program Bahasa Mandarin Unhas, Fang Qiang, saat dikonfirmasi setelah acara, mengatakan, Chinese Bridge Contest bertema “My Chinese Dream” ini, merupakan salah satu agenda yang sukses diadakan Pusat Bahasa Mandarin Unhas. “Chinese Bridge Contest sudah ada sejak 2002, dan untuk kedua kalinya diadakan di Unhas. Kontes ini diadakan setiap tahun, antara Maret-Mei,” ujar dosen bahasa Mandarin dari Hanban Univesity, Beijing, Tiongkok ini.
Dijelaskan, Chinese Bridge Contest adalah sebuah kompetisi internasional yang diadakan pemerintah Tiongkok untuk mahasiswa asing dalam menunjukkan kemampuan bahasa Mandarin mereka. “Nah, selain itu, peserta juga dituntut berwawasan luas seperti pengetahuan tentang seni dan budaya Tionghoa, baik  lagu Mandarin maupun tari dari Tiongkok,” papar pria yang sudah mengajar bahasa Mandarin selama empat tahun di Makassar ini.
Fang Qiang menambahkan, secara filosofis, “bridge” dari kata Chinese Bridge Contest, dapat diartikan sebagai simbol penghubung, yakni jembatan. “Nah, melalui jembatan itulah Tiongkok, khususnya kami dari Hanban University, yang masih kental dengan kebudayaan tradisionalnya, membuka diri untuk berbagi kebudayaan dengan negara-negara lain, termasuk Indonesia,” ungkapnya.
Sejauh ini, Pusat Bahasa Mandarin Unhas telah memberikan beasiswa magister kepada 200 mahasiswa dari berbagai program sarjana, strata satu hingga strata tiga, untuk mengikuti program bahasa Mandarin di Hanban/Confucius Institute Headquarters, Beijing, Tiongkok.
“Di sana, selain belajar bahasa Mandarin selama satu tahun, mereka juga magang di beberapa instansi untuk menambah wawasan tentang kebudayaan Tiongkok,” beber Fang Qiang.
Pusat bahasa Mandarin yang juga berkantor di Jalan Sunu, sebut Fang Qiang, resmi didirikan pada 2 Februari 2011. Setiap tahun, pihaknya mengajar sekitar 500 hingga 700 orang mahasiswa maupun kalangan umum.
“Kami juga mengadakan program Summer Camp, di mana mahasiswa yang berprestasi berkesempatan mengunjungi Beijing selama dua minggu, dengan akomodasi, di luar visa dan tiket, ditanggung Hanban University,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)