03 April 2014

MUSIM KAMPANYE PENGGUNA TAKSI MENURUN

Foto: Dok KATA HATIKU
Panen konsumen yang dialami pengusaha rental mobil berbanding terbalik dengan pengusaha taksi. Sebagaimana yang diungkapkan Public Relation Taksi Bosowa, Melisa Idris.  Menurutnya, pengguna Taksi Bosowa pada musim kampanye kali ini diperkirakan turun menjadi empat ribu per hari. Itu karena banyak pelanggan yang malas keluar rumah akibat kemacetan jalan yang terjadi pada saat kampanye sedang berlangsung.
Dalam operasionalnya pada kondisi normal, Taksi Bosowa melayani pesanan penumpang hingga lima ribu orang per hari untuk jenis taksi sedan. Sedangkan untuk taksi eksekutif jenis Alphard, dalam sebulan Bosowa sudah menerima banyak pesanan, tanpa dirinci lebih jelas Melisa, berapa jumlah pesanan tersebut.
“Pasar untuk taksi eksekutif lebih banyak berasal dari pelanggan yang sedang berada di bandara. Itu bisa mencapai lima unit per hari,” ungkapnya.
Menurut Melisa, pesta politik seperti kampanye tidak membawa dampak yang sangat besar bagi peningkatan jumlah penumpang untuk Taksi Bosowa. Malah yang terjadi adalah penurunan jumlah pesanan. Apalagi manajemen Taksi Bosowa sudah mengeluarkan kebijakan, tidak memperbolehkan unit taksi yang dimiliki disewa secara eksklusif oleh calon legislatif maupun partai politik tertentu. Itu untuk menghindari munculnya kesan bahwa perusahaan milik keluarga Aksa Mahmud ini mendukung salah satu kontestan Pemilu 2014.
Untuk jenis kendaraan Toyota Alphard yang biasa disewa oleh partai politik untuk menjemput petingginya di bandara, hal tersebut masih diperbolehkan. Akan tetapi itu hanya sebatas kontrak sewa menyewa kendaraan saja, dan tidak lantas mengklaim perusahaan Taksi Bosowa sebagai pendukung mereka. Apalagi sampai saat ini, belum ada permintaan penyewaan kendaraan taksi eksekutif dari partai politik peserta Pemilu.
“Saat ini jumlah kendaraan yang dimiliki Taksi Bosowa untuk wilayah operasional Makassar adalah sebanyak enam ratus unit untuk jenis taksi reguler, dan 20 unit untuk taksi eksekutif,” ujar Melisa.
Di luar pembahasan mengenai penyewaan kendaraan untuk kebutuhan kampanye dan Pemilu, bisnis taksi di Makassar berjalan cukup kencang. Ketua Asosiasi Pengusaha Taksi Makassar, Burhanuddin, mengatakan dari 12 operator taksi yang sudah ada, total unit taksi yang beroperasikan berjumlah sekitar 1.100 unit. Sedangkan kuota yang diberikan oleh pemerintah sebanyak 2.100 unit.
Di tengah gempuran masuknya mobil murah yang diperkirakan mencapai 2.500 unit per bulan di Makassar, serta semakin mudahnya orang memiliki kendaraan, Burhanuddin tetap optimis tidak akan mempengaruhi jalannya bisnis taksi. Sarana transportasi taksi memiliki segmen konsumen tersendiri. Bandara yang semakin diperluas, trafik kunjungan penerbangan meningkat, pertumbuhan hotel yang semakin banyak, menjadi indikator jika taksi akan semakin dibutuhkan.
Saat ini masih terjadi keterbatasan jumlah unit kendaraan taksi yang belum mencapai kuota yang telah ditetapkan. Adanya keterbatasan ini, karena 12 unit operator tersebut belum memiliki kemampuan untuk pengadaan armada sesuai izin yang telah dikeluarkan. Banyak faktor yang menyebabkan kuota belum terpenuhi, termasuk peremajaan kendaraan. Apalagi harga mobil makin tinggi dibanding pendapatan yang diterima. Belum lagi bunga bank yang juga semakin tinggi. Sementara pengusaha taksi banyak yang mengandalkan pembiyaan modal dari kredit perbankan.
Berita gembira datang dari operator taksi ternama di Indonesia, PT Blue Bird Group yang rencananya akan mengoperasikan sekitar 500-an unit taksi di Makassar pada Mei mendatang. Meskipun masih menyusun regulasi yang akan diterapkan di Sulsel, Blue Bird nantinya bakal diarahkan tidak hanya fokus melayani rute di Makassar saja, namun diintegrasikan dengan pengembangan kawasan Mamminasata yakni Makassar, Maros, Gowa, dan Takalar.
Terkait adanya isu penolakan dari asosiasi taksi, Head of Public Relation Blue Bird, Teguh Wijayanto, berharap semua bisa dibicarakan secara baik-baik. Seperti diketahui Blue Bird direncanakan akan melakukan ekspansi di Makassar dengan komitmen investasi mencapai Rp 500 miliar. Sebelum memutuskan ekspansi ke Makassar, Teguh mengklaim perusahaannya telah melakukan serangkaian kajian terkait kebutuhan transportasi. (Yusuf A/blogkatahatiku.blogspot.com)