01 April 2014

NILAI ASIMILASI ARSITEKTUR MASJID CHENG HO

Foto: Effendy Wongso
Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Sulsel tengah merampungkan Masjid H Muhammad Cheng Ho, Jalan Tun Abdul Razak, Kabupaten Gowa. Masjid yang mulai dibangun akhir 2011 ini diproyeksi menghabiskan dana sebesar Rp 10 miliar. Proses pembangunan masjid berarsitektur Tionghoa dengan sentuhan etnik Bugis-Makassar tersebut dilakukan secara bertahap.
Pada malam ramah tamah Partai Nasdem yang berlangsung di Restoran Jameson’s, Jalan Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sabtu 29 Maret, Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh menyerahkan bantuan Rp 100 juta untuk pembangunan masjid tersebut.
Ketua panitia pembangunan Masjid Muhammad Cheng Ho, H Suhardi saat ditemui beberapa waktu lalu, mengatakan bangunan masjid yang berdiri di kawasan seluas 3.240 meter persegi ini sudah mencapai tahap perampungan, di mana tempat ibadah umat muslim tersebut representatif dengan dua lantai.
“Masjid Cheng Ho ini akan berdiri dengan gaya yang berbeda dengan masjid di Sulsel pada umumnya, di mana masjid ini memadukan arsitektur bernuansa Timur Tengah-Tiongkok, serta dipadukan dengan sentuhan budaya Bugis-Makassar,” jelas pria yang juga Ketua PITI Gowa ini.
Dari pantauan KATA HATIKU, gaya khas Tionghoa terlihat dari pilihan warna bangunan yang didominasi merah dan kuning. Adapun bentuk bangunan persegi, menandakan nilai budaya Bugis, “Assulappa’ Appa”. Sementara nama masjid dipilih untuk mengabadikan salah satu tokoh penting penyebaran agama Islam di Nusantara asal Tiongkok, Laksamana Cheng Ho. Bahariawan muslim tersebut juga merupakan salah satu satu tokoh penyebar ajaran Islam di Pulau Sumatera dan Jawa di abad ke-15.
Meski dibangun umat muslim Tionghoa, Masjid Cheng Ho ditujukan untuk semua kalangan umat muslim. Diharapkan, masjid ini dapat menjadi salah satu pusat peradaban dan pembinaan umat nuslim, khususnya di Makassar dan Gowa. Selain di Gowa, sebelumnya Masjid Cheng Ho juga sudah berdiri di beberapa tempat di Indonesia, di antaranya Jakarta dan Surabaya.
“Nilai asimilasi yang ditanamkan dalam arsitektur masjid diharap bisa menggambarkan perpaduan harmonis antara beragam suku dan budaya di daerah ini. Selain dibangun ruang salat sebagai bangunan utama, masjid juga dilengkapi bangunan yang berfungsi sebagai sarana sosial seperti ruang amal dan usaha, pendidikan, aktivitas kesenian, serta lapangan olahraga,” papar Suhardi.
Ditambahkan, pada umumnya muslim Tionghoa di Sulsel merupakan mualaf, karena itulah pihaknya juga menyiapkan ruangan untuk pembinaan mualaf. Ke depan, pihaknya berharap masjid ini bisa digunakan sebaik-baiknya untuk sosialisasi di kalangan muslim Tionghoa. (blogkatahatiku.blogspot.com)