12 April 2014

OPTIMALKAN PEMANFAATAN POTENSI PERTANIAN

Sulsel Masih Kekurangan Penyuluh

Foto: Effendy Wongso
Sulsel memiliki potensi Sumber Daya Alam (SDM) pertanian, perikanan dan kehutanan yang tinggi. Sektor ini juga menjadi salah satu sumber penyumbang tingginya pertumbuhan ekonomi daerah ini yang rata-ratanya melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Hanya saja, sampai saat ini, untuk mengoptimalkan penggarapan SDA pertanian, perikanan dan kehutanan tersebut, Sulsel masih kekurangan tenaga penyuluh. Hal tersebut diakui Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri rapat tenaga kepenyuluhan di Hotel Singgasana, Jalan Kajaolalido, Makassar Sabtu (5/4/2014).
Dikatakan Syahrul, upaya Pemprov Sulsel mendorong rasio penyuluh yang ideal di lapangan, yakni mengefektifkan manajemen BP3K di pelosok-pelosok daerah di mana setiap kecamatan harus ada penyuluhnya, belum tercapai. Pasalnya, hingga saat ini baru ada 280 balai penyuluh di Sulsel. “Itu artinya, belum bisa meng-cover kesulurahn kecamatan di Sulsel yang mencapai lebih dari 300 kecamatan. Namun, pemerintah terus berupaya memenuhi kebutuhan penyuluh di setiap kecamatan," tandasnya.
Agar pemerintah dapat lebih efektif mengelola dan meningkatkan sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan menurut Syahrul, Badan Penyuluhan, Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3K) membutuhkan tenaga yang memiliki komitmen membangun negeri, punya integritas, mindset, dan nilai yang lebih untuk mengembangkan potensi yang ada. Penyuluh harus menguasai teknologi, di mana kemampuan intelektualnya harus lebih dari petani.
Sementara itu, rapat tenaga kepenyuluhan merupakan inisiatif Pemprov Sulsel bersama Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhitani) Isran Noor, yang juga menjabat bupati Kutai Timur, setelah melihat potensi yang cukup besar.  Acara yang berlangsung di Hotel Singgasana Makassar, dihadiri sekitar 280 penyuluh dari BP3K se-Sulsel.
“Ini merupakan wadah  pengumpulan profesi penyuluh yang merupakan mitra strategis pemerintah dalam merealisasikan rencana program, baik di instansi pertanian, perikanan, maupun kehutanan,” ujarnya.
Dengan memiliki penyuluh yang andal, diharapkan produksi pertanian seperti pangan dapat dikelola sendiri tercipta kedaulatan pangan di negara sendiri. “Peran penyuluh dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan semakin berat. Untuk itulah, penyuluh harus mampu mengolah SDA di daerahnya masing-masing dengan baik,” tambahnya, seraya berharap Sulsel harus mampu meningkatkan produktivitas komoditi andalan seperti beras, jagung dan lain-lain, serta mampu bersaing dengan daerah lain. (blogkatahatiku.blogspot.com)