11 April 2014

POLEMIK DI RANAH BARU OTOMOTIF

Foto: Effendy Wongso
Perlahan namun pasti, mobil dengan harga terjangkau dan ramah lingkungan atau lebih dikenal dengan sebutan Low Cost Green Car (LCGC) mulai menguasai pasar mobil nasional. Semua mobil LCGC dari berbagai merek masuk daftar mobil terlaris di Indonesia.Bahkan popularitas mobil LCGC mulai mengganggu pasar mobil multi purpose vehicle (MPV) yang sudah lebih mapan.
Jenis LCCG, Astra Toyota Ayga pun menggusur Ertiga, Innova, dan Xenia. Ini jika merunut data market MPV yang diambil LCGC. Mobil-mobil LCGC bisa terjual sampai 14 ribu unit per bulannya. Hal ini juga diperkuat oleh data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), di mana Agya terjual sebanyak 7.461 unit. Ini merupakan angka penjualan Agya tertinggi setelah dipasarkan akhir 2013 lalu.
Angka fantastis tersebut disusul Daihatsu Ayla yang terjual sebanyak 4.590 unit. Suzuki Karimun Wagon R terjual 2.158 unit dan Honda Brio Satya terjual 2.061 unit. Lantas, siapa pembeli mobil-mobil ini? Berdasarkan profil customer, 20 persen sampai 30 persen adalah “new entry” atau pemain baru di kepemilikan mobil baru yang dulunya hanya mengendarai sepeda motor, sisanya yang memiliki Toyota atau merek lain dan used car.
Sebelumnya, program mobil murah LCGC diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 33/M-Ind/Per/7/2013 tentang pengembangan produksi kendaraan bermotor roda empat yang hemat energi dan berharga terjangkau. Melalui program tersebut, produsen mobil murah mendapatkan fasilitas berupa keringanan pajak pertambahan nilai atas barang  mewah (PPnBM). Padahal, maraknya penggunaan LCCG justru memicu penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang masih menjadi komoditas subsidi pemerintah.
Meskipun ada pihak yang mengklaim bahwa LCGC adalah mobil yang hemat energi, tetapi jika jumlahnya banyak akan tetap meningkatkan permintaan BBM. Begitu juga klaim LCGC yang sinyalirberemisi rendah, tak menjamin akan membuat udara semakin bersih. Pasalnya, jika jumlahnya di jalanan banyak, otomatis polutan di udara juga akan tetap melebihi ambang batas toleransi.
Alasan bahwa proyek mobil murah ini ditujukan di desa di luar daerah perkotaan juga dipastikan akan meleset. Saat ini sedikitnya 70 persen uang di seluruh Indonesia masih berputar di daerah perkotaan. Jadi konsumen dari mobil LCGC itu nantinya tetap saja akan didominasi mereka yang tinggal dan bekerja kota. Artinya, ini akan meningkatkan kemacetan dan polusi udara daerah perkotaan.
Wacana pemerintah mengevaluasi program mobil murah dan ramah lingkungan (LCGC) menjadi angin segar pebisnis mobil reguler dan mobil bekas (mobkas) di Indonesia. Pasalnya, kondisi pasar sempat terpengaruh dengan euforia konsumen, terutama mobkas yang beralih membeli produk LCGC. Beberapa ekonom nasional menilai, ada dua prediksi yang bisa terjadi jika evaluasi benar dilakukan. Pertama, penangguhan peraturan. Kedua, diterbitkan regulasi tambahan menyangkut kewajiban LCGC untuk tidak mengonsumsi BBM subisidi.
Artinya, ini bisa jadi peluang pasar mobil bekas. Otomatis konsumen kembali beralih ke mobkas yang kualitasnya secara logika lebih bagus ketimbang LCGC. Di sisi lain, untuk lebih mengairahkan penjualan mobkas tentu diperlukan inovasi berbagai program dari perusahaan finance. (blogkatahatiku.blogspot.com)