10 March 2014

TEDUHKU SIRNA

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Teduhku sirna
rambun tak lagi indah
dalam repihnya yang mikro

Gigil yang ia tinggalkan
beradu dalam cumbu malam
tiap sebentar
jendela debum
oleh angin yang marah

Di manakah kau,
rani yang pernah bersemayam di hati?
bukankah litani yang kau janji
adalah patri dua hati
seperti dua merpati di swargaloka

Duh, sepenggal kisah ini
adalah luka berbulir landung air mata
: di sini cintaku hampa
seperti hati yang kopong tanpa jiwa