05 March 2014

TAK ADA YANG SEMPURNA KECUALI CINTA

Oleh Weni Lauwdy Ratana

Ulurkan tanganmu, gapai hati yang dirundung sunyi....

Jentera kehidupan terus berputar
ada benderang dan gulita seiring bagai bayang-bayang
sunyi hati adalah giris, senandung bagai kopong
tak bermakna apa-apa,
di dalam elegi tak bernama

Anominitas biru
liuk lafaz nan beriak sendu
adalah engkau yang dirundung lara
: meski kutahu persis
Air matamu telah mengering
pandemik adalah eradiksi cinta nan mati

Satu per satu menjauh
kau terkucil bagai penjara
ranah tak lagi indah dalam kerontang
: tak ada embun sebagai kawan
dan sahabat adalah merpati yang menyingkir

Ruang dan waktu menyempit
di dalam ruap renjana dadamu,
bunga cinta telah layuk menyusur tanah
tak lagi indah dalam binar durja
Tak ada reaktif yang mampu menggerakkan tangan
tak ada ikrar yang mampu membuka nurani
dan mengusir rangda kelam hati pada insan
tak ada yang mampu
tak ada yang sempurna
kecuali cinta

Inilah cinta, sahabat
dalam uluran tangan
dalam ikhlas hati
: sebab kau, ODHA dan repertum HIV/AIDS
bukanlah majas rana
yang mesti terkungkung tirai gawir

Dekaplah tubuhku
dan jatuhkan kepalamu di bahuku
tumpahkan air mata dan dukamu
agar ringan melangkah di sisa harimu....