02 April 2014

BARONGSAI, TARIAN SINGA TIONGHOA YANG DICEKAL ORDE BARU

Foto: Effendy Wongso
Barongsai adalah tarian tradisional asal Tiongkok dengan pemain yang menggunakan kostum menyerupai singa. Ihwal barongsai merunut pada sejarah ribuan tahun, di mana catatan pertama tentang tarian ini dapat ditelusuri pada masa Dinasti Ching yang berkuasa di Tiongkok sekitar abad ketiga sebelum Masehi.
Kesenian barongsai mulai populer di zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) pada tahun 420-589 Masehi. Kala itu pasukan dari Kaisar Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah Kaisar Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan manekin singa untuk mengusir pasukan Kaisar Fan tersebut. Ternyata upaya itu berhasil sehingga tarian barongsai akhirnya melegenda hingga sekarang.
Tarian Singa terdiri dari dua jenis yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat. Penampilan Singa Utara kelihatan lebih natural dan mirip singa ketimbang Singa Selatan yang memiliki sisik serta jumlah kaki yang bervariasi antara dua atau empat. Kepala Singa Selatan dilengkapi dengan tanduk sehingga kadang menyerupai seekor hewan aneh dalam mitologi Tiongkok yang kerap disebut “Kilin”.
Gerakan antara Singa Utara dan Singa Selatan juga berbeda. Bila Singa Selatan terkenal dengan gerakan kepalanya yang keras dan melonjak-lonjak seiring tabuhan gong dan tambur, maka gerakan Singa Utara cenderung lebih lincah dan penuh dinamika karena memiliki empat kaki.
Secara umum, gerakan utama tarian barongsai sama saja, di mana keduanya melakukan gerakan menerkam kertas angpau berisi uang yang disebut dengan istilah “Lay See”. Di atas angpau tersebut biasanya ditempeli sayuran selada air yang melambangkan hadiah bagi sang Singa. Proses memakan Lay See ini berlangsung sekitar separuh bagian dari seluruh tarian Singa.
Kesenian barongsai diperkirakan masuk di Nusantara pada abad ke-17, ketika terjadi migrasi besar orang Tionghoa dari Tiongkok Selatan. Barongsai di Indonesia mengalami perkembangan pesat ketika masih terdapat perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan. Setiap perkumpulan Tiong Hoa Hwe Koan di berbagai daerah di Indonesia hampir dipastikan memiliki sebuah perkumpulan barongsai.
Perkembangan barongsai kemudian berhenti pada 1965 setelah meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Karena situasi politik yang tidak kondusif pada waktu itu, segala macam bentuk kebudayaan Tionghoa di Indonesia pada Orde Baru dicekal dan dibungkam. Barongsai yang merupakan salah satu kebudayaan Tionghoa pun diberangus dan tidak boleh dimainkan lagi.
Namun perubahan situasi politik yang terjadi di Indonesia setelah reformasi di 1998, membangkitkan kembali kesenian barongsai dan kebudayaan Tionghoa lainnya. Banyak perkumpulan barongsai kembali bermunculan. Berbeda dengan zaman dulu, sekarang tak hanya kaum muda Tionghoa yang memainkan barongsai, tetapi saat ini bahkan lebih banyak dimainkan suku non Tionghoa. (blogkatahatiku.blogspot.com)