13 April 2014

MAINAN LOKAL, ANTARA PROYEKSI DAN PROTEKSI

Foto: Effendy Wongso
Meskipun komoditas mainan anak sangat menjanjikan di Indonesia, namun bisnis ini masih dikuasai produk-produk impor, khususnya dari Tiongkok. Hal ini dapat dapat terjadi lantaran pasar mainan anak belum digarap secara optimal oleh industri mainan di Indonesia.
Meningkatnya permintaan mainan anak atas populasi anak-anak yang bertambah, memang belum digarap maksimal oleh pelaku industri mainan domestik, sehingga pasar tersebut diisi oleh produk impor dari Tiongkok yang terkenal berharga murah. Selama ini, sebagian besar industri mainan di dalam negeri dipasok untuk memenuhi pesanan dari merek terkenal di luar negeri, apalagi mainan tersebut jauh dari unsur edukasi.
Menyoroti banjirnya produk Tiongkok disinyalir banyak yang tak memenuhi standar keselamatan dan kesehatan bagi konsumen anak-anak, seyogianya pemerintah dapat melakukan proteksi bagi importir di dalam negeri.
Seharusnya, ada pembatasan-pembatasan terhadap produk dari luar negeri. Regulasi di Indonesia terlalu bebas dan longgar terhadap produk impor. Salah satunya, mainan untuk anak-anak dan remaja. Ini pulalah yang buat daya saing industri mainan lokal menjadi lemah.
Padahal, aturan importasi juga diperlukan untuk membangkitkan pertumbuhan produksi domestik, sebab selama ini produk mainan anak Indonesia lebih fokus terhadap mainan tradisional. Bukan pada mainan yang mengikuti perkembangan teknologi modern.
Dengan diberlakukannya aturan importasi, maka dinilai bisa menurunkan impor mainan dari Tiongkok yang saat ini mendominasi pasar mainan nasional. Bahkan, beleid ini sebagai upaya proteksi atas keselamatan dan kesehatan anak-anak itu sendiri. Adanya aturan akan memperjelas aman atau tidaknya mainan impor tersebut. Secara ekonomi pula, aturan importasi mainan akan memberikan dampak insentif untuk pertumbuhan industri mainan dalam negeri.
Motivasi untuk menumbuhkan minat terhadap pasar domestik diperlukan mengingat potensi komoditas mainan anak di Indonesia cukup besar, paling tidak bila dibandingkan dengan pasar di Asia Tenggara. Hal ini didukung dengan pertumbuhan jumlah penduduk, ekonomi, dan kebutuhan mainan dalam negeri. Jika ada insentif, kreativitas dalam membuat mainan yang modern akan terus tumbuh. Apalagi, pasar dalam negeri masih sangat besar. Untuk itulah, pasar domestik seharusnya jangan sampai dikuasai pemain luar.
Kebutuhan pasar domestik di tengah derasnya impor mainan dari luar, terutama terjadi setelah ada kesepakatan pasar bebas Asean dan Tiongkok memang cukup signifikan. Asosiasi Industri Mainan Indonesia (APMI) menyebut, ada negara yang menerapkan standar keamanan yang ketat seperti negara maju, tetapi ada juga yang tidak terlalu ketat seperti di Asia dan Afrika sehingga menjadi pasar “empuk” mainan-mainan yang layak.
Memang, pasar mainan anak di Indonesia sudah terlanjur dikuasai produk impor dari Tiongkok, yang harganya sangat murah dibandingkan produksi lokal. Akan tetapi hal ini bukan menjadi alasan untuk melakukan proteksi maupun pembatasan impor secara ketat demi memajukan industri mainan lokal. (blogkatahatiku.blogspot.com)