13 April 2014

DUNIA ANAK DULANG OMSET BESAR

Foto: Effendy Wongso
Dunia anak yang identik dengan keceriaan, menyimpan potensi pasar yang potensial bagi sejumlah perusahaan. Serangkaian produk dan layanan jasa pun sengaja diciptakan untuk mendulang omset.
Anak merupakan pasar yang unik. Unik karena uang yang mereka belanjakan sering kali bukan uang mereka sendiri, tetapi mereka memiliki kekuatan beli yang besar. Menurut pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Sulsel bagian Kompartemen, dr Zainal Abidin Zain, anak-anak adalah calon konsumen masa depan. Itu sebabnya sangat tepat bagi sebuah perusahaan, menanamkan brand mereka ke anak-anak, dengan harapan berkelanjutkan hingga nanti tumbuh dewasa.
Jumlah anak-anak di Kota Makassar, jelas Zainal, minimal dua kali lebih banyak dari pasar orang dewasa. Meskipun kemampuan daya beli rendah karena belum bekerja, terkadang apapun permintaan anak, akan diberikan orang tua demi menunjukkan rasa sayangnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar pada segmen anak di Indonesia menunjukkan perkembangan menakjubkan. Hasil studi sebuah lembaga riset bidang pemasaran di Indonesia, Frontier Marketing and Research Consultant (FMRC), menunjukkan pasar anak-anak Indonesia bernilai Rp 5 triliun.
Kesimpulan tersebut berdasarkan survei terhadap 2.500 responden anak dan 1.500 responden ibu. Survei mencakup 20 kategori produk yang biasa dikonsumsi anak-anak, seperti, permen, coklat, biskuit, camilan, kacang, es krim, sepatu, hingga obat-obatan.
Pertumbuhan produk baru untuk anak-anak juga lebih tinggi dibandingkan produk untuk remaja dan orang dewasa. Jumlahnya cukup mencengangkan, sekitar 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan relatif terhadap merek untuk segmen remaja.
Saat ini beberapa perusahaan nasional maupun internasional sudah unjuk aksi, dengan membidik anak-anak sebagai pasar potensial. Sebut saja produsen tablet Cina Movimax yang sedang gencar memasarkan tablet Android untuk anak-anak dengan harga Rp 1 juta. Jauh sebelum pasar Informasi Teknologi (IT) booming di Indonesia, beberapa produsen vitamin suplemen sudah memulai menggarap segmen anak.
Langkah perusahaan-perusahaan raksasa berlabel nasional dan internasional tersebut, wujud diferensiasi produk untuk anak-anak. Itu wajar bahkan harus dilakukan, untuk lebih memudahkan merek mereka tertanam dalam otak anak-anak, sebagai potensi pasar di masa depan, saat anak-anak sudah menjadi dewasa.
Strategi menggarap pasar anak berbeda dengan dewasa. Secara kognitif, anak belum memiliki kemampuan memroses informasi dengan benar. Karena perkembangan otak anak belum seperti orang dewasa. Anak biasanya bersifat impulsif atau spontan. Jadi, tahap-tahapnya tidak lagi belief-evaluation-behaviour, tetapi langsung behaviour. Biasanya untuk produk-produk yang memiliki tingkat risiko tinggi, pendapat anak hanya ada pada tahap awal. Tetapi untuk produk yang tidak memiliki risiko seperti makanan ringan, peranan anak akan lebih dominan.
Meskipun potensi pasar anak sangat besar, tetapi Zainal melihat masih sedikit pengusaha yang merespons. Pertimbangannya adalah mereka masih ingin fokus mengembangkan usaha yang telah berjalan. Selain itu masih banyak juga pengusaha yang belum jeli melihat peluang besar di segmen pasar anak-anak. “Hanya pengusaha yang jeli melihat peluang, yang mengambil anak-anak sebagai segmen pasar.
Kesinambungan usaha untuk jangka waktu lama bisa digapai, jika pengusaha mau serius menggarap pasar tersebut sejak awal,” terang Zainal. (Yusuf A/blogkatahatiku.blogspot.com)