09 April 2014

BERBURU WESTERN CULINARY DI PECINAN

Foto: Effendy Wongso
Bosan dengan masakan oriental atau Chinese food, dan ingin mencoba kuliner dengan sensasi baru di daerah pecinan Makassar? Kenapa tidak ke Bistropolis? Berdiri secara independen atau non franchise di Jalan Hasanuddin, Makassar, Bistropolis terbilang kafe dan resto unik lantaran mengusung makanan khas original Western.
Adapun konsep rustic yang menjadi ornamen ataupun gestur ruangan merupakan salah satu atmosfer lain yang menambah daya tarik pecinta kuliner untuk berkunjung ke tempat “hangout” tersebut. Bistropolis yang launching pada Jumat, 15 November 2013 lalu, mendapat apresiasi yang baik dari penikmat makanan Barat di Kota Daeng. Kehadiran resto milik pengusaha Richard Halim ini, menambah khazanah dunia kuliner di Makassar, khususnya di daerah pecinan kawasan Somba Opu-Hasanuddin.
“Konsep rustic itu sedikit antik dan kuno, tetapi tetap elegan sesuai konsep Bistropolis. Nah, kalau Anda lihat konsep ruangan kami yang berdinding tekstur batu bata, atasan (dinding atas) tanpa plafon sehingga tampak transparan, ini sengaja kami lakukan agar pengunjung merasa lebih homey (rumahan) seperti di rumah sendiri,” ungkap Restaurant Manager Bistropolis, Kurniadi Sudibyo, Sabtu (5/4/2012).
Dijelaskan, selain sebagai tempat bersantai yang representatif, kafe dan resto yang menyasar segmentasi middle-up ini hadir untuk meramaikan tempat dan tongkrongan baru bagi masyarakat Makassar.
“Bistropolis menjadi salah satu pelopor kafe dan resto yang menggabungkan tiga konsep leisure, di mana family (keluarga), anak-anak muda, dan profesional dapat berkumpul menikmati menu khas Western atau sekadar kongkow untuk bersantai bersama relasi bisnis mereka,” ungkapnya.
Sebelumya, ayah satu anak ini mengatakan, selama ini konsep “bistro” lebih banyak berkembang di kota-kota besar pusat kuliner seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Namun, khusus di Makassar, Bistropolis menjadi salah satu resto pelopor yang menggabungkan kitchen (dapur), restoran, dan bar sekaligus dalam satu ruangan.
Pria kelahiran Jakarta, 18 Oktober 1976 ini memaparkan, ruangan Bistropolis mampu memuat kurang lebih 100 pengunjung. Sementara komponen penunjang seperti penerangan di dalam kafe dan resto ini, dijejeri lampu hias konvensional didukung tampilan furniture kayu bernuansa klasik.
“Meja dan kursi memang sengaja kami datangkan dari Singapura dan Hongkong. Sebagian ornamen kami datangkan dari Bali, Surabaya, dan Jakarta. Konsep (rumahan) ini sengaja kami bikin agar dapat membuat pengunjung betah dan bisa berlama-lama di dalam restoran. Apalagi, kami juga menyediakan wifi yang dapat diakses gratis oleh pengunjung,” ujarnya.
Dengan mengedepankan ciri tongkrongan unik yang mengusung aneka sajian kuliner Barat, Kurniadi menyebut penggemar menu ini tak perlu repot keluar daerah sekadar mencicipi makanan Eropa.
“Bistropolis adalah salah satu referensi, sebab beragam menu yang kami hadirkan hampir tidak bisa ditemui di kafe dan resto lain. Selain itu, kami memiliki ciri khas tersendiri, terutama dalam hal konsep (ruangan),” bebernya.
Menu Western dipilih, imbuh Kurniadi lantaran masyarakat Makassar kini semakin maju dan berkembang, terutama dalam tren selera lidah. Oleh karena itu, beberapa alternatif menu Barat yang disiapkan Bistropolis mengutamakan “original taste”.
Terkait iklim kompetitif yang kian ketat di usaha kafe dan resto ataupun kuliner sejenis, Kurniadi mengatakan pihaknya tetap berkomitmen menyuguhkan hal terbaik bagi pelanggan. “Selain tetap menyajikan menu-menu andalan seperti Aragosta dan BBQ Short Ribs (original Western culinary), kami juga mengedepankan pelayanan yang baik. Ini juga sejalan dengan visi manajemen Bistropolis yang ingin menjadi trend-setter kafe dan resto di Makassar,” tutur pria yang pernah bekerja di Hotel Hilton International dan Crown Plaza di Jakarta ini.
Sejauh ini, menelisik pendapatan dari hasil konsumsi di Bistropolis, pria yang hobi outdoor activity seperti hiking dan motorcycle touring ini mengungkapkan bahwa one person atau setiap per kepala (pengunjung) dapat menghabiskan minimal Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.
“Price menu kami berkisar Rp 30 ribu hingga Rp 250 ribu per item. Sejauh ini, gambaran yang sudah kami dapat, tiap satu orang konsumen minimal menghabiskan Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu sekali makan,” tandasnya. (blogkatahatiku.blogspot.com)