02 April 2014

80 PERSEN PEMAIN BARONGSAI NON TIONGHOA

SYAHRIR
Sekretaris Persobarin Sulsel

Foto: Effendy Wongso
Apresiasi pelaku olahraga terhadap barongsai sudah ditunjukkan Persatuan Seni Olahraga Barongsai Indonesia dengan menggelar berbagai perhelatan seperti kejuaraan barongsai, baik tingkat nasional maupun internasional. Di Makassar, Persobarin Sulsel bersama pihak pengelola Mall GTC, sejak 2005 lalu telah mengadakan acara bertajuk Kejuaraan Nasional Barongsai Celebes Open. Kegiatan dimaksudkan untuk melahirkan bibit andal olahragawan dari cabang barongsai.
Hal itu diungkapkan Sekretaris Persobarin Sulsel, Syahrir saat ditemui di sela Kejuaraan Nasional Barongsai Celebes Open 2014 di Mall GTC, Jalan Metro Tanjung Bunga, Makassar, Minggu (30/3/2014)
Menurut pengusaha ekspedisi ini, kegiatan yang dilakukan pihaknya mendapat sokongan KONI Sulsel agar nantinya cabang yang baru pertama kali akan dipertandingkan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat ini bisa menyumbangkan medali.
“Persiapan dari tahun ke tahun kami lakukan sebaik mungkin. Tahun ini, persiapan yang kami lakukan lebih matang. Ini bisa dilihat dari partisipasi peserta yang mengikuti kejuaraan barongsai. Tahun lalu peserta hanya diikuti 12 tim, namun tahun ini diikuti 16 tim. Sebenarnya ada 18 tim, tetapi dua tim mengalami cedera sehingga membatalkan keikutsertaan mereka,” jelas Syahrir.
Pria kelahiran Tanjungbalai, Sumatera Utara, 9 Juni 1975 ini menambahkan, dengan dimasukkannya barongsai sebagai salah satu cabang olahraga di PON, pihaknya mengupayakan tim-tim barongsai Sulsel berlatih sekeras mungkin agar dapat berkompetisi dengan tim barongsai dari daerah lain.
Syahrir menyebut, beberapa tim barongsai Sulsel sudah menunjukkan performa gemilang, di mana salah satu tim barongsai Sulsel, Naga Langit, meraih juara harapan satu dalam kejuaraan barongsai tingkat internasional di Jakarta tahun lalu.
Suami Juliana Kurnia ini memaparkan, perkembangan barongsai sudah sangat maju, tidak lagi sekadar atraksi seni seperti saat masuk pertama kali di Nusantara pada abad ke-17 yang dibawa oleh orang Tionghoa dari Tiongkok.
“Saat ini barongsai sudah dimainkan semua kalangan, tak hanya dari etnik Tionghoa, tetapi semua suku yang ada di Indonesia. Dari pemantauan kami (Persobarin), daerah-daerah yang kami telusuri seperti Jakarta, Surabaya, dan Makassar, rata-rata pemain barongsai, bahkan 80 persen dimainkan kalangan non Tionghoa,” ungkap ayah Santika Vimala Gani ini.
Untuk itulah, pria yang lahir di bawah naungan shio Kelinci ini berharap semua pihak dapat mendukung pengembangan olahraga barongsai ini sehingga dapat berkiprah lebih baik di kancah nasional maupun internasional. (blogkatahatiku.blogspot.com)